Panen Melimpah Sebabkan Harga Jual Kelapa di Lamsel, Anjlok

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Keluhan sejumlah petani pekebun komoditas kelapa di wilayah Lampung Selatan, kembali terjadi sejak dua bulan terakhir. Mat Supi, salah satu pemilik usaha jual beli hasil pertanian membenarkan, jika harga kelapa turun sejak September, silam.
Menurutnya, anjloknya harga kelapa karena hasil panen yang melimpah dari sejumlah kebun milik petani. Kisaran penurunan harga kelapa mencapai Rp900 hingga Rp1.000 per butir di tingkat petani.
Mat Supi menyebut, di sejumlah pengepul hasil pertanian, stok kopra sangat melimpah dan sebagian belum dikirim ke Pulau Jawa. Sekali pengiriman kelapa untuk bahan bumbu, Mat Supi mengirim sekitar 10.000 butir untuk wilayah Banten, Tangerang dan Jakarta. Memanfaatkan kendaraan ekspedisi, selain mengirim kelapa ia juga mengirim komoditas pertanian lain berupa nangka, sayur, pisang, petai serta berbagai jenis buah-buahan.
Menurutnya, empat bulan sebelumnya, saat memasuki musim kemarau, harga kelapa masih berkisar Rp1.000 untuk kelapa kualitas biasa. Kini harga kelapa dengan kualitas yang sama dibeli dengan harga Rp750 per butir.
Kelapa kualitas sedang semula dibeli Rp1.500, kini dibeli Rp1.200 per butir, dan kelapa kualitas super semula Rp2.000 dibeli dengan harga Rp1.800 per butir.
Pekerja memasukkan kelapa yang akan dikirim ke wilayah Tangerang, memanfaatkan kendaraan ekspedisi -Foto: Henk Widi
“Petani dan pengepul sama-sama mengikuti hukum pasar, di mana pasokan barang melimpah sementara permintaan menurun atau stabil, harga akan anjlok. Pada bulan November ini stok kelapa sangat melimpah, sehingga harga anjlok,” terang Mat Supi, pelaku usaha jual beli hasil pertanian di Jalinsum, Kecamatan Penengahan, Sabtu (24/11/2018) siang.
Sebagai upaya mengantisipasi kerugian akibat anjloknya harga kelapa, Mat Supi menerima komoditas pertanian lain. Sejumlah petani yang memiliki kebun buah petai, menjual dengan harga per empong (isi seratus keris petai) seharga Rp60.000, jengkol Rp25.000 per kilogram, nangka muda Rp2.000 per kilogram serta sejumlah komoditas sayuran.
Kelapa yang sudah disortir sesuai dengan kualitasnya, dipilih untuk dijual sebagai kelapa bumbu, dan sebagian dibuat menjadi kopra.
Pedagang hasil pertanian lainnya, Sudirman, juga mengakui, jika anjloknya harga kopra karena terpengaruh panen yang melimpah.
Sebelumnya saat musim kemarau dengan produksi yang menurun, harga kelapa lebih tinggi. Sejumlah kelapa yang tidak masuk dalam ukuran untuk dijual sebagai kelapa bumbu, disiasati Sudirman dengan membuatnya menjadi kopra.
Meski demikian, ia mengaku kopra kering sebagai bahan baku pembuatan minyak goreng juga sedang anjlok. Kopra yang sudah kering sebelumnya pernah mencapai harga Rp9.000 per kilogram, kini anjlok pada harga Rp3.800 per kilogram.
Selain faktor melimpahnya bahan baku, tibanya musim hujan membuat proses penjemuran alami memakai sinar matahari terganggu. Imbasnya kualitas kopra lebih menurun, karena sebagian dikeringkan melalui proses pengasapan. Kopra yang anjlok terpaksa disimpan pada karung khusus di ruangan yang kering sembari menunggu harga membaik.
“Hujan yang kerap turun tiba-tiba, membuat pengeringan kopra lebih lambat dan terkadang berjamur, dan kualitasnya lebih rendah dibanding saat kemarau,” beber Sudirman.
Namun, ia mmasih bisa memanfaatkan air kelapa hasil proses memecah kelapa sebagai bahan baku pembuatan nata de coco. Bahan baku air kelapa tersebut dijualnya seharga Rp5.000 untuk satu jerigen berisi 20 liter.
Selain limbah air kelapa yang masih bisa dijual, batok kelapa yang dihasilkan juga dimanfaatkan untuk membuat arang. Harga satu keranjang batok kelapa mencapai Rp40.000, dan kerap diambil dua pekan sekali.
Menurunnya komoditas pertanian jenis kelapa disebutnya tidak diiringi komoditas pisang. Sejumlah varietas pisang yang pasokannya menurun, diakui Sudirman justru memiliki harga yang bagus.
Jenis pisang kepok, ambon dan raja nangka, bahkan masih dibeli dengan kisaran Rp12.000 hingga Rp30.000 per tandan. Berkurangnya pasokan pisang, karena sebagian tanaman pisang terkena hama layu daun atau fusarium, yang mengakibatkan produksi pisang menurun.
Lihat juga...