hut

Keluarga Korban JT 610 Gugat Boeing

Ilustrasi pesawat Lion Air - Dok CDN

MEDAN – Keluarga korban kecelakaan pesawat Lion Air JT 610, melakukan gugatan hukum terhadap Perusahaan Boeing yang ada di Chicago, Amerika Serikat. Kuasa hukum korban, Manuel von Ribbeck, dari Ribbeck Law Chartered menyebut, selain gugatan hukum pertama yang diajukan minggu lalu, keluarga korban juga meminta ganti rugi dengan nilai ratusan juta dolar AS.

Manuel menyatakan, tidak ada alasan untuk menunggu laporan akhir investigasi untuk menggugat. Hal itu dikarenakan, proses investigasi bisa memakan waktu lama, hingga berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Sementara, laporan akhir investigasi, juga tidak akan menetapkan kewajiban. Keputusan siapa yang bersalah dalam kecelakaan itu, akan ditentukan oleh hakim atau juri di Amerika Serikat.

Manuel Von Ribbeck menyatakan, pesawat Boeing Max 8 dan manual penerbangan pesawatnya rusak dan berbahaya. Hal itulah yang diyakini, menjadi penyebab kecelakaan itu. “Lion Air hanyalah salah satu dari beberapa maskapai, yang telah membeli Boeing Max 8 yang relatif baru,” ungkapnya.

Pengacara lain dari Ribbeck Law Chartered, Deon Botha, menyatakan, pada 7 November 2018, Federal Aviation Administration (FAA), mengeluarkan Pedoman Kelayakan Darurat baru pada Boeing 737 Max. Pedoman diarahkan pada apa yang ditetapkan sebagai kondisi tidak aman, yang mungkin ada, atau berkembang di pesawat Boeing 737 Max lainnya. “Pesawat Boeing 737 Max 8 yang baru itu dirancang dan diproduksi di Amerika Serikat,” tandasnya.

Penyelidik telah fokus pada sistem kontrol penerbangan otomatis baru, pada Boeing 737 Max 8, yang tidak termasuk dalam versi 737 sebelumnya. Sistem kontrol penerbangan baru itu memiliki kemampuan yang bisa memperbaiki situasi.

Tetapi dalam kondisi yang dialami Boeing 737 Max 8, sistem mendorong hidung pesawat turun secara tidak terduga dan tidak dapat dikendalikan oleh awak pesawat. “Sebenarnya hal itu bisa diatasi kalau sebelumnya awak pesawat benar-benar diinstruksikan dan dilatih untuk menghadapi situasi seperti itu, yakni mengubah sistem secara manual untuk menghindari kecelakaan,” tambahnya.

Fitur otomatis itu dapat digunakan, bahkan ketika pilot sedang menerbangkan pesawat secara manual, dan tidak mengharapkan campur tangan komputer kontrol penerbangan. Menurut laporan di Wall Street Journal, New York Times, dan media lainnya, Boeing menahan informasi tentang potensi bahaya yang terkait dengan sistem kontrol penerbangan baru itu.

Regulator penerbangan AS telah meluncurkan tinjauan prioritas tinggi, terhadap analisis keselamatan yang dilakukan Boeing selama bertahun-tahun. Dan informasi yang dihasilkan, tidak diungkapkan kepada maskapai penerbangan, tentang sistem kontrol penerbangan baru tersebut. Dia menegaskan, Ribbeck Law Chartered yang merupakan firma hukum litigasi global yang berkonsentrasi pada bencana penerbangan di seluruh dunia, telah mewakili klien lebih dari 73 negara dan 47 kecelakaan pesawat. (Ant)

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

»
escort99.com