hut

Minggu (4/11/2018), Hasil DNA JT 610 Kemungkinan Keluar

Petugas Basarnas mengumpulkan barang-barang yang diduga dari peristiwa jatuhnya Lion Air di di perairan Tanjung Karawang - Foto basarnas.go.id

JAKARTA – Hasil pemeriksaan DNA penumpang Lion Air JT 610, kemungkinan akan keluar pada Minggu (4/11/2018). Hal tersebut mengikuti perhitungan standar yang biasa dilakukan.

“Kemungkinan akan keluar hari Minggu, karena perhitungannya empat hari proses di laboratorium,” ujar Kepala Laboratorium DNA, Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Mabes Polri, Kombes Putut Cahyo Widodo, Jumat (2/11/2018).

Waktu pemeriksaan DNA jenazah penumpang Lion Air JT 610, dihitung berdasarkan perhitungan laboratorium. Jika jenazah tiba pada Senin, maka pada Selasa jenazah akan diperiksa di ruang Disaster Victim Identification (DVI). Sedangkan waktu yang digunakan untuk pemeriksaa DNA hingga keluar hasilnya membutuhkan waktu paling cepat empat hari. “Jadi, kalau hari ini saya terima sampel seperti kantong jenazah terakhir, yang itu belum sampai ke laboratorium,” tandasnya.

Kombes Putut menambahkan, setelah pemeriksaan oleh tim DVI selesai, barulah pemeriksaan DNA bisa dilaksanakan oleh timnya. Sebelumnya, Tim DVI telah berhasil mengidentifikasi seorang wanita, yang menjadi korban pesawat jatuh Lion Air bernama Jannatun Cintya Dewi (24) asal Sidoarjo Jawa Timur. Para ahli mengidentifikasi, Jannatun berdasarkan pencocokkan sidik jari tangan, dengan ijazah dan diperkuat data DNA.

Sementara itu, tim SAR gabungan telah menemukan roda pesawat Lion Air JT 610, yang merupakan bagian pesawat terbesar yang berhasil ditemukan hingga hari kelima jatuhnya pesawat tersebut. “Jumat, kita sudah menemukan secara pasti lokasi sebaran pesawat. Kita sudah sapu dengan ROV radius 100-200 meter di titik temuan FDR,” kata Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) M Syaugi, di Dermaga JICT 2 Tanjung Priok Jakarta Utara.

Di lokasi tersebut, banyak bagian-bagian pesawat yang ditemukan. Dan yang terbesar adalah roda pesawat. Dengan kondisi tersebut, mekanisme yang dilakukan, kapal Victory Pertamina dengan empat jangkar, ditempatkan di lokasi temuan serpihan. Setelah itu, penyelam turun untuk memastikan mana yang bisa diangkat. Dan memetakan serpihan mana yang harus diangkat menggunakan crane, seperti roda yang sudah ditemukan.

Roda pesawat tersebut diangkat dengan crane kapal Victory milik Pertamina. Selain itu juga ditemukan bagian turbin pesawat. Sementara badan pesawat hingga saat ini masih belum ditemukan. “Saya masih berharap dengan peralatan yang canggih itu untuk mencari badan pesawat yang sampai sekarang belum ketemu,” tandasnya.

Tim SAR gabungan akan terus melakukan pencarian di area yang lebih luas, untuk memastikan ada tidaknya badan pesawat. Proses pencarian badan pesawat akan dilakukan sampai tujuh hari sejak jatuhnya pesawat, tepatnya sampai Minggu (4/11/2018). Setelah dianalisa, jika masih ada kemungkinan bisa ditemukan badan pesawat, maka upaya pencarian akan ditambah tiga hari. Dan setelahnya akan dilakukan analisa ulang.

Pesawat terbang Boeing B-737-8 MAX Lion Air nomor penerbangan JT 610, yang terbang dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten, menuju Bandar Udara Depati Amir, Pangkal Pinang, Kepulauan Riau, dilaporkan telah hilang kontak pada 29 Oktober 2018 sekira pukul 06.33 WIB.

Pesawat terbang nomor registrasi PK LQP, dengan 189 orang di dalamnya itu, dilaporkan terakhir tertangkap radar pada koordinat 05 derajad 46,15 Lintang Selatan – 107 derajad 07.16 Bujur Timur. Pesawat terbang ini berangkat pada pukul 06.10 WIB dan jika sesuai jadwal akan tiba di Pangkal Pinang pada Pukul 07.10 WIB. Pilot pesawat terbang sempat meminta kembali ke bandara keberangkatan sebelum akhirnya hilang dari radar. Badan SAR Nasional (Basarnas) memastikan, pesawat terbang Lion Air JT 610 jatuh di perairan Kabupaten Karawang, Jawa Barat. (Ant)

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!