KKI: Pemasungan ODGJ Seharusnya untuk Mengamankan Bukan Menghukum

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

138

MAUMERE — Pemasungan yang dilakukan masyarakat terhadap anggota keluarganya yang mengalami gangguan kejiwaan seharusnya dilakukan hanya untuk mengamankan sementara, bukan untuk menghukum Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) tersebut.

“Sebenarnya tujuan pasung kan bukan menghukum tetapi mengamankan. Lebih banyak di masyarakat pasung itu menghukum, ini yang tidak boleh,” tegas pater Avent Saur, SVD, pendiri Kelompok Kasih Insani (KKI) yang selalu menangani ODGJ di kabupaten Ende dan Sikka saat ditemui Cendana News, Jumat (9/11/2018).

Dikatakan pater Avent, masyarakat harus mengubah model pasungnya agar terkesan mengamankan sementara, bukan dibiarkan terus mesti pasien sudah tenang.

“Saya sedikitnya setuju ODGJ dipasung di tengah kurangnya tenaga kesehatan jiwa, kurangnya panti rehabilitasi jiwa serta tidak adanya obat di Puskesmas. Pasung merupakan langkah tradisional tetapi sebenarnya juga mengena sebab yang dipasung pasien yang agresif,” sebutnya.

Kalau tidak dipasung, kata pater Avent, ODGJ tersebut akan membuat masyarakat tidak aman. Pasien itu sendiri juga bisa menjadi korban dimana dia bisa saja melukai dirinya sendiri.

“Selama ini kan keluarga sendiri yang bergelut dengan ODGJ, sementara masyarakat, pihak agama dan pemerintah terkesan masa bodoh,” tegasnya.

Yang dibuat KKI selama ini, sambung pater Avent, setelah menemukan pasien ODGJ berkeliaran di jalan maka pihaknya akan mencari keluarganya dan bekerjasama untuk mengasuhnya.

“Ada keluarga yang menerima kembali namun ada yang tidak peduli. Mungkin juga mereka merasa putus asa dan menderita. Pembiaran ini merupakan akumulasi dari rasa kecewa dan putus asa,” terangnya.

Pater Avent bersama anggota relawan KKI juga selalu menyampaikan kepada masyarakat agar jangan mengganggu ODGJ. Kalau tidak mau merawat, lebih baik dibiarkan dan jangan ganggu mereka saat berkeliaran.

Dwi Angelina Ester Santoso, psikolog yang juga staf dinas Sosial kabupaten Sikka yang selalu membantu merawat ODGJ di Sikka.Foto : Ebed de Rosary

Dwi Angelina Ester Santoso, psikolog yang juga staf dinas Sosial kabupaten Sikka menyebutkan, ketidaktahuan membuat masyarakat yang memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa sering melakukan pemasungan.

“Keluarga memasung ODGJ karena ditakutkan akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Masyarakat kurang diberikan sosialisasi terkait penanganan orang yang berpotensi terkena gangguan jiwa sehingga membiarkannya larut dalam kesendirian,” tuturnya.

Ester yang selalu mendampingi ODGJ mengatakan, akibat pembiaran oleh anggota keluarga menyebabkan orang yang sedang mengalami stress suatu saat akan mengalami gangguan jiwa berat.

“Ini yang membuat keluarga mengambil langkah melakukan pemasungan karena ketidaktahuan dan itu terus dilakukan dalam waktu lama tanpa mendapatkan informasi penanganan yang benar,” sebutnya.

Baca Juga
Lihat juga...