hut

Keragaman Perspektif dalam Festival Teater Jakarta 2018

Editor: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dengan dukungan Dinas Pariwisata dan Budaya Provinsi DKI Jakarta menggelar Festival Teater Jakarta (FTJ) 2018 di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.

15 grup teater telah tampil di FTJ 2018, yakni Teater Tema Gunadarma, Lab Aktor Jakarta, Teater Matahari Hujan, Teater Jannien, Sindikat Aktor Jakarta, Teater Marooned, Actor Society, Teater Lebah, Teater Petra, Teater Karakter, Teater Semut UNSADA, Sanggar Teater Jerit, Pandu Teater, Teater Nusantara, Sanggar Teater Biru, dan Teater Hijrah.

Untuk itu, Benny Yohanes, sebagai Ketua Dewan Juri Festival Teater Jakarta 2018, memberi evaluasi pementasan, yang penuh keragaman perspektif dalam Festival Teater Jakarta (FTJ) 2018 karena bahan baku naskah, kelasnya berbeda-beda.

“Yang mau saya soroti pertama, festival ini sebetulnya punya risiko tersendiri karena bahan baku yang digunakan teman-teman pada setiap grup teater, kelasnya berbeda-beda, “ kata Benny Yohanes, Ketua Dewan Juri Festival Teater Jakarta 2018, dalam acara evaluasi pementasan, di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (28/11/2018).

Benny membeberkan, karena ada naskah berat yang mendunia seperti di antaranya ‘End Game’ yang dipentaskan Sindikat Aktor Teater.

“Naskah yang memberikan semacam tanggung jawab, bahwa kalau kita menafsirkan naskah itu, tafsir kita dibatasi oleh keterikatan referensial. Ketika pendahulu-pendahulu teater kita sudah melakukan pembacaan lebih dulu,” bebernya.

Contohnya, lanjut Benny, seperti Teater Lembaga Wahyu Sihombing, sudah pernah mementaskan.

“Sebelumnya, Bengkel Teater Rendra juga sudah mementaskan naskah itu. Jadi naskah-naskah seperti End Game’ dijadikan semacam legitimasi tentang wilayah-wilayah kontemporer yang mau diekspresikan dalam kreativitas pementasan,” ungkapnya.

Menurut Benny, di sisi lain ada naskah-naskah yang memang sudah diakui sebagai naskah klasik Indonesia, seperti Malam Jahanam.

“Itu kelihatan semacam naskah yang bukan karena dorongan nasionalisme. Tapi karena naskah itu memberikan jawaban atas konsep efisiensi penggarapan. Karena pemainnya sedikit dan persoalannya juga gampang diikuti, serta tafsirnya tidak terlalu banyak membutuhkan referensi komprehensif, “ terangnya.

Kemudian, ada juga yang disebut karya-karya baru yang ditulis penulis zaman sekarang.

“Karya-karya baru itu wajahnya bisa jadi dua, yaitu mungkin menjadi naskah yang bisa memberikan inspirasi munculnya pemikiran kreatif. Tapi bisa juga di sisi lain, memiliki batas-batas tersendiri karena belum teruji secara publik,” tegasnya.

Bahan baku naskah yang beragam, penjuriannya tidak seobyektif mungkin.

“Karena pembacaan kami memiliki risiko-risiko tersendiri,” tandasnya.

Lihat juga...