Lestarikan Satwa Langka, Ruai Menari Pukau Penonton

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

166

JAKARTA — Gerakan lincah burung Ruai yang diperagakan para penari belia sangat memukau penonton gebyar Pesona Indonesia. Mereka tampil gemulai berpadu busana motif tenun khas Kalimantan Barat (Kalbar) yang dilengkapi dengan bulu burung Ruai.

Pelatih sanggar Borneo Khatulistiwa Diklat Anjungan Kalbal TMII, Haduj Adia Pabelan. Foto : Sri Sugiarti.

Asesoris kayu kapuak khas Kalbar pun menghiasi kepala para penari itu. Jari-jari lentiknya juga menggambarkan sayap yang terhias bulu-bulu burung Ruai.

Tarian  dengan gaya energik dalam setiap gerakannya itu adalah persembahan sangar Borneo Khatulistiwa Diklat Seni Anjungan Kalimantan Barat Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

“Ruai Menari ini, gambaran seekor burung khas Kalbar yang dilindungi dan harus dilestarikan,” kata pelatih sanggar Borneo Khatulistiwa Diklat Anjungan Kalbal TMII, Haduj Adia Pabelan kepada Cendana News di sela-sela gelaran Pesona Indonesia di Candi Bentar TMII, Jakarta, Minggu (4/11/2018).

Ruai Menari ditampilkan, menurutnya, sesuai dengan tema HUT Hari Cipta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2018 yaitu ‘Mari Lestarikan Puspa dan Satwa Indonesia’.

“Kita tampilkan karena harus bertema antara bunga dan satwa untuk memeriahkan HCPSN. Tarian ini bermakna pelestarian dan melindungi satwa langka yang ada di Indonesia,” tandasnya.

Dia menjelaskan, burung dengan nama latin argusianus argus ini memiliki bulu indah dan suara yang lantang. Oleh orang suku Dayak Kalbar, bulu burung Ruai dibuat mahkota atau tangkulas untuk pakaian adat.

“Sebagai cagar budaya, kita bentuk sebuah tarian namanya Ruai Menari. Tujuannya biar generasi muda tahu kalau di Kalimantan Barat itu ada burung Ruai yang sangat cantik,” ujar Adi demikian panggilannya.

Cerita kolosal Ruai Menari ini, jelas dia, adalah penjelmaan seorang putri raja Dayak. Dalam cerita sang raja Dayak memiliki tujuh puteri. Kasih sayang sang ayahanda raja kepada si bungsu berbeda, sepeninggal permaisuri, membuat saudara-saudara si bungsu pun iri hati.

Muncullah niat jahat saudara-saudaranya untuk mencelakai si bungsu. Karena kesaktian si kakek, si bungsu pun diselamatkan dari dalam goa dan mengubah si bungsu menjadi seekor burung Ruai.

Kemudian dari atas pohon, si bungsu pun menyaksikan sang ayah menghukum saudara-saudara kandung.

Selain Ruai Menari, sanggar Borneo juga menampilkan tarian Anggrek Hitam. Dijelaskan Adi, tarian dengan gerak gemulai para penari berbusana warna kuning dengan kipas melambai di tangan menggambarkan kemekaran bunga anggrek hitam.

“Bunga anggrek hitam ini khas Kalbar. Bunga ini tumbuh di perbatasan Kalbar dengan Malaysia. Anggrek hitam ini puspa langka yang harus dilestarikan,” ujar pria kelahiran 42 tahun ini.

Dalam pelestarian budaya bangsa, Adi berharap TMII menjadi wadah untuk penari dan para koreografer tradisi serta generasi penerus bangsa

“Semoga TMII terus maju dan jaya memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk tetap eksis lestarikan budaya bangsa,” tukasnya

Baca Juga
Lihat juga...