Minim Pengunjung, Tantangan Pengelola Homestay Desa Mandiri Lestari

Editor: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Masih minimnya tamu atau pengunjung yang datang dan menginap di sejumlah homestay di Desa Argomulyo, Sedayu, Bantul, menjadi tantangan tersendiri bagi KUD Sahabat Damandiri Sejahtera Argomulyo sebagai pihak pengelola.

Sebanyak 10 homestay milik warga yang dibangun Yayasan Damandiri lewat program bedah rumah, sebagai bagian dari program Desa Mandiri Lestari Argomulyo, diketahui belum semuanya mampu memberikan pemasukan dan peningkatan ekonomi bagi warga desa.

“Homestay masih tetap berjalan walaupun memang kurang maksimal. Hal itu dikarenakan sektor pariwisata belum menjadi bagian strategis di Desa Argomulyo. Tak banyak wisatawan yang datang untuk menginap,” ujar Ketua KUD Sahabat Damandiri Sejahtera Argomulyo, Gatot Nugroho.

Gatot mengakui, perlunya pembenahan mulai dari sisi manajemen pengelolaan, pemasaran atau marketing hingga kualitas SDM masing-masing pengelola. Untuk dapat meningkatkan jumlah pengunjung homestay. Terlebih, menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum menyadari hal tersebut.

“Pihak koperasi sebenarnya terus memasarkan homestay milik warga lewat website. Namun memang berbagai kendala membuat tingkat kunjungan belum meningkat. Selama ini hanya beberapa homestay saja yang sudah bisa mendapatkan tamu saat liburan. Itu pun hanya saat momen tertentu,” katanya.

Sri Slamet, salah seorang warga pemilik homestay Gatotkaca di Dusun Kemusuk Kidul – Foto Jatmika H Kusmargana

Sementara itu, Sri Slamet, salah seorang warga pemilik homestay Gatotkaca di Dusun Kemusuk Kidul, RT 04 RW 05, mengaku, sejak dibangun sekitar tahun 2017 lalu, ia baru mendapatkan beberapa tamu yang menginap di homestay miliknya. Tamu itu biasanya adalah sanak saudara dari warga sekitar, asal luar daerah yang datang untuk menghadiri acara di Argomulyo.

“Jadi kalau misalnya ada warga sini yang sedang hajatan, biasanya saudara mereka yang dari luar kota pesan kamar untuk menginap. Kalau tidak ya paling hanya peserta diklat yang kebetulan ikut pelatihan di SMK dekat sini. Mereka semua tahu di sini ada homestay hanya lewat mulut ke mulut. Jadi bukan dari promosi website koperasi,” ujarnya.

Slamet sendiri mengaku, tak memiliki kemampuan untuk memasarkan homestay miliknya lewat internet atau pun media sosial. Ia hanya mengandalkan promosi pada KUD maupun secara mandiri lewat cara paling tradisional yakni lewat mulut ke mulut atau biasa disebut gethok tular.

Homestay Gatotkaca di Dusun Kemusuk Kidul, RT 04 RW 05 – Foto Jatmika H Kusmargana

“Sebenarnya saya sudah menambah fasilitas kamar homestay dengan memasang perabot seperti meja kursi hingga TV. Namun karena pemasarannya kurang, maka ya masih sepi. Padahal kalau bisa berjalan hasilnya lumayan. Karena sekali sewa itu, kita bisa dapat Rp150 ribu per kamar per malam,” ungkapnya.

Lihat juga...