Melihat Cara Memasak Garam Tradisional ala Perempuan Flotim

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

729

LARANTUKA — Di tengah membanjirnya impor dan produksi pabrikan, garam tradisional yang dimasak dengan peralatan sederhana ternyata masih menjadi pilihan masyarakat di kabupaten Flores Timur, provinsi NTT.

Profesi jadi pemasak garam tentu bukan jadi pilihan generasi milenial, karena harus memiliki fisik yang kuat dan hampir setiap hari harus bersentuhan dengan sinar matahari. Belum lagi wajah kerap terkena asap dari dapur yang mengandalkan kayu bakar sebagai satu-satunya bahan bakar.

Siang itu, jarum jam menunjukan pukul 13.15 WITA, satu per satu perempuan separuh baya berjalan kaki dari kediamannya di desa Mokantarak menuju arah timur.

Jarak sejauh sekitar satu kilometer ditempuh untuk mencapai tempat kerja, di sebuah pantai yang dipenuhi rimbunan bakau.

“Setiap pagi setelah menjual garam di pasar Oka dan usai santap siang, kami harus bergegas ke tempat kerja kami untuk mulai memasak garam,” tutur Maria Barek Maran (53) pemasak garam tradisional saat berbincang bersama Cendana News di bawah pondok sederhana beratapkan daun kelapa.

Turun Temurun

Lahan yang dipergunakan warga desa Mokantarak di kecamatan Larantuka tersebut persis berada di sebelah tembok timur hotel Mokantarak. Di utara berbatasan dengan jalan negara Trans Flores dan berdiri kafe Senegor yang hanya ‘selemparan batu’ dari lokasi ini.

Di lahan yang dikelilingi hutan ilalang dan mangrove seluas sekitar 2 hektar ini, 21 orang perempuan separuh baya yang bernaung di bawah kelompok Ina Mokantarak (perempuan asal dari Mokantarak) ini saban hari sejak pagi mulai beraktifitas memasak garam.

Para perempuan di desa Mokantarak kecamatan Larantuka kabupaten Flotim, NTT, sedang mengambil air laut untuk dipergunakan memasak garam tradisional.Foto : Ebed de Rosary

Ketua kelompok, Theresia Lipa Kelen (43) bertutur, memasak garam dilakoni sejak turun temurun. Dirinya pun mulai mahir memasak garam sejak umur 10 tahun saat duduk di kelas IV Sekolah Dasar karena diajari sang bunda.

“Nenek saya mewariskan ke mama saya dan mama meneruskan ke saya. Boleh dikata ini pekerjaan turun temurun dan hanya dilakukan kaum perempuan. Waktu kecil, mama yang memasak garam dan saya yang bantu menjualnya di pasar,” tuturnya.

Theresia Kean (63) perempuan sepuh yang diajak berbincang berterus terang memaparkan, dirinya sudah sejak kecil memasak garam. Hasil usaha ini dipergunakan untuk membiayai sekolah anak-anaknya.

Memasak garam bagi Theresia dilakukan untuk menambah penghasilan keluarga, membantu suami yang bekerja di kebun untuk memenuhi kebutuhan lima orang anaknya.

“Anak pertama saya sudah menikah dan berkeluarga dan ada seorang anak saya yang jadi anggota polisi. Yang paling kecil masih kuliah di Kupang sehingga saya harus membiayai uang kuliahnya dari hasil menjual garam,” ucapnya lirih.

Menyaring Air Laut

Proses memasak garamnya pun tergolong unik. Lahan dibersihkan dari rerumputan yang mayoritas ilalang. Setelah bersih dan dijamin tidak ada rumput lalu tanah dicangkul. Air laut diambil menggunakan ember dan disiram di atas tanah ini.

Tanah tersebut dibiarkan mengering terkena sinar matahari sampai terlihat butiran putih garam menempel di tanah. Di tanah lapang tersebut berdiri banyak Ohang atau tempat yang dibuat untuk menyaring air garam.

