Pabrik Meubel di Sukoharjo Jawa Tengah Terbakar

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

SOLO — Sebuah pabrik pengolahan kayu di wilayah Parangjoro, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah, terbakar hebat. Belasan pemadam kebakaran yang diterjunkan untuk memadamkan api sempat kesulitan, karena sulitnya mencari pasokan air, baik dari hidrant maupun sungai.

Sejumlah karyawan mengakui tidak mengetahui secara persis terjadinya kebakaran yang membakar bagian finising pabrik meubel tersebut. Saat kejadian, seluruh pekerja tengah istirahat siang.

“Katanya api berasal dari salah satu ruangan finising karena ada kompresor dan bahan-bahan yang mudah terbakar seperti tinner dan lain sebagainya. Saat kebakaran semua ada di luar karena baru jam istirahat,” kata Winarni salah satu karyawan, Kamis (15/11/2018).

Kebakaran itu menurut Winarni terjadi sekitar poukul 12.45 WIB. Ada sejumlah karyawan yang mendengar suara letupan sebelum api membesar dan membakar bagian pabrik.

“Ada yang mendengar suara ledakan. Kemungkinan berasal dari kompresor,” lanjut dia.

Hal serupa juga dikatakan Dwi Handayani, pekerja pabrik meubel lainnya. Menurutnya, kebakaran yang terjadi di salah bagian dari pabrik PT Naga Bhuana Aneka Piranti ini mengagetkan karyawan.

Di lokasi itu sudah banyak barang-barang meubel yang tinggal penyelesaian. Kondisi itu membuat api dengan mudah membesar dan membakar hampir seluruh bagian finising.

“Di bagian itu banyak meubel yang tinggal finising. Ada bahan lainnya seperti kayu dan gabus spon,” ulasnya.

Hingga pukul 15.00 wib, kebakaran yang terjadi di pabrik meubel tersebut belum sepenuhnya dapat dipadamkan. Belasan pemadam dari Sukoharjo, Solo, dan Wonogiri juga dikerahkan ke lokasi.

Petugas berusaha memadamkan kebakaran pabrik meubel di Grogol Sukoharjo. Foto: Harun Alrosid

Dari kebakaran ini belum bisa dipastikan berapa kerugian yang ditimbulkan karena dari pihak manajeman juga belum memberikan keterangan resmi. Hanya saja kebakaran yang menghanguskan bagian finising pabrik itu ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. Sementara di sisi lain banyak karyawan juga belum mendapat kepastian untuk terus bekerja atau diliburkan.

Lihat juga...