Musik Itu Universal Language

Editor: Koko Triarko

145
Maya Hasan, pemain harpa -Foto: Akhmad Sekhu
JAKARTA – Maya Hasan, termasuk salah seorang pemain harpa andal yang dimiliki Indonesia. Maya sempat melebarkan sayap dengan bermain dalam film berjudul Koper. Maya juga aktif berperan dalam pentas teater.
Nama Maya mulai melejit kala mengisi “Kasih Tak Sampai” di album Sesuatu Yang Tertunda (2001) milik group band Padi. Main harpa bagi Maya sudah mendarah daging. Totalitas membuahkan hasil berbagai penghargaan musik tingkat nasional maupun internasional, seperti The Music Talent Award, The Stannus Music Award, The Violet Burlingham M.P.E. Award.
“Dalam pembukaan pameran UOB Painting of The Year 2018, saya memainkan komposisi ‘Rayuan Pulau Kelapa’, ‘Untukku’ yang dipopulerkan Chrisye, dan ‘Bagimu Negeri’,“ kata Maya Hasan, seusai tampil dalam acara pembukaan pameran itu di Galeri Nasional Indonesia, Gambir, Kamis (8/11/2018) malam.
Perempuan kelahiran Hong Kong, 10 Januari 1972 itu membeberkan, bahwa awal dirinya menjadi pemain harpa sudah sejak lama saat ia berumur 14 tahun.
“Saya belajar harpa dari Heidy Awuy, yang memang saat itu di Indonesia hanya ada dua orang yang terbilang master harpa, yaitu Awuy dan Ussy Piters, anggota TNT Orchestra,“ beber jebolan Willamette University, Salem, Oregon, Amerika Serikat, jurusan Harp Performance, di mana selama menuntut ilmu, tergabung dalam The Salem Chambers Orchestra, Salem, Oregon, Amerika Serikat.
Memainkan harpa sering menggunakan busana nasional, Maya mengemukakan main harpa dianggap instrumen Barat, tapi di Candi Borobudur ternyata ada relief yang berbentuk harpa.
“Kita tidak tahu, apakah beratus-ratus tahun lalu memang masyarakat Indonesia sudah mengenal harpa atau belum, tapi kalau yang memainkan harpa itu orang Indonesia, harpa itu menjadi Indonesia,“ ungkapnya.
Maya menyampaikan, ketika UOB menghubungi dirinya untuk tampil dalam acara pembukaan pameran UOB Painting of the Year 2018, ia terpikir bahwa UOB mempersembahkan untuk bangsa kita. “Jadi sepatutnya saya memakai busana nasional,“ terangnya.
Bagi Maya, harpa sudah menjadi bagian dirinya, jadi main harpa sebagaimana orang bernyanyi, bercerita, bahkan seperti layaknya orang bernafas.
“Bagaimana menghidupkan setiap nada dan bagaimana memberikan nafas pada setiap nada, sehingga lagu itu bukan menjadi not yang dimainkan, tapi lagu itu hidup, lagu itu sampai dari hati saya ke hati Anda,“ paparnya.
Maya menyebut, harpa yang sedang dimainkan adalah harpa elektrik, jadi harpa itu memang banyak sekali jenisnya.
Ada harpa elektrik, harpa akustik, kemudian ada juga harpa student yang lebih simpel. “Jadi, sekarang bentuk harpa sangat beragam,“ ujarnya.
Maya menceritakan, dirinya baru saja berkolaborasi dengan sebuah band metal, dan ke depan akan kolaborasi dengan band metal lagi.
Maya sudah banyak kolaborasi dengan berbagai pemusik dari luar negeri yang berbeda-beda latar belakang dan bahasa, seperti The World Harp Ensemble bersama empat harpis dari Kanada, Jepang, Puerto Rico, dan Amerika Serikat.
“Dengan kolaborasi ini, saya merasakan dan mengerti, bahwa musik itu universal language,“ tegasnya.
Beberapa tahun terakhir ini, Maya mengaku memainkan harpa untuk terapi penyakit.
“Sudah teruji beberapa penelitian di dunia, kalau musik memang memiliki kemampuan untuk bisa ‘mengobati’ penyakit, di mana sebagian besar penelitian, musik klasiklah yang menjadi subjeknya, dan saya menjadi satu-satunya praktisi yang tergabung di dalam International Harp Therapy Program,“ tandasnya.
Baca Juga
Lihat juga...