Kejayaan Barata yang Sirna di Surabaya

Oleh Mahpudi, MT

412

Catatan Redaksi:

Dalam catatan Incognito Pak Harto seri ke-31 yang kami turunkan ini, Redaksi Cendana News  selain menurunkan sejumlah tulisan dan liputan berbagai acara, juga menampilkan berbagai aktivitas. Salah satunya, catatan ekspedisi Incognito Pak Harto pada 2012.

Ekspedisi dilakukan oleh sebuah tim dari YHK, terdiri dari Mahpudi (penulis), Bakarudin (jurnalis), Lutfi (filatelis), Gunawan (kurator museum), serta salah satu saksi sejarah peristiwa itu, yaitu Subianto (teknisi kendaraan pada saat incognito dilaksanakan).

Meski sudah cukup lampau ekspedisi itu dilakukan, dan hasilnya pun sudah diterbitkan dalam buku berjudul Incognito Pak Harto –Perjalanan Diam-diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) dan Incognito – The President Impromptu Visit (2013) serta Ekspedisi Incognito Pak Harto –Napak Tilas Perjalanan Diam-Diam Seorang Presiden Menemui Rakyatnya (2013) , namun hemat kami catatan ekspedisi yang ditulis oleh Mahpudi dalam beberapa bagian ini tetap menarik untuk disimak.

Sebab, seperti disimpulkan oleh penulisnya, peristiwa blusukan ala Pak Harto yang terjadi pada 1970, ini sangat patut dijadikan salah satu tonggak sejarah nasional Indonesia.

Selamat Membaca.

Kendaraan Hi-Ace yang ditumpangi Pak Harto dalam perjalanan Incognito tengah memasuki kota Surabaya pada 25 Juli 1970 tanpa menarik perhatian warga yang tengah beraktivitas pagi. Sumber Foto: Museum Purna Bhakti Pertiwi

Setelah usai mengunjungi Petrokimia Gresik, keesokan harinya, pada 25 Juli 1970, Pak Harto menyempatkan berfoto bersama dengan keluarga pegawai proyek Petrokimia Gresik, sebelum melanjutkan perjalanan ke Surabaya.

Ketika memasuki kota, penampilan kendaraan Hi-Ace yang ditumpangi Pak Harto begitu sederhana, sehingga masyarakat tak menyangka, penumpang di dalamnya adalah Presiden mereka.

Lalu, rombongan incognito Pak Harto mengarah ke Ngagel. Tujuannya ke lokasi pabrik mesin-mesin berat, yang saat itu bernama PN Barata. Rintisan perusahaan tersebut dimulai sejak masa Hindia Belanda, dengan nama NV Braat Machinefabriek.

Saat itu, perusahaan yang berdiri pada 1924, membuat mesin-mesin bagi keperluan pabrik-pabrik gula di seluruh Jawa. Ketika Indonesia merdeka pada 1945, NV Braat mengalami nasionalisasi, sehingga akhirnya berubah menjadi PN Barata pada 1961.

Ketika Pemerintah Orde Baru berdiri, dengan fokus kepada pembangunan pertanian dan penguatan infrastruktur, PN Barata juga dipercaya untuk membuat sarana-sarana bagi keperluan pembangunan jalan, antara lain memproduksi stoom walls. Incognito yang dilakukan Pak Harto ke PN Barata, antara lain mencari tahu kemajuan proses produksi mesin-mesin ‘Selender” itu.

Stoom walls pesanan pemerintah yang dibuat di PN Barata-Ngagel. Sumber Foto: Museum Purna Bhakti Pertiwi

Kunjungan tersebut terekam dalam foto-foto dokumentasi yang dibawa Tim Ekspedisi Incognito Pak Harto, dan tiba di lokasi yang sama pada 6 Juni 2012.

Sayangnya, ketika tim tiba di lokasi pabrik Barata Ngagel, tak ada tanda-tanda aktivitas pabrik di sana. Padahal, sekembali dari incognito, Pak Harto kemudian melakukan penguatan pabrik ini dengan menyatukannya dengan dua pabrik sejenis, yakni PN Sabang Merauke dan PN Peprida menjadi PT Barata Indonesia pada 1971.

Penyatuan ini membuat langkah Barata semakin kencang, mengalami masa kejayaan, dan banyak menghasilkan produk-produk alat berat yang diperlukan dalam pembangunan infrastruktur di seluruh Indonesia.

Ketika tim kami tiba di sana, bangunan pabrik Barata ketika Pak Harto melakukan incognito,  sudah tak ada lagi. Hanya sedikit saja bangunan yang tersisa. Sebagai gantinya, kami hanya mendapati bangunan besar tak terurus. Sebagian lagi malah berubah menjadi arena futsal.

Deni, kameraman Tim Incognito Pak Harto 2012, berjalan melintas di depan Pabrik Barata-Ngagel, Surabaya yang sudah tidak digunakan lagi. -Foto: Ist.

Dari warga setempat yang kami ajak berbincang, diketahui bahwa sejak 2004, PT Barata Indonesia telah merelokasi pabrik itu dari Ngagel ke Gresik.

Baca Juga
Lihat juga...