Khazanah Budaya Pasundan Tersaji di TMII

Editor: Satmoko Budi Santoso

182

JAKARTA – Memasuki Anjungan Jawa Barat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pengunjung akan melalui gerbang Kujang. Dengan hamparan taman nan sejuk, mata pengunjung juga akan terfokus pada bangunan Gong Perdamaian Nusantara (GPN), yang diresmikan oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, Deddy Mizwar, pada 20 Desember 2015.

Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Barat, Wawan Suwandi, menjelaskan, Kujang adalah senjata tradisional Jawa Barat, sedangkan Gong Perdamaian Nusantara sesuai pembukaan UUD 1945. Yakni mencintai kemerdekaan dengan perdamaian sebagai dasar berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

GPN ditampilkan di area ini, menurutnya, karena Jawa Barat dipilih sebagai representasi perdamaian dan kerukunan baik antarbangsa, agama, etnis, suku dan sebagainya.

Jawa Barat juga mewakili hampir 27 persen dari penduduk Indonesia yang tercatat 250 juta jiwa. Jadi menurutnya, hampir 50 juta penduduk Indonesia ada di Jawa Barat. Dengan jumlah penduduk sebesar itu, Jawa Barat selalu kondusif, tidak pernah ada riak-riak SARA.

“GPN adalah amanah, bahwa Jawa Barat harus betul-betul menunjukkan sebagai provinsi yang kondusif, yang ramah untuk semua bangsa, agama, etnis dan komunitas. Jawa Barat harus jadi rumah bersama semua elemen bangsa,” kata Wawan kepada Cendana News, Sabtu (10/11/2018).

Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Barat, Wawan Suwandi. Foto : Sri Sugiarti.

Terkait anjungan, Wawan menjelaskan, anjungan Jawa Barat TMII ini dibangun atas restu Gubernur Jawa Barat, Solihin G.P bekerjasama dengan PT. Jawa Barat Mini dan PT. Alexlodge. Pada tanggal 17 April 1975, anjungan ini diresmikan oleh pejabat Gubernur Jawa Barat, A. Kunaefi.

“Anjungan Jawa Barat juga diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 17 April 1975. Anjungan ini ada di TMII, atas ide cemerlang Ibu Negara, Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Tien Soeharto, yang ingin menjaga persatuan dan melestarikan budaya bangsa,” ungkapnya.

Dalam upaya untuk memperkenalkan potensi Jawa Barat kepada masyarakat Indonesia dan mancanegara, pemerintah Provinsi Jawa Barat menjadikan anjungan ini sebagai pusat pengenalan, pelestarian, pengembangan, pelayanan, dan informasi seni budaya maupun wisata Jawa Barat.

Anjungan ini dibangun dengan mengambil bentuk Keraton Kasepuhan Cirebon. Pemilihan bentuk bangunan ini menurutnya, dilatarbelakangi sejarah, bahwa Cirebon merupakan pusat pengembangan agama Islam pertama di Jawa Barat.

“Cirebon, sejarahnya dari Kesultanan Sunan Gunung Jati. Keraton Kasepuhan Cirebon ditampilkan di anjungan ini sebagai simbol kejayaan Jawa Barat. Hingga saat ini keraton ini masih ada di Cirebon,” kata Wawan.

Replika Keraton Kasepuhan Cirebon di Anjungan Jawa Barat TMII, Jakarta.foto : Sri Sugiarti.

Sehingga kalau pengunjung Anjungan Jawa Barat TMII ingin melihat secara konkret Keraton Kasepuhan Cirebon lengkap dengan prajurit dan demangnya, bisa langsung berkunjung ke Cirebon.

Karena, jelas dia, bangunan Keraton Kasepuhan Cirebon yang ditampilkan di Anjungan Jawa Barat TMII ini hanyalah sebuah replika. Peran anjungan juga sebagai etalase atau show window budaya.

“Kalau etalase kan hanya melihat replika bangunan. Kalau mau lihat aslinya kan berarti harus lihat ke Cirebon, ada Keraton Kasepuhan Cirebon di sana,” tandasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, bangunan induk anjungan Jawa Barat sesuai dengan bentuk aslinya disebut Keraton Pakungwati yang terdiri atas beberapa ruangan. Yaitu, Jinem Pangrawit, merupakan pelataran yang digunakan untuk tempat pameran aneka kerajinan tangan khas Jawa barat.

Aslinya, kata Wawan, Jinem Pangrawit ini adalah tempat berkumpulnya para pengawal kerajaan.

Bangsal Pringgondani, merupakan tempat diorama dan replika berbagai macam benda atau kerajinan tradisional yang menjadi ciri khas setiap kabupaten dan kota yang ada di wilayah Provinsi Jawa Barat. Aslinya, tempat ini untuk pertemuan antara sultan dengan bawahannya.

“Tapi di anjungan ini, Bangsal Pringgondani digunakan untuk pameran diorama ragam benda dan kerajinan tradisional khas Jawa Barat dari 27 kabupaten/kota,” ujarnya.

Seperti, sebut Wawan, kota Cirebon dengan ciri khas kain batik dan topeng. Kabupaten Kuningan dengan anyaman dan ukiran kayu. Kabupaten Majalengka, berupa rumah adat Panjalin dari Desa Panjalin, Sumber Jaya, Majalengka.

