Musim Hujan Landa Lamsel, Hambat Pengeringan Teri Rebus

Editor: Satmoko Budi Santoso

178

LAMPUNG – Produksi teri rebus di sentra usaha pembuatan teri Muara Piluk Bakauheni terhambat akibat hujan.

Rohmat, salah satu pekerja pembuatan teri rebus menyebut, semenjak awal November usaha perebusan teri mengalami hambatan terutama dalam proses pengeringan.

Pada kondisi normal, proses pengeringan teri yang sudah direbus hanya membutuhkan waktu sekitar satu hari. Saat cuaca mendung bahkan hujan dalam beberapa pekan terakhir proses penjemuran membutuhkan waktu lebih lama.

Ia menyebut, proses perebusan teri dengan menggunakan garam hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk kapasitas delapan kuintal. Selanjutnya, proses penjemuran akan dilakukan pada tempat penjemuran terbuat dari kayu serta strimin yang diberi nama laha.

Proses penjemuran memanfaatkan laha berjumlah sekitar 70 hingga 100 laha per hari bahkan bisa lebih sesuai dengan kapasitas teri rebus.

Ratusan para-para bambu tempat menjemur ikan teri rebus menggunakan laha dalam beberapa hari terakhir dibiarkan kosong akibat hujan. Para pekerja, diakui Rohmat, bahkan harus kerap membuka dan menutup plastik penutup teri di atas laha saat hujan turun.

Hujan turun yang kerap tidak menentu membuat pekerja memilih menutup laha untuk mengantisipasi ikan teri membusuk atau berjamur akibat hujan.

Rohmat, salah satu pekerja di lokasi produksi ikan teri rebus milik Sobri warga Dusun Muara Piluk, Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan – Foto Henk Widi

“Kondisi cuaca kerap tidak menentu didominasi hujan sehingga berimbas proses penjemuran harus selalu dipantau. Bahkan terpaksa ditutup menunggu kondisi cuaca panas. Saat ada panas penutup dibuka, meski butuh waktu lebih dari empat hari agar teri kering sempurna,” terang Rohmat, salah satu pekerja di lokasi produksi teri Bakauheni, saat ditemui Cendana News, Minggu (11/11/2018).

Hambatan akibat hujan, diakui Rohmat, mengakibatkan biaya produksi untuk perebusan teri membengkak. Pasalnya dari sekitar belasan karyawan diupah dengan sistem harian mulai dari proses perebusan, penjemuran, penyortiran hingga pengemasan.

Selama teri rebus tidak bisa dikeringkan dampak hujan yang turun selama beberapa hari terakhir, para pekerja memilih melakukan penyimpanan sejumlah sarana dan prasarana produksi teri rebus.

Amri, pekerja lain dalam produksi teri rebus di Bakauheni menyebut, dampak cuaca hujan berimbas signifikan dalam proses pengeringan. Kualitas teri yang dihasilkan selama musim penghujan kerap kurang baik karena pengeringan kurang sempurna.

Ia juga menyebut, pengeringan dengan proses manual memanfaatkan sinar matahari belum menggunakan oven, membuat pengeringan maksimal saat kemarau.

Proses pengeringan sempurna diakui Amri saat musim kemarau melanda wilayah Lamsel sejak bulan Mei hingga Oktober. Memasuki bulan November meski produksi teri hasil tangkapan nelayan meningkat, Amri menyebut, kendala cuaca mengakibatkan waktu pengeringan lebih lama dibandingkan hari biasa.

Salah satu cara menyiasati produksi melimpah di tengah hambatan cuaca, bos penampung teri kerap bekerjasama dengan produsen teri di wilayah lain.

“Saat produksi teri melimpah tapi cuaca hujan biasanya ikan teri dioper ke Kabupaten Lampung Timur, terutama saat di sana sedang tidak hujan agar pengeringan bisa berjalan dengan normal,” papar Amri.

Harga teri segar sebelum direbus dan dikeringkan saat ini dibeli dari nelayan dengan harga bervariasi. Jenis ikan teri yang kerap dibeli meliputi teri jengki dengan harga Rp180.000 hingga mencapai Rp200.000 berisi sekitar 15 kilogram teri basah.

Setelah melalui proses perebusan dengan garam dan dikeringkan, harga teri kering bisa mencapai Rp50.000 hingga Rp80.000 per kilogram sesuai dengan ukuran dan kualitas teri. Saat kemarau, kualitas teri yang bagus membuat nilai jual teri tinggi.

Mengisi waktu musim penghujan, meski produksi teri tetap berjalan dan laha penjemuran ditutup, Amri dan sejumlah pekerja memilih beristirahat. Meski beristirahat dari proses perebusan dan penjemuran, pekerja masih tetap disibukkan dengan pemeliharaan sarana dan prasarana. Pekerjaan tersebut di antaranya memperbaiki tungku perebusan yang dibuat dengan semen.

Selain itu pekerja melakukan perbaikan laha terbuat dari kayu dan strimin yang sebagian sudah rusak. Proses perbaikan laha berjumlah ratusan laha tersebut sengaja dilakukan saat produksi sedang terhambat.

Perbaikan laha diakuinya dilakukan dengan mengganti strimin yang jebol serta bingkai kayu rusak agar bisa digunakan untuk menjemur teri saat kondisi cuaca mendukung proses pengeringan.

Baca Juga
Lihat juga...