Kita Bisa Membicarakan Apa Saja

CERPEN YETTI A. KA

293

“AKU baru pertama kali melihatmu di sini,” kata penjaga kafe pada seorang pengunjung yang duduk di seberang meja bar.

“Ya,” jawab Disi, “Susah payah aku menemukan kafe yang buka pada pukul sembilan pagi.”

Penjaga kafe terkekeh, “Mau minum apa?”

“Apa saja asal bukan kopi.”

“Kau sedang berada di sebuah coffee shop,” jelas penjaga kafe.

“Aku tahu,” kata Disi, “Tapi aku belum ingin minum kopi saat ini.”

Penjaga kafe memberikan daftar menu. Disi menyusuri nama-nama minuman dengan ujung telunjuknya—dan ia melewati bagian “coffee/kopi” yang ditulis dengan huruf tebal.

“Padahal, kami punya kopi spesial,” kata penjaga kafe.

“Spesial?” tanya Disi.

“Kopi lokal sini,” kata penjaga kafe.

Disi tersenyum sekilas. Penjaga kafe paham pengunjungnya itu tak terlalu berminat ingin tahu tentang sebuah perkebunan kopi arabika milik para petani di daerah perbukitan, berjarak sekitar 75 km dari pusat kota ini.

Kalau saja pengunjung kafenya sedikit tertarik, ia bisa menjelaskan aktivitas petani di sana. Dimulai dari melakukan pembibitan kopi, pemeliharaan, hingga pengolahan menjadi biji di musim panen.

Teknik pengolahan dari buah matang menjadi biji kopi dapat memberikan cita rasa berbeda-beda. Salah satunya menghadirkan sensasi buah-buahan tropis dalam segelas kopi panas yang menjadi menu andalan kafe ini.

“Ini saja,” Disi menunjuk tulisan Choco Delight.

Sayang sekali, pikir penjaga kafe, tak berdaya sambil mengambil kembali daftar menu. Tak ada harapan sama sekali bahwa ia akan punya kesempatan menjelaskan perihal kopi, padahal ia sudah belajar sangat serius dan tak sabar ingin mempraktikkannya—terutama kepada pengunjung dengan rasa ingin tahu yang besar atau memiliki kecenderungan senang menguji orang lain. Pengunjung pertamanya hari ini sama sekali tidak memiliki keduanya.

Cepat-cepat penjaga kafe berbalik dan membuatkan minuman yang diminta Disi.
Disi menunggu sambil memainkan rambut di sisi kanan kepalanya. Rambut sebahunya itu seharusnya dipotong minggu lalu, tapi malah tertunda terus, hingga ia tak punya waktu lagi untuk itu—atau, kalaupun ada, sudah tak penting.

“Kau sendirian?” tanya Disi.

“Begitulah,” kata penjaga kafe tanpa membalikkan badannya, “Kau lihat sendiri, kafe ini kecil sekali. Lihat saja, ukurannya hanya 3×4 meter.”

Disi mengedarkan pandangannya. Di atas pintu masuk, dipasang sebuah TV yang menayangkan film Barat. Terdapat pot tanaman kopi di dua sudut kafe. Lima buah foto bertema kopi ditempel di dinding.

Di pojok belakang sisi kanan, ada rak buku mini berisi majalah-majalah. Hanya ada dua meja dengan masing-masing empat kursi untuk pengunjung di ruangan ini—tentu selain tiga kursi berkaki tinggi yang menghadap langsung ke meja bar dan salah satunya diduduki Disi.

Penjaga kafe meletakkan segelas Choco Delight di hadapan Disi yang masih memperhatikan segala sesuatu di sekitarnya.

“Kau tidak kesepian?” tanya Disi tiba-tiba—lalu dengan cepat berkata lagi, “Aku pasti saja sedang tidak waras. Maaf. Maaf.” Disi merasa agak malu. Ia baru saja bertanya tentang sesuatu yang hanya mungkin ditanyakan kepada seorang teman atau paling tidak orang yang sudah dikenal.

