LKKS Sumbar Gelar Posdaya Award 2018

Editor: Koko Triarko

154
PADANG – Setelah berjalan 10 tahun lebih, pembinaan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) yang dilakukan oleh Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Provinsi Sumatra Barat, tahun ini Posdaya atau disebut dengan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS), diapresiasi melalui Posdaya Award 2018. 
Ketua Panitia Posdaya Award 2018, Edi Suandi, menyebutkan, Posdaya Award 2018 merupakan gelaran perdana yang dilakukan LKKS setelah berjalan 10 tahun lebih. Ide Ketua Umum LKKS Sumatra Barat, Nevi Zuairina, ini dimaksudkan untuk memotivasi Posdaya untuk semakin tumbuh dan berkembang.
Ia menjelaskan, pada lomba tersebut, daerah mengirimkan satu Posdaya terbaiknya untuk melakukan presentasi tentang keunggulan program yang dimiliki. Pengiriman atau pemilihan Posdaya yang diutus berdasarkan rekomendasi dari LKKS tingkat kabupaten dan kota, atau melalui Dinas Sosial di daerah.
“Penerimaan pendaftaran untuk Posdaya Award telah selesai. Ada 15 dari 18 kabupaten dan kota yang diundang, mengirimkan Posdaya terbaik ke LKKS. Artinya, kini ada 15 Posdaya yang ada di daftar administrasi yang dimiliki oleh panitia Posdaya Award,” katanya, Kamis (1/11/2018).
Dengan adanya 15 kabupaten dan kota yang ikut dalam Posdaya Award 2018 ini, berarti ada empat daerah yang tidak mengirimkan Posdaya terbaiknya ke LKKS Sumatra Barat.
Empat daerah itu, Kota Padang, Bukittinggi, Padang Panjang, dan Kabupaten Kepulauan Mentawai, yang memang tidak bisa diundang, karena adanya persoalan geografis dan anggaran yang sulit untuk dipenuhi.
“Persoalan kenapa ada daerah yang tidak mengirimkan Posdaya terbaiknya, saya tidak tahu pasti, yang jelas mereka punya alasan tersendiri. Seperti di Kota Padang Panjang, alasan tidak ikut, karena Ketua LKKS baru dilantik, seiring dilantiknya Wali Kota Padang Panjang yang baru,” sebutnya.
Selanjutnya, dengan telah merangkum 15 Posdaya dari masing-masing kabupaten dan kota, akan dilakukan pemilihan enam Posdaya yang dinilai layak untuk berkesempatan meraih Posdaya Award. Proses untuk menentukan dari 15 Posdaya itu, berdasarkan keputusan dewan juri. Nanti akan akan dikerucutkan menjadi tiga Posdaya terbaik.
Edi menjelaskan, untuk mencapai level tiga besar itu, para juri akan turun ke lapangan, untuk melihat langsung bagaimana berlangsungnya Posdaya yang sebelumnya telah mempresentasikan Posdaya sebelum masuk ke enam besar. Artinya, untuk mengetahui kebenaran dan kecocokkan dari presentasi sewaktu uji tes dan wawancara, dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
“Posdaya Award adalah bentuk apresiasi dari LKKS, karena selama ini telah mampu membantu dalam mengentaskan kemiskinan dan membantu wanita lemah ekonomi. Tentunya, kegiatan ini diharapkan dapat berlangsung setiap tahun,” jelasnya.
Ia berharap, kegiatan itu juga dapat diterapkan di tingkat nasional. Sehingga kegiatan apresiasi terhadap para Posdaya di Tanah Air, dapat merambah ke Posdaya-Posdaya di daerah lainnya.
“Dulu, Yayasan Damandiri telah melakukan Posdaya Award. Tapi sekarang tidak ada lagi. Nah, hal ini yang kami harapkan, kegiatan Posdaya Award tidak hanya di tingkat lokal saja, tapi turut dilakukan kembali di tingkat nasional,” harapnya.
Bagi pemenang, nantinya yang akan diberikan pada bulan depan, akan ada uang pembinaan dan sertifikat dari LKKS untuk Posdaya berprestasi yang diserahkan langsung oleh Gubernur Sumatra Barat, di Aula Kantor Gubernur. Bahkan, pada momen itu, direncanakan turut mengundang Posdaya dari Bandung, Jawa Barat. Karena hasil studi banding yang dilakukan LKKS beberapa waktu lalu ke Bandung, Posdaya di sana tumbuh dengan bagus.
“Tidak hanya yang berprestasi saja yang hadir pada saat penyerahan hadiah Posdaya Award. Seluruh Posdaya di Sumatra Barat tentu juga turut diundang. Melalui hal itu, diharapkan menjadi motivasi bagi Posdaya, yang belum sempat ikut pada Posdaya Award 2018 ini,” ungkapnya.
Sementara, Ketua LKKS Sumatra Barat, Nevi Zuairina, menyatakan Posdaya dijadikan model pengentasan penyandang kesejahteraan sosial (PMKS) di Sumatra Barat. Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Sumatra Barat, terus berupaya meningkatkan kuantitas dan kualitas kelembagaan Posdaya.
Untuk memotivasi Posdaya itu, LKKS Sumatra Barat menginisiasi Lomba Posdaya Berprestasi.
“Kita ingin Posdaya di Sumatra Barat ini tidak mati suri. Terus berkarya dan melakukan inovasi-inovasi untuk memajukan dan mensejahterakan keluarga-keluarga di sekitarnya,” ujarnya.
Ia berharap, melalui Posdaya Award itu, semakin banyak pula Posdaya yang tumbuh sebagai ujung tombak LKKS dalam kontribusi nyata terhadap pensejahteraan keluarga Indonesia.
Nevi menilai, Posdaya Award berpotensi semakin menghidupkan Posdaya-Posdaya yang ada di Sumatra Barat. Dari apresiasi ini, Posdaya akan tahu kekuatan dan kelemahan Posdaya, dan dapat terpacu membenahi Posdaya.
Menurutnya, Posdaya Award tersebut merupakan apresiasi terhadap apa yang mereka lakukan. Juga motivasi untuk berbuat lebih baik lagi, karena ketika ada lomba sejenis di tingkat nasional, nantinya posdaya-posdaya tersebut telah punya harapan sekaligus untuk berprestasi di tingkat nasional.
“Biasanya, kesempatan berprestasi di nasional inilah yang menggembirakan bagi mereka, di samping piala dan hadiah uang,” ungkapnya.
Dikatakannya, Posdaya juga mampu menjadi ujung tombak penyelesaian masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Untuk itu, ia sangat optimis PMKS di Sumatra Barat bisa diminimalkan, bahkan dientaskan lewat penguatan Posdaya. Istri Gubenur Sumatera Barat itu menegaskan, sangat penting melakukan pembinaan terhadap Posdaya.
Dengan mengembangkan Posdaya, berarti memberdayakan masyarakat setempat, karena pada umumnya pengurusnya dari masyarakat, dikelola masyarakat, dan pengembanganannya dimaksudkan untuk masyarakat.
Nevi mengakui, adanya keterbatasan sumberdaya manusia pengurus Posdaya. Di sinilah peran LKS di kabupaten dan kota di bawah koordinasi LKKS Sumatra Barat, memberikan penguatan sekaitan dengan jaringan kerja, jaringan pemasaran, akses permodalan dan lainnya.
Baca Juga
Lihat juga...