Ohang berbentuk segi empat tersebut ditopang empat buah kayu sebagai kaki setinggi sekitar satu meter. Di atasnya diletakan tikar dari anyaman daun Lontar atau Enau.

Sebelum tanah yang berisi garam dimasukan ke dalam Ohang, sekelilingnya dilapisi dengan pasir sebagai pembatas, guna menahan air agar tidak meluap saat dituang ke dalamnya.

“Setelah tanah berisi garam tersebut dimasukan ke Ohang, kami tuangkan air laut di atasnya. Tirisan pertama biasanya masih kotor sehingga dipakai untuk menuangkannya lagi sampai air tirisan agak bersih,” beber Maria Fatima Kean (63), anggota kelompok.

Mari Barek Maran perempuan pemasak garam tradisional di desa Mokantarak kecamatan Larantuka, Flotim, NTT Foto : Ebed de Rosary

Bila empat ember plastik berukuran 20 liter sudah penuh terisi, terang Maria Fatima, baru air tirisan tersebut dimasukan ke dalam wadah untuk memasak garam yang diletakan di atas tungku batu.

Tungku ini berada di pondok sederhana tanpa dinding, beratapkan ilalang atau daun kelapa.

Wadah untuk memasak garam urainya, berbentuk segi empat terbuat dari kaleng bekas drum yang sudah dibersihkan. Biasanya dipergunakan drum bekas oli atau minyak tanah yang dipotong dan ditekuk berbentuk segi empat.

“Sekali masak butuh air garam sebanyak 80 sampai 100 liter atau 4 ember dan bisa menghasilkan garam sebanyak sekitar 20 kilogram sekali masak,” paparnya.

Dalam sehari, jelas Maria Fatima, bisa memasak garam paling banyak 3 kali. Sekali memasak, butuh waktu tiga hingga empat jam hingga menjadi garam. Setelah kering dan menjadi garam, dipindahkan ke Nome untuk meniriskan air dan membiarkan garam mengering.

Kayu Bakar dari Hutan

Memasak garam secara tradisional tentunya dibutuhkan banyak kayu bakar. Cepat atau tidaknya proses memasak hingga air mengering dan menjadi garam dipengaruhi oleh besar kecilnya api.

Semakin besar nyala apinya, semakin cepat air garam mendidih dan menguap hingga tertinggal kristal garam. Kayu bakar yang dipergunakan pun harus yang menghasilkan nyala api yang besar.

“Kayu bakar kami pilih dari kebun dan mencari di hutan. Kami tidak menebang pohon hanya memilih dan memotong dahan pohon yang sudah kering dan biasanya banyak sekali di hutan,” sebut Theresia Titi Koten (51) anggota kelompok.

Pernah tahun 2003 dinas Perindustrian dan Perdagangan Flotim tutur Theresia datang ke kelompok ini dan mengajarkan cara memasak garam beryodium. Namun setelah bupati Flotim Feliks Fernandez berakhir masa jabatannya tahun 2005, kelompoknya pun tidak diperhatikan sampai kini.

Pihaknya berharap pemerintah desa dan kabupaten memperhatikan nasib mereka, membantu memberikan peralatan memasak garam yang lebih baik. Juga mereka diajarkan cara memasak garam beryodium termasuk mengemasnya secara higienis.

“Kami cuma masyarakat kecil dan tidak tahu harus meminta kemana. Kalau pemerintah desa atau kabupaten mau membantu, tentu kami menerimanya agar garam hasil produksinya bisa dikemas lebih baik dan kualitasnya terjaga,” harap Theresia.

Dalam satu musim memasak garam sejak bulan Mei atau Juni hingga November rata-rata anggota kelompok mengaku mengantongi keuntungan bersih dua sampai lima juta rupiah.

Siapa nyana, dari peralatan sederhana dengan metode yang sederhana pula, garam hasil produksi mama-mama tangguh desa Mokantarak ini tetap membanjiri pasar tradisional di kota Larantuka.

Baca Juga
Lihat juga...