Penjaga kafe tertawa dan kali ini ia menggeser badannya agar benar-benar berhadapan dan sejajar dengan Disi—si pengunjung kafe yang sudah tidak muda lagi, tapi jelas cantik dan terawat baik. Dari arah perempuan itu tercium aroma parfum yang tidak mungkin murah dan dijual di tempat sembarangan.

“Aku baru tiba tadi pagi di kota ini,” kata Disi.

“Aku tahu dari baumu. Ah, maaf,” kata penjaga kafe cepat, merasa kalau perkataannya agak lancang.

“Bau?” tanya Disi tertarik.

Ya, bau seseorang yang baru melakukan perjalanan jauh.

“Aku tidak tahu tentang itu,” kata Disi.

“Aku hanya bercanda,” kata penjaga kafe sambil memperhatikan tahi lalat di dekat mata kiri Disi. Hidung kecil Disi. Bibir merah muda Disi.

“Aku ingin marah,” kata Disi.

“Aku bersalah,” kata penjaga kafe sedikit menundukkan kepalanya, “Bukan padamu, tapi temanku.”

Penjaga kafe mengangkat kepalanya lagi dan matanya kembali melihat tahi lalat di dekat mata kiri Disi.

“Kau pernah ingin marah?” tanya Disi.

“Sering,” kata penjaga kafe.

“Apa yang kau lakukan kalau marah?” tanya Disi.

“Tidak melakukan apa-apa,” kata penjaga kafe.

“Hanya diam?”

“Hanya diam.”

“Bagaimana rasanya?”

“Dadaku seperti kena tendang terus-menerus.”

“Itu juga yang sering kulakukan.”

“Padahal kau tidak tampak seperti itu.”

“Dulu aku benar-benar begitu.”

Penjaga kafe mengalihkan matanya sesaat ke arah jalan. Pagi ini masih sepi. Sebenarnya sampai siang nanti pun tetap akan sepi. Kafe ini dibuka sebulan lalu. Pelanggannya baru sedikit sekali. Persaingan dengan coffee shop lain sangat keras. Apalagi ini hanya kafe kecil.

Namun, menjaga sebuah kafe merupakan pekerjaan yang sungguh-sungguh ia inginkan saat ini; berada di ruangan kecil dengan sepenuhnya bau kopi, setelah bertahun-tahun bekerja di kantor besar dan bergengsi yang nyatanya tak bisa membuatnya bahagia.

“Ngomong-ngomong, apa yang paling menyakitimu dalam hidup ini? Maaf, ini terdengar gila,” kata Disi tak menyangka dirinya akan sejauh ini.

“Perpisahan orang tuaku saat aku berumur lima tahun.”

Penjaga kafe itu terdiam sejenak. Ia kembali menatap tahi lalat di dekat mata kiri Disi. Entah kenapa tahi lalat itu memberinya rasa nyaman.

“Bagiku, itu bukan cinta yang bertanggung jawab,” lanjutnya, “Mereka tidak memikirkan aku.”

“Mungkin mereka sudah berusaha keras.”

“Mungkin, tapi aku tetap saja tidak bisa menerima. Kalau kau?”

“Teman baikku menikah dengan mantan suamiku.”

“Kau keberatan?”

“Lebih dari itu. Aku marah. Bukan kepada mantan suamiku—aku jelas tidak peduli lagi dengannya. Tapi, aku menyayangi temanku itu. Bagiku, itu seperti membiarkannya masuk ke dalam tempat yang salah,” Disi berhenti bicara.

Ia mengaduk-aduk minumannya dengan sendok kecil, menarik napas dan melepaskannya pelan-pelan. Lalu ia berkata lagi, “Sebenarnya—ini sejujur-jujurnya—aku masih peduli dengan mantan suamiku. Ia lelaki yang buruk, sangat buruk, tapi aku mencintainya. Aku cemburu kepada mereka. Aku tidak bisa menerima mereka hidup bersama, melewati masa-masa baik dan buruk, saling mencintai dan menyakiti.”

“Kau tidak harus mengatakan itu semua kepadaku. Bagaimana jika aku bukan orang yang dapat dipercaya?”

