Masyarakat di Kaki Gunung Rajabasa Lestarikan Tradisi Rabu Wekasan

Editor: Koko Triarko

161
LAMPUNG – Masyarakat di kaki Gunung Rajabasa, Lampung Selatan, hingga kini masih melestarikan tradisi nenek moyang. Salah satunya, tradisi Rabu Wekasan atau Rabu Pucuk sebagai Rabu terakhir di bulan Safar pada penanggalan Islam.
Ustad Humaidi, sesepuh di Desa Padan yang merupakan guru agama Islam saat desa tersebut awal terbentuk, mengatakan tradisi Rabu Wekasan berasal dari masyarakat kaki Gunung Rajabasa di wilayah Serang, Provinsi Banten.
Wilayah yang memiliki penduduk asal Jawa-Serang atau dikenal dengan etnis Jaseng tersebut,  masih melestarikan tradisi Rabu Wekasan.
Sejumlah desa di dekat kawasan hutan lindung Gunung Rajabasa yang merupakan hutan register, di antaranya Desa Tanjungheran, Desa Padan, Desa Way Kalam, Desa Rawi, dan lainnya.
Ustad Hamidi, salah satu sesepuh agama Islam di Desa Padan, Kecamatan Penengahan, menikmati ketupat dan opor ayam -Foto: Henk Widi
Ustad Humaidi menyebut, tradisi selama puluhan tahun tersebut hingga kini masih dilestarikan. Makna yang terkandung dalam tradisi tersebut di antaranya pembersihan alam semesta, diri sendiri dalam hubungannya dengan sesama dan Sang Pencipta.
Sebagai salah satu pendiri Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Hidayah, ia mengaku tradisi tersebut dikenalkan kepada para siswa agar mengetahui sejarah terkait penanggalan Islam.
“Sesuai tradisi yang dipegang oleh leluhur kami di Banten, Rabu Wekasan menjadi waktu terakhir di bulan Safar dengan makna melakukan pembersihan sebelum memasuki bulan Robiul Awal atau bulan Mulud atau Maulid, yang diperingati sebagai kelahiran Nabi Muhammad,” terang Ustad Humaidi, Rabu (7/11/2018).
Sesuai dengan tradisi masyarakat setempat, pemeluk agama Islam akan mengawali hari Rabu dengan shalat Tafa’ul Bala’, yang bermakna menghindarkan dari segala penyakit, bencana dan keburukan.
Salat sunah dua rakaat tersebut kerap dilakukan warga di mushala atau masjid, dilanjutkan dengan riungan atau makan bersama. Sejumlah warga bisa melakukan salat Tafa’ul Bala’ pada waktu yang ditentukan, pada pagi hingga malam. Salat tersebut bertujuan memohon keselamatan dari segala bencana.
Ustad Humaidi menyebut, setiap orang yang menjalankan tradisi Rabu Wekasan, manusia menyadari akan kisah penciptaan. Setelah banyak kejadian bencana, penyakit, manusia perlu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Pada pelaksanaan tradisi tersebut, masyarakat membuat makanan berupa ketupat dan lepet. Ketupat dibuat dari pucuk daun kelapa muda diisi beras, sementara lepet dibuat dengan cara yang sama dari beras ketan.
Tradisi tersebut merupakan warisan para ulama yang dilestarikan hingga sekarang. Sesuai dengan makna bulan Safar yang bermakna jalan menjadi awal untuk memasuki bulan Rabiul Awal, di mana  kelahiran Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal.
Sesuai tradisi, masyarakat akan membuat ketupat sehari sebelum Rabu Wekasan. Warga juga membuat opor ayam dengan tambahan nangka, kentang, dan rebung.
“Proses pembuatan makanan tersebut dibuat sesuai kemampuan masyarakat, yang akan dimakan secara bersama atau riungan,” beber Ustad Humaidi.
Masyarakat yang membuat makanan dari ketupat dan lepet, selanjutnya akan diantar ke tetangga dan kerabat. Tradisi saling hantar tersebut masih dijaga sebagai cara menjaga harmonisasi antarkerabat.
Selain dilestarikan pada sejumlah desa, tradisi Rabu Wekasan juga diterapkan di sekolah Madrasah sebagai sekolah berbasis agama. Tradisi bersih-bersih tersebut dilakukan dari ruang kelas, agar saat memasuki bulan Rabiul awal, lingkungan bersih termasuk hati.
Drs. Siti Nurjanah, Kepala Sekolah MI Nurul Hidayah, menyebut pembersihan sekolah sekaligus mengajarkan kepada sang anak untuk menjaga kebersihan. Para siswa yang melakukan kegiatan pembersihan kerap membawa ketupat dan lepet, lengkap dengan opor ayam dari rumah.
Setelah proses pembersihan lingkungan sekolah, anak-anak akan melakukan makan bersama atau dikenal dengan ngariung.
“Sebagai sekolah berbasis agama, tradisi-tradisi bernafaskan Islam meski bukan sesuatu yang diwajibkan, tapi memiliki nilai positif,” beber Siti Nurjanah.
Selain di MI Nurul Hidayah, kegiatan ngariung juga dilakukan oleh Madrasah Ibtidayah Al Khairiyah Desa Semana, Kecamatan Bakauheni.
Tradisi tersebut masih tetap dilakukan sebagai makna saling berbagi, karena siswa membawa makanan dari rumah dan dimakan bersama. Kegiatan makan bersama dilakukan setelah pembersihan sekolah, sehingga bisa memasuki bulan Rabiul Awal dalam kondisi hati bersih dan lingkungan bersih.
Baca Juga
Lihat juga...