Nama ‘Pak Harto’ Jadi Inspirasi Pedagang di Sawahlunto

Editor: Koko Triarko

173
SAWAHLUNTO – Kota Sawahlunto, Sumatra Barat yang dikenal  sebagai daerah penghasil batu bara dengan kualitas terbaik dunia ini, tidak hanya menyimpan berbagai cerita sejarah seputar tambang batu bara di daerah ini.
Kerja paksa, menjadi salah satu cerita yang cukup tragis tentang para pekerja penambangan batu bara. Cerita seputar tambang batu bara ini, tersimpan di Museum Tambang Batu Bara Ombilin.
Tapi, untuk mendapatkan informasi seputar cerita tambang batu bara, ada satu warung yang cukup dikenal sebagai tempat yang pas untuk bersantai, sembari mendengarkan cerita tentang tambang batu bara Sawahlunto.
Persis berada di sebelah kanan Lapangan Segitiga atau sebelah kiri dari Kantor PT. Bukit Asam, terdapat satu warung yang dikenal dengan Waroeng Pak Harto. Di warung ini selain tersedia makanan seperti nasi goreng, dan pical ayam dan itik, juga menjual sejumlah jenis hidangan minuman lainnya.
Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang ke Kota Sawahlunto, dan menemui adanya Waroeng Pak Harto, barangkali akan berpikir, bahwa Presiden kedua RI, HM Soeharto, memiliki sebuah usaha di Sawahlunto.
Vio Renetha, pemilik Waroeng Pak Harto yang ada di kawasan wisata di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat/Foto: M. Noli Hendra
Apalagi, pada plang nama yang dipasang persis di tepi jalan, gambar Pak Harto dilukiskan menggunakan kumis dan memakai blangkon yang merupakan ciri khas orang Jawa. Dugaan akan semakin kuat, bahwa warung itu adalah sebuah usaha milik mantan Presiden RI yang dijuluki sebagai Bapak Pembangunan.
Vio Renetha, seorang perempuan pengelola Waroeng Pak Harto, mengatakan, Waroeng Pak Harto itu sudah tiga tahun beroperasi. Dulu, lokasi warung itu adalah dapur dari salah satu rumah pegawai di PT. Bukit Asam, sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menjalankan usaha tambang batu bara di Sawahlunto.
Meski disebutnya tempat Waroeng Pak Harto adalah bekas dapur sebuah rumah zaman dulu, secara desain tidak terlihat seperti dapur, melainkan mirip dengan sebuah rumah berukuran kecil, di mana arsitektur bangunan masih kental dengan bangunan tua.
Netha menjelaskan, sebelum dirinya menggunakan dapur itu menjadi sebuah warung, memang ada sedikit perubahan yang dilakukannya, yakni seperti mencocokkan desain sebuah warung dari bentuk dasar yang disebut dapur.
“Awalnya, saya hanya berjualan pical ayam. Tapi, sepertinya kurang pas juga jika hanya sekedar berjualan makanan. Jadi, saya pun mencoba menambah menu, yakni menjual minuman, seperti kopi, teh, gingseng, dan berbagai jenis minuman yang cocok di daerah Sawahlunto. Hasilnya, pelanggan saya jadi ramai,” katanya, Senin (5/11/2018).
Waroeng Pak Harto buka mulai pukul 07.00 Wib pagi dan tutup pukul 24.00 Wib. Dengan adanya beragam menu minuman itu, Waroeng Pak Harto, cocok sebagai tempat nongkrong. Dan, tak jarang orang yang baru pertama kali datang ke Sawahlunto, banyak bertanya seputar tambang batu bara di warung tersebut.
Nama Pak Harto pada warung itu, ternyata berkaitan dengan pemilik rumah sekaligus dapur yang kini dijadikan warung tersebut. Dapur yang dialihfungsikan menjadi warung, sementara rumah jadi Museum Tambang Batu Bara Ombilin. Posisi antara rumah dan dapur terlihat terpisah, tapi cukup rapat.
“Penghuni rumah itu adalah Pak Harto yang merupakan pegawai di PT. Bukit Asam, yang merupakan orang dari Jawa. Maka, ada gambar pakai blangkon. Tapi, Pak Harto ini bukan Pak Harto Presiden kedua RI, dan memang nama istri beliau juga Ibu Tien. Entah kebetulan entah bagaimana, tapi begitulah informasi yang saya terima,” sebutnya.
Meski ia menyatakan, bahwa Waroeng Pak Harto itu tidak berkaitan dengan Presiden kedua RI, namun Netha mengaku cukup mengenal sosok Soeharto. Untuk itu, baginya nama di warungnya tersebut, tidak hanya sekadar nama dari penghuni rumah dan pemilik dapur dari warungnya itu.
Dengan mengenalkan nama Waroeng Pak Harto, ia melihat Soeharto yang merupakan Bapak Pembangunan Indonesia, bisa menjadi inspirasi baginya dalam berusaha.
“Pak Harto presiden yang mengendepankan ekonomi rakyat. Jadi, dengan usaha yang saya jalani, berdampinganlah dari cita-cita Pak Harto untuk menumbuhkan kembangkan ekonomi rakyat,” ucapnya.
Baca Juga
Lihat juga...