NTT Mulai Kembangkan Industri Garam

Editor: Koko Triarko

231
MAUMERE – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, tengah mengembangkan industri garam secara besar-besaran di beberapa kabupaten, agar dalam waktu tiga tahun ke depan NTT bisa menyumbang 1 juta ton produksi garam nasional setiap tahunnya.
“Indonesia masih mengimpor 3,9 juta ton garam dari Australia. Padahal, kadar garam di Australia rendah, sementara di NTT kadar garamnya 6 persen. Kami rencanakan dalam kurun waktu tiga tahun ke depan, NTT harus menyumbang produksi garam nasional sebesar 1 juta ton setahun,” sebut Wakil Gubernur NTT, Yoseph Nae Soi, Senin (5/11/2018) siang.
Saat meninjau tambak garam di Nangahale, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nae Soi menyebutkan, pemerintah provinsi sudah merencanakan akan mengembangkan produksi garam, baik garam indutsri maupun konsumsi.
Wakil Gubernur NTT, Josef  Nae Soi, (kanan) saat meninjau tambak garam konsumsi seluas 1,5 hektare di Desa Nangahale, kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka -Foto: Ebed de Rosary
“Selain di Flores Timur, juga akan dikembangkan di Sikka, Belu dan Rote Ndao. Sementara untuk Sabu Raijua, sudah berjalan dan akan ditingkatkan produksinya,  termasuk di Nagekeo yang sudah dibangun,” ungkapnya.
Selama ini, katanya, NTT selalu dikatakan daerah gersang dan kering. Padahal wilayah NTT memiliki potensi kelautan yang kaya, termasuk potensi pengembangan industri garam.
“Investor dari luar daerah sudah berbondong-bondong datang ke kami untuk meminta agar bisa berinvestasi tambak garam di NTT. Potensi tambak garam di NTT masih sangat besar, sebab selama ini belum digarap secara maksimal,” tuturnya.
Namun, tegasnya, pemerintah provinsi meminta agar diterapkan sistem plasma yang bisa melibatkan masyarakat, agar dapat memberikan keuntungan kepada masyarakat di sekitar lokasi tambak.
“Selain garam konsumsi, pemerintah provinsi NTT juga akan menggenjot garam industri, sehingga bisa memanfaatkan potensi lahan tidur yang ada untuk dikembangkan menjadi areal tambak garam,” tuturnya.
Bupati Flores Timur, Antonius Gege Hadjon, mengatakan, pemerintah kabupaten Flores Timur sedang membangun kerja sama dengan investor nasional untuk mengembangkan garam industri.
“Kami fokus untuk mengembangkan garam industri. Saat ini sedang disurvey lokasi lahan untuk pengembangan garam. Target awal akan dikembangkan di pulau Solor seluas 1.500 hektare,” ungkapnya.
Dijelaskan Anton, sapaannya, awalnya memang dimulai dari pengembangan garam indutsri terlebih dahulu, sementara garam konsumsi yang selama ini dikembangkan masyarakat secara tradisional tetap diperhatikan.
“Dalam pengembangan industri garam tersebut, perusahaan tetap melibatkan masyarakat dengan sistem plasma. Masyarakat yang selama ini mengolah garam tradisional akan dibantu untuk memproduksi garam konsumsi,” terangnya.
Masyarakat yang selama ini memproduksi garam secara tradisional dengan cara memasak air laut menjadi garam, akan dilatih untuk menjadi petambak garam dengan produksi garam menggunakan teknologi geomembran.
“Garam konsumsi yang mempergunakan teknologi ini sudah ada di Meko, Desa Pledo, Kecamatan Witihama, seluas dua hektare. Garam yang diproduksi tersebut pun merupakan garam beryodium dan sudah dikemas dan beredar di pasar,” ungkapnya.
Baca Juga
Lihat juga...