Kisah Difabel Rungu-Wicara Menginspirasi Sutradara Rere Art2tonic

274
Rere Art2tonic, sutradara dan penulis skenario film Namamu Kata Pertamaku - Foto: Akhmad Sekhu

JAKARTA — Sebuah film bisa terinspirasi dari apa saja yang bisa memantik daya kreativitas untuk kemudian mengembangkannya menjadi sesuatu yang benar-benar baru, bahkan akhirnya menjadi cerita yang tak terduga.

Demikian yang mengemuka dari film produksi Paramedia Indonesia berjudul ‘Namamu Kata Pertamaku’ yang ceritanya dari M Rizal Saputra dan kemudian dikembangkan Rere Art2tonic yang membuat skenario dan sekaligus menyutradarai filmnya.

“Banyak orang yang tanya sama saya, sebenarnya film ini kisah nyata apa bukan,“ beber Rere Art2tonic, sutradara dan penulis skenario seusai acara press screening film ‘Namamu Kata Pertamaku’ di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (27/11/2018) malam.

Syahrir Arsyad Dini, demikian nama lengkap Rere, menyatakan sebenarnya memang ada kejadian yang seperti ini. “Di suatu pulau ada anak kecil yang sering menyelam sejak bayi sehingga tuli dan tidak bisa bicara, dan kisah ending-nya persis dalam film ini,“ terangnya.

Rere tidak bilang bahwa film ini dari kisah nyata. “Karena kisah dalam film ini saya banyak mengeksplorasi dengan kreativitas saya sendiri. Jadi film ini terinspirasi kisah orang bisu bangun tengah malam mengaji dan kemudian mati dari cerita film pendek ‘Suara Hati’ yang kemudian saya kembangkan,“ ungkapnya.

Menurut Rere, kita semua harus menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin dalam kehidupan ini penuh dengan kemungkinan, kalau ada kemauan pasti ada jalan.

“Bagaimana si bisu yang diperankan Adipati Dolken itu berusaha meraih cinta dari Nila yang diperankan Rania Putrisari,“ bebernya.

Rere menganggap film ini multi feeling karena semua perasaan bisa terwakili dalam film ini.

“Film ini bisa membuat banyak twist yang tak disangka-sangka, Namamu Kata Pertamaku itu bukanlah nama dari seseorang, tapi nama wujud dari doa yang dikabulkan dari Tuhan Yang Maha Esa pada saat si bisu berdoa dan dikabulkan walaupun akhirnya kita tahu di akhir film si bisu menghembuskan nafas terakhir setelah berhasil menyebutkan nama pertama,“ paparnya.

Film ini, lanjut Rere, dibilang dakwah tidak, atau dibilang percintaan juga tidak, karena memang multi genre. “Film ini saking ringannya kita dapat menikmati sampai selesai tak terasa sudah habis cerita filmnya,” ujarnya.

Rere menyampaikan, banyak masyarakat menganggap kalau sinopsis film ini spoiler. “Tapi begitu melihat filmnya saya jamin kalau penonton kaget karena ending-nya benar-benar tak terduga,“ tegasnya.

Dalam film ini, Rere memuji akting Adipati Dolken luar basa yang begitu total sekali dan penuh penghayatan. “Adipati didampingi guru SLB untuk bisa bahasa isyarat yang namanya Pak Akbar, tapi sayangnya Akbar meninggal empat bulan lalu. Jadi tidak sempat melihat film ini,“ ungkapnya.

Rere berharap film ini mendapat sambutan baik dari masyarakat luas. “Menyaksikan film ini, kita dapat memetik banyak hikmah dalam peristiwa dan cerita di dalam film ini, bahwa film tak semata tontonan, tapi juga bisa menjadi tuntunan,“ tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...