“Tidak masalah. Kita justru bisa membicarakan apa saja dengan orang yang tidak dikenal. Aku pernah mendengar nasihat yang mengatakan begitu.”

Penjaga kafe tersenyum. Kali ini ia mengamati sepasang mata Disi yang besar—dan rasanya inilah mata paling besar yang pernah ia lihat.

“Nasihat itu ada benarnya,” penjaga kafe berkata, “Aku juga merasa bisa membicarakan apa saja denganmu. Begini, selama ini aku tak memercayai siapa pun.”

“Namun, sekarang kupikir aku bisa percaya padamu. Kau tahu apa yang terjadi dengan ayah dan ibuku setelah mereka berpisah?”

“Mereka sama-sama menikah dengan orang lain?”

“Ibuku menikah dengan lelaki yang sepuluh tahun lebih muda darinya. Ia melahirkan seorang anak perempuan sebelum mereka memutuskan berpisah. Ibuku tidak berhenti di situ. Ia menikah lagi dengan lelaki yang lebih tua lima belas tahun darinya. Ibuku seseorang yang agak berantakan.”

Ia membutuhkan situasi itu. Berkali-kali ia mencoba menjelaskan itu kepadaku, tapi aku menolak untuk memahaminya. Aku benar-benar tidak paham dirinya. Itu yang membuat kami tidak lagi berhubungan hingga hari ini. Ayahku memilih hidup sendirian. Ia membeli sebuah rumah di perdesaan.

Ia banyak memancing dan bertanam sayuran. Ia menarik diri dari kehidupan ini. Ia tak memiliki keinginan lain. Sangat bertolak belakang dengan ibuku yang seolah tak berhenti menginginkan sesuatu. Aku juga menolak untuk memahami ayahku. Lalu bagaimana dengan temanmu itu sekarang?

Disi menghela napas berat. Ia mengangkat cangkir dan menyesap minuman di dalamnya. Rasa manis yang dominan bercampur pahit samar seketika memenuhi mulutnya.

“Dua hari lalu aku bertemu dengannya, juga dengan mantan suamiku, di sebuah vila yang dulu milikku,” kata Disi.

“Pasti berat,” kata penjaga kafe.

“Tentu,” kata Disi, “Tapi, aku bisa mengatasinya.”

“Tak ada masalah yang tak teratasi di dunia ini,” kata penjaga kafe. Ia kembali melihat tahi lalat di dekat mata kiri Disi, lalu juga mata besar perempuan itu. Lama-lama ia mengerti apa yang membuat pengunjung kafenya ini tampak cantik. Tentu saja mata besar dan tahi lalat itu.

“Ya, aku sudah mengatasinya,” kata Disi sambil mengingat bagaimana ia melepaskan empat peluru kepada dua orang pemabuk berat yang tertidur di atas sofa. Darah mengalir dari dua tubuh itu —dan sesekali mulut mereka mengigau dan merintih.

Mereka tak akan tahu apa yang telah terjadi—dan karenanya mereka tak mungkin meminta pertolongan—sampai darah di tubuh tersisa sedikit sekali. Disi sudah mempelajari segala sesuatu terkait itu selama berminggu-minggu.

Kemudian ia mesti sedikit bersabar. Satu atau dua hari setelahnya, berita pembunuhan itu akan tayang secara berulang-ulang di televisi dan media massa lainnya. Ia hanya perlu menunggu polisi menangkapnya, dan saat itu terjadi, ia ingin sekali dirinya sedang berada di sebuah kafe dan menikmati secangkir kopi.

“Sebaiknya kau mencoba secangkir kopi spesial,” kata penjaga kafe.

“Ya, sekarang aku benar-benar mau secangkir kopi,” kata Disi tenang, sangat tenang, sambil terus mengingat darah yang mengalir ke dalam sofa, ke karpet bulu angsa, ke kaki-kaki meja, dan kini mungkin saja tengah menuju ke arahnya. ***

Rumah Kinoli, 2018

Yetti A. KA, tinggal di kota Padang, Sumatera Barat. Novel terbarunya, Basirah (2018).

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Baca Juga
Lihat juga...