Mengenal Jenis Kaktus di TMII

Editor: Satmoko Budi Santoso

190

JAKARTA – Rumah kaca beratap bulat menyerupai kaktus itu terhiasi ragam jenis kaktus di dalam ruangannya. Inilah Taman Kaktus, yang lokasinya berada area Desa Seni, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Saat sebelum masuk ke Taman Kaktus, pengunjung telah dimanjakan rindangnya tanaman hijau yang tertata rapi di halaman rumah kaca “Taman Kaktus”.

Begitu masuk taman itu, mata pengunjung langsung dimanjakan kecantikan ragam jenis kaktus.

Alfianto, salah satu pengunjung mengaku, baru pertama kali mengunjungi Taman Kaktus. Padahal ia bersama keluarganya sering berwisata ke TMII.

“Wisata ke TMII tidak cuma tahu budaya daerah yang disajikan di anjungan, tapi juga jenis flora, ya kaktus ini. Saya jadi tahu jenis kaktus,” kata Alfianto kepada Cendana News, Sabtu (10/11/2018).

Kepala Seksi Desa Seni TMII, Mukaeri, mengatakan, Taman Kaktus ini dibangun atas prakarsa Ibu Negara, Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah atau Tien Soeharto, pecinta tanaman seperti kaktus.

Kepala Seksi Desa Seni TMII, Mukaeri – Foto Sri Sugiarti

“Ibu Tien kan pecinta tanaman kaktus. Untuk melestarikan kaktus ini, akhirnya dibangunlah Taman Kaktus yang diresmikan Presiden Soeharto pada 20 April 1980,” ujar Mukaeri kepada Cendana News.

Dia menjelaskan, taman ini menyajikan berbagai jenis kaktus dari dalam dan luar negeri. Kaktus yang berasal dari luar negeri didatangkan dari Amerika Serikat (AS), Meksiko, Jepang, India, Belgia, dan masih banyak lagi. Sedangkan kaktus dari dalam negeri mayoritas didatangkan dari Bandung, Jawa Barat.

Terdapat sekitar 100 jenis kaktus yang ditanam sesuai dengan tatanan habitat aslinya yang dipamerkan di Taman Kaktus. Di antaranya, Echino Cactus Greesonii dan Gymno Calycium Bruchii dari AS, Agave Parasana dan Gimnogayumus Hibotan dari Belgia, Opuntia Microfinanc dan Echino Cactus Greesonii (kaktus bola) dari Meksiko, Euphorbia Lactea (tulang naga) dari India, Notocactus Leninghausil, Euphorbia Cristata, Echimocactus Grusonii dan Melocactus dari Jepang, Cleistocactus Stausil setinggi 10 meter, dan jenis lainnya.

“Karena kecintaan Ibu Tien pada kaktus, beliau rela mendatangkan kaktus dari luar negeri. Ibu Tien sangat menyukai Echino Cactus Greesonii atau kaktus bola,” ujar Mukaeri.

Echino Cactus Greesonii atau kaktus bola, jenis kaktus yang disukai Ibu Tien Soeharto tersaji di Taman Kaktus TMII, Jakarta. Foto: Sri Sugiarti.

Kembali ia menegaskan, Taman Kaktus dibangun atas ide cemerlang Ibu Tien yang sangat mencintai tanaman kaktus. Taman Kaktus ini menggambarkan keanekaragaman flora Indonesia, karena ditampilkan juga kaktus lokal atau dalam negeri.

Menurutnya, nama jenis kaktus dalam negeri tidaklah berbeda dengan kaktus dari luar negeri. Adapun tujuan dibangunnya taman ini adalah untuk edukasi agar masyarakat Indonesia mengenal ragam jenis tanaman.

“Ibu Tien membangun Taman Kaktus tujuannya untuk edukasi agar pengunjung tahu ragam jenis kaktus,” ujarnya.

Apalagi, sebut dia, waktu tahun 1980 belum ada Taman Kaktus di Indonesia. Namun sekarang sudah marak hadir taman kaktus, seperti di Bali.

Taman Kaktus di area Desa Seni TMII, jelas dia, dibangun pada Februari 1997, kemudian pada tahun 1979 dibangun rumah kaktus berbalut kaca beratap bulat menyerupai kaktus. Rumah ini pun diberi nama Taman Kaktus yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 April 1980, bertepatan dengan HUT TMII.

Terkait perawatan kaktus, lebih lanjut ia menyampaikan, sangatlah mudah. Yakni kaktus-kaktus tersebut disiram seminggu sekali. “Kaktus kan menyerap air lewat batangnya, jadi disiramnya seminggu sekali. Disiramnya juga dengan halus, tidak kena tanaman,” jelasnya.

Adapun perbedaan perawatan, jelas dia lagi, karena kaktus dari luar negeri itu di daerah tandus dan kering sehingga tidak tahan lama kalau sering disiram. Bisa mati atau busuk tanamannya. Sedangkan kaktus lokal sangat tahan air, pada musim hujan pun tetap bertahan. Sebaliknya kaktus dari dalam negeri tidak tahan dideru hujan.

Terkait perawatan lainnya, menurutnya, tidak menggunakan pupuk. Tapi cukup dengan hamparan pasir saja kaktus-kaktus tersebut bisa tumbuh dengan subur. Menjadikan mata indah memandang.

“Perawatan kaktus ini simpel, nggak ribet. Bedanya kalau kaktus lokal tahan air. Kalau kaktus luar negeri nggak bisa kena air terus, nanti bisa busuk. Karena iklim Indonesia kan panas, kaktus juga menyesuaikan,” ungkapnya.

Taman Kaktus sebagai wahana edukasi, menurutnya, membuat antusias pengunjung sangat bagus. Utamanya para pelajar banyak berkunjung. Mereka sangat tertarik dengan ragam jenis kaktus yang dipamerkan di taman ini. Mereka juga bisa dengan detail bertanya, jenis kaktus ini dari mana saja dan bagaimana perawatannya.

“Pengunjung paling banyak anak sekolah, ada juga orang tua bersama anaknya. Ramai tidak tentu, yang pasti Sabtu-Minggu,” ujarnya.

Menurutnya, Taman Kaktus mendapat tempat khusus di hati pengunjung, terkhusus para penyuka tanaman sebagai penghias rumah. Banyak dari mereka ingin membeli kaktus, namun Taman Kaktus dibangun tidak untuk menjual kaktus. Tapi bertujuan edukasi dan pelestarian flora.

Mukaeri berharap, TMII lebih memperhatikan lagi Taman Kaktus dengan menambah koleksi kaktus di taman ini. Sehingga pengunjung semakin banyak yang datang untuk mendapatkan wawasan tentang ragam jenis kaktus.

Untuk mengunjungi Taman Kaktus, pengunjung tidak perlu merogoh kocek alias gratis. Taman Kaktus beroperasi setiap harinya dari pukul 08.00-17.00 WIB.

Baca Juga
Lihat juga...