Mencermati Pengangguran Terbuka 2018

177

JAKARTA  – Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka menurut daerah pada Agustus 2018 sebesar 5,34 persen dari angkatan kerja.

Secara kuantitas, tercatat sebanyak tujuh juta orang menganggur per Agustus 2018. Dibanding data periode yang sama tahun lalu, jumlah pengangguran berkurang 40 ribu orang. Posisi tingkat pengangguran terbuka pada Agustus 2018 tersebut turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,50 persen.

Pencapaian tingkat pengangguran terbuka 5,34 persen itu masih lebih tinggi 0,04 poin di atas target Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2018 yang sebesar 5,0 persen sampai 5,3 persen.

Tingkat pengangguran terbuka adalah indikator yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat penawaran tenaga kerja yang tidak digunakan atau tidak terserap oleh pasar kerja.

Persentase tingkat pengangguran terbuka akan membesar ketika jumlah angkatan kerja yang menjadi penyebut dalam rumus berkurang banyak, meskipun jumlah pengangguran menurun.

Posisi tingkat pengangguran terbuka memiliki tren menurun sejak 2015 yang mencapai 6,18 persen dari angkatan kerja atau sekitar 7,56 juta orang.

Kemudian, tingkat pengangguran terbuka menurun 0,57 persen menjadi 5,61 persen pada Agustus 2016.

Dari sisi penciptaan kesempatan kerja, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, bahwa penciptaan kesempatan kerja pada 2018 sebesar 2,99 juta.

Apabila dijumlah dengan angka penciptaan kesempatan kerja 2016 dan 2017, maka sudah tercapai 9,38 juta kesempatan kerja dalam pemerintahan sekarang ini. Jumlah penciptaan lapangan kerja pada 2016 tercatat sebanyak 3,59 juta sementara pada 2017 sebanyak 2,61 juta. Sementara pada 2015, penciptaan lapangan kerja hanya tercatat sebanyak 190 ribu.

Pertumbuhan rendah pada 2015 disebabkan oleh pelemahan dolar AS yang memukul impor bahan baku yang berpengaruh pada sektor industri serta pengurangan jumlah pekerja pada sektor pertanian yang pindah ke sektor jasa.

Rata-rata pertumbuhan kesempatan kerja selama lima tahun terakhir adalah sebesar 1,99 persen. Bambang mengatakan, target penciptaan kesempatan kerja sepanjang 2015-2019 adalah 10 juta orang.

Ia memproyeksikan, target tersebut dapat tercapai mengingat selisihnya hanya sekitar 600 ribu kesempatan kerja.

Pencapaian pertumbuhan ekonomi sesuai APBN 2019 sebesar 5,3 persen diharapkan bisa mewujudkan lebih dari dua juta lapangan kerja baru.

BPS mencatat, tingkat pengangguran terbuka tertinggi menurut pendidikan berasal dari jenjang pendidikan sekolah menengah kejuruan (SMK) sebesar 11,24 persen.

Tingkat pengangguran terbuka tertinggi berikutnya terdapat pada sekolah menengah atas (SMA) sebesar 7,59 persen.

Dua data tersebut menunjukkan terdapat penawaran tenaga kerja yang tidak terserap terutama ada tingkat pendidikan SMK dan SMA.

Di sisi lain, tingkat pengangguran terendah sebesar 2,43 persen terdapat pada penduduk berpendidikan sekolah dasar (SD) ke bawah. Angkatan kerja berpendidikan rendah cenderung mau menerima pekerjaan apa saja.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, mengatakan, revitalisasi SMK dengan melibatkan dunia usaha dalam kurikulumnya akan mengurangi jumlah pengangguran dari lulusan kejuruan.

Menurut dia, persoalan utama lulusan SMK adalah tidak adanya kesesuaian antara kebutuhan industri dan tenaga kerja. SMK juga dinilai mengalami kendala guru dan pengajar.

Buku Data SMK 2017 mencatat jumlah SMK di Indonesia mencapai 13.926 sekolah, terdiri dari 10.389 SMK swasta dan 3.537 SMK negeri. Jumlah siswa SMK sendiri tercatat 4,91 juta.

Jumlah SMK bertambah setiap tahun, namun hal tersebut belum seirin dengan upaya peningkatan kualitas dan proses akreditasi mengingat masih terdapat 29.043 bidang keahlian di SMK yang statusnya belum terakreditasi.

Penambahan jumlah siswa SMK terkonsentrasi pada bidang keahlian teknologi dan rekayasa, bisnis dan manajemen, serta teknologi informasi dan komunikasi.

Bappenas merumuskan, setidaknya terdapat empat strategi mengurangi penganggur lulusan SMK, yaitu peningkatan kerja sama dengan dunia usaha, penguatan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan vokasi.

Kemudian, peningkatan sertifikasi lulusan SMK melalui penguatan lembaga sertifikasi kompetensi dan penguatan pendidikan kewirausahaan di SMK melalui kerja praktik kewirausahaan.

Pengangguran di Desa dan Kota

Sakernas BPS periode Agustus 2018 juga mencatat masih adanya perbedaan tinggi antara tingkat pengangguran di kota dan desa.

Tingkat pengangguran terbuka di perkotaan pada Agustus 2018 sebesar 6,45 persen atau tercatat lebih tinggi dibandingkan di perdesaan 4,04 persen.

Persentase tingkat pengangguran terbuka di perkotaan menurun 0,34 poin dan di perdesaan meningkat tipis 0,03 poin dibandingkan dengan posisi Agustus 2017.

Sebagai pembanding, tingkat pengangguran terbuka di perkotaan tercatat 7,31 persen pada 2015 dan 6,60 persen di 2016. Sementara di perdesaan 4,93 persen (2015) dan 4,51 persen (2016).

Kepala BPS, Suhariyanto, menilai, penyebab utamanya adalah adanya pengurangan tenaga kerja di sektor pertanian. Hal itu sejalan dengan transformasi ekonomi yang semakin mengurangi jumlah tenaga kerja di sektor pertanian.

Kondisi ini dipengaruhi oleh jumlah pekerja di sektor pertanian yang menyusut.

Para pekerja di desa keluar dari sektor pertanian, namun belum memperoleh pekerjaan baru sehingga menjadi beban pengangguran di desa. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...