Ada pun Kabupaten Pangandaran, kerajinan tangan perahu layar dan ragam hasil laut. Kota Cimahi dengan kuliner rujak dan alat musik berupa gamelan dan gong. Sedangkan Kota Banjar, kerajinan kereta kencana dan miniatur dari besi serta anyaman bambu maupun rotan.

Kabupaten Ciamis dengan kerajinan tas kulit, anyaman bambu, kain batik, dan kesenian angklung. Kabupaten Tasikmalaya, menampilkan kerajinan tangan berupa kain, sepatu, sandal, dan lainnya. Sedangkan Kota Tasikmalaya dengan kain batik dan seni kaligrafi Islam.

Kabupaten Garut, menampilkan busana dari kulit, mulai dari jaket, sepatu, dompet, dan tas juga kain batik serta batu akik. Kabupaten Sumedang, dengan ukiran kayu dan ragam permainan anak-anak yang dibuat dari kayu.

Kabupaten Bandung Barat, tersaji kain batik dan ragam kerajinan tangan. Kabupaten Bandung, dengan ciri khas berupa Kujang yaitu senjata tradisional Jawa Barat, ragam keris pusaka, dan kerajinan tangan. Sedangkan Kota Bandung, ciri khasnya boneka cepot dan ragam kain batik serta kerajinan tangan.

Berlanjut ke Kabupaten Subang, menampilkan ragam ukiran kayu, peralatan rumah tangga, dan porselin. Kabupaten Purwakarta, porselin guci bermotif batik dan wayang golek. Kabupaten Karawang dengan ciri khas kerajinan anyaman dan seni tari.

Kota Bekasi dengan ciri khas berupa kerajinan tangan cinderamata. Kabupaten Bekasi, menyajikan cinderamata dari bahan kerang. Sedangkan Kabupaten Cianjur, kesenian wayang golek tokoh si cepot, kuliner kerupuk, seni angklung, dan kerajinan tangan berbahan kuningan.

Kota Depok, dengan kerajinan tangan berbentuk cinderamata. Kota Bogor dengan ciri khas kesenian musik, tari, dan wayang golek. Kabupaten Bogor, dengan kesenian angklung, kain batik, dan wayang golek si cepot.

Kota Sukabumi, berupa kerajinan tangan perhiasan dari emas, perak, kerang laut, dan lainnya. Kabupaten Sukabumi dengan kain batik dan hiasan-hiasan dari kerang laut, batuan laut, serta mutiara.

“Ruang Bangsal Pringgondani juga dipakai untuk latihan angklung Melodi Manis, yaitu komunitas ibu-ibu warga Jepang, setiap Selasa dan Jumat,” ujarnya.

Selanjutnya, Bangsal Panembahan. Ruangan ini berisi berbagai replika kesultanan berupa alat musik, senjata tradisional, dan diorama hewan buas harimau sebagai salah satu simbol kesultanan. Menurutnya, aslinya ruangan ini adalah untuk peristirahatan sultan di siang hari.

Masih satu bagian dengan ruangan ini, terdapat ruangan bernama Bangsal Prabayaksa. Di ruangan ini dipamerkan diorama pakaian adat dan peralatan kesenian angklung khas Jawa Barat, serta barang-barang pecah belah berupa porselin Tiongkok, India, dan Arab.

Aslinya, tempat ini merupakan tempat dimana sultan menerima para tamu agung.

Selain bangunan induk, tampil juga Ajeng. Bangunan ini tempat penyajian kesenian untuk menyambut tamu-tamu penting. Adapun Langgar Alit, dipergunakan untuk tempat beristirahat para pengunjung anjungan.

Sri Menganti, dipergunakan sebagai perpustakaan. Lunjuk, digunakan sebagai tempat untuk Kantor Kepala anjungan dan tata usaha. Rumah adat tradisional Jawa Barat, berbentuk panggung dengan dinding bambu atau bilik.

Jinem Arum, difungsikan sebagai kantin yang menyediakan kuliner khas Jawa Barat. Sedangkan Kaputren, berfungsi sebagai tempat untuk kantor promosi dan informasi.

Kaputren ini berada di pinggir danau arsipel di bagian belakang anjungan. Bangunan ini sebagai wisma bagi para seniman yang akan tampil di Anjungan Jawa Barat TMII.

Hadir juga kolam taman, tempat para pengunjung anjungan berfoto bersama. Panggung kesenian, tempat pementasan pergelaran kesenian daerah khas Jawa Barat.

Replika Batu Tulis Ciaruteun juga tersaji. In merupakan replika dari Prasasti Batu Tulis Ciaruteun di Desa Ciaruteun. Ada pun bangunan lainnya yaitu ruang rapat, musala, toilet, dan beberapa saung.

Wawan berharap, anjungan ini harus bisa jadi duta Jawa Barat, yang tidak hanya mempromosikan seni budaya. Tapi juga potensi-potensi lainnya, seperti pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata, dan infrastruktur.

“Ini harus dipromosikan di sini, karena fungsi anjungan TMII adalah untuk memperkenalkan provinsi yang ada di Indonesia. Melalui setiap provinsi yang diwakili oleh anjungan provinsi tersebut,” tutupnya.

Baca Juga
Lihat juga...