Masuki Masa Tanam Pertama, Petani Lamsel Percepat Pengolahan Sawah

Editor: Satmoko Budi Santoso

139

LAMPUNG – Sejumlah petani pemilik lahan pertanian sawah di Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) mulai mengawali masa tanam pertama (MT1) pada pekan kedua November.

Suroto, salah satu petani di Desa Sukabaru, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, menyebut sejak awal November curah hujan mulai rutin mengguyur wilayah tersebut. Meski belum merata, air hujan melalui saluran irigasi sudah bisa dimanfaatkan untuk pengolahan lahan sawah.

Suroto menyebut, selama musim tanam ketiga (MT3) sebelumnya yang didominasi oleh musim kemarau, ia melakukan penanaman sayuran. Proses penanaman sayuran dilakukan imbas saluran irigasi yang tidak mengalir sehingga proses budidaya sayuran memanfaatkan air sungai Way Pisang.

Penanaman memanfaatkan pola tanam sesuai jadwal tersebut, diakui Suroto, sudah diterapkan oleh petani yang tergabung dalam kelompok tani (Poktan) Sumber Rejeki.

Secara umum Suroto menerangkan, sesuai anjuran penyuluh pertanian, MT1 kerap diawali pada bulan November. MT1 diakuinya identik dengan musim penghujan dengan curah hujan yang mulai dominan melanda sejumlah wilayah di Indonesia.

MT1 untuk penanaman padi akan berakhir dengan panen pada pertengahan hingga akhir Februari. Selanjutnya diteruskan dengan MT2 dimulai awal atau pertengahan Maret hingga akhir Juni. Selanjutnya untuk MT3 diawali bulan Juli hingga akhir Oktober dan seterusnya kembali ke MT1.

“Pola tanam mengikuti kondisi musim sudah diterapkan selama puluhan tahun oleh para petani. Tapi kerap musim mundur sehingga masa tanam bisa mundur karena memanfaatkan kondisi pasokan air yang sangat pokok untuk penanaman padi,” terang Suroto, salah satu petani yang tengah membajak sawah, saat ditemui Cendana News, Sabtu (10/11/2018).

Pemanfaatan lahan pada MT1 disebutnya berkaitan dengan pemilihan benih padi yang cocok dalam kondisi musim penghujan. Ia mengaku, menanam varietas padi Muncul yang tahan terhadap kondisi genangan air yang dominan terjadi saat musim penghujan.

Sebelumnya, sejumlah petani memilih menanam padi varietas Ciherang serta IR64 yang memiliki ketahanan saat ditanam pada musim tanam gadu atau MT3 didominasi kemarau.
Proses penyebaran benih atau persemaian dilakukan seusai melakukan pengolahan lahan.

Penggunaan alat dan mesin pertanian (Alsintan) jenis traktor tangan, disebut Suroto, ikut mempercepat proses pengolahan lahan. Benih padi dengan proses persemaian membutuhkan waktu sekitar 21 hari, menyesuaikan dengan waktu pembajakan, penghalusan tanah.

Proses penanaman menggunakan cara manual dilakukan karena di wilayah tersebut kontur tanah perbukitan tidak memungkinkan untuk penggunaan mesin penanam padi (rice transplanter).

Damin, petani Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, menyebut, mulai melakukan proses pengolahan lahan. Pada MT3 hingga menjelang MT1, ia menyebut, tidak mengalami kendala dalam pasokan air.

Irigasi alami bersumber dari Gunung Rajabasa diakuinya cukup lancar, namun ia menunggu awal November untuk mengolah lahan. Salah satu alasan yang dipilih disebutnya sesuai pengalaman, masa tanam tidak serentak berimbas munculnya organisme pengganggu tanaman.

Saluran irigasi yang mulai lancar saat tiba musim penghujan dimanfaatkan petani menanam padi MT1 – Foto Henk Widi

“Pasokan air lancar namun kearifan lokal petani di wilayah kami menggarap lahan harus berbarengan, jika ada yang lebih dahulu berisiko munculnya hama,” beber Damin.

Sejumlah petani yang tergabung dalam kelompok tani dan sebagian tidak kerap saling memberi informasi saat akan menggarap lahan. Penggunaan traktor kerap dilakukan secara bergiliran sehingga petani justru bisa serentak melakukan pengolahan lahan, penyemaian benih hingga panen.

Dampak positifnya, efisiensi penggunaan alsintan bisa digunakan secara bergantian antar pemilik lahan satu dengan yang lain. Ia bahkan menyebut, pemanfaatan MT1 dilakukan untuk mempermudah pengaturan pasokan air.

Damin menyebut, meski MT1 didominasi musim penghujan, sawah yang berada di lahan yang tinggi terhindar dari genangan. Petani di wilayah tersebut memilih menanam padi varietas Ciherang serta IR64 dengan masa tanam hingga panen mencapai 90 hari.

Memasuki MT1 sejumlah petani, diakui Damin, juga memanfaatkan percepatan masa tanam dengan adanya bantuan alsintan dari Kementerian Pertanian melalui Koramil 03/Penengahan. Sebagian mempergunakan alsintan dengan proses menyewa untuk pengolahan lahan.

Baca Juga
Lihat juga...