Pasar Malam, Omzet Penjualan Produk UMKM, Meningkat

Editor: Satmoko Budi Santoso

168

LAMPUNG – Kegiatan pasar malam masih menjadi sarana alternatif dalam penjualan sejumlah produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang ada di wilayah Lampung.

Hal tersebut diungkapkan oleh salah satu pedagang hiasan berupa pot, vas, dan bunga imitasi bernama Suharti (60) yang menjual ratusan unit hasil kerajinan keramik. Ia menyebut, hiasan interior ruang tamu yang dijual merupakan hasil kerajinan di wilayah Natar Lampung Selatan dan dijual keliling Lampung.

Hasil kerajinan tersebut diakuinya dijual di salah satu toko yang berada di Natar serta cabang lain di Bandarlampung. Salah satu strategi dalam memperluas jangkauan pemasaran produk kerajinan bernilai estetika tersebut melalui pasar malam.

Suharti menyebut, kegiatan pasar malam di lapangan Kecamatan Penengahan yang digelar sejak awal hingga akhir November menjadi salah satu cara menjual produk kerajinan. Selain asal Lampung Selatan, sebagian hasil kerajinan merupakan karya pembuat pot, vas, dan bunga keramik serta pernak-pernik hiasan asal Yogyakarta.

Mengikuti pasar malam, menurut Suharti, sudah dilakoni sejak lima tahun terakhir untuk menjual produk hiasan rumah tersebut. Selama berjualan pada pasar malam dengan rentang waktu dua pekan hingga satu bulan, ia menyebut, omzet bisa mencapai puluhan juta per bulan.

Meski kunjungan warga pada pasar malam mengalami pasang surut dalam semalam ia bisa mendapat omzet ratusan bahkan jutaan, terutama saat akhir pekan. Sejumlah barang yang cukup favorit di antaranya bunga keramik, vas keramik, bunga imitasi buatan tangan.

“Saat tidak ada pasar malam misalnya selama bulan Ramadhan, saya bisa berjualan di toko dengan permintaan masih tinggi. Terutama bagi para peminat hiasan rumah untuk menambah estetika ruang tamu,” terang Suharti, salah satu pedagang hiasan bunga dan pernak-perniknya saat ditemui Cendana News di pasar malam Kecamatan Penengahan, belum lama ini.

Suharti menyebut, penjualan melalui pasar malam kerap mendapatkan untung berlipat, namun juga kadang rugi. Kerugian diakuinya terjadi saat kondisi cuaca tidak mendukung dengan dominan hujan yang kerap dihindari saat penyelenggaraan pasar malam.

Pada pelaksanaan pekan pertama, ia kerap menjual kerajinan UMKM tersebut dengan harga yang tinggi. Namun menjelang terakhir kegiatan pasar malam ia kerap memberi diskon besar.

Strategi marketing tersebut kerap berhasil sehingga banyak barang dagangan laku sehingga ia tidak perlu membawa barang dagangan dalam jumlah banyak.

Sejumlah pernak-pernik hiasan keramik, diakui Suharti, dijual dengan harga mulai Rp10.000 hingga termahal Rp200.000. Vas serta pot keramik dari ukuran kecil hingga ukuran besar  dijual dengan harga terjangkau.

Ia beralasan, pasar malam kerap dilakukan di lapangan kecamatan dengan sasaran masyarakat di pedesaan. Kondisi tersebut membuat ia menjual hiasan keramik dengan harga terjangkau agar barang dagangannya laku.

Endang, salah satu pedagang mainan anak-anak meraup omzet ratusan ribu per malam – Foto Henk Widi

Penjual yang ikut dalam kegiatan pasar malam lain di antaranya penjual hiasan dinding berupa kaligrafi berbahan kulit kambing, sapi disertai pigura.

Alhasan (40), salah satu pedagang kaligrafi asal Bandarlampung menyebut, kerap berjualan di depan kantor pos besar Tanjungkarang sebagai tempat usaha pembuatan kaligrafi. Meski memiliki toko, ia menyebut, mengikuti pasar malam ke seluruh Lampung merupakan upaya meningkatkan penjualan.

“Sistem jemput bola dengan membawa dagangan pada pasar malam masih menjadi solusi untuk meningkatkan omzet,” beber Alhasan.

Pajangan dinding yang kerap dibeli di antaranya kaligrafi serta lukisan di atas kulit kambing dengan tema pemandangan di Mekah serta kalimat motivasi rohani. Produk tersebut diakuinya dibuat dengan menggunakan tangan dan dikerjakan di salah satu workshop (bengkel) sekaligus toko penjualan di Tanjungkarang.

Selain kaligrafi, ukiran kayu serta bingkai foto dengan bentuk artistik dijualnya dengan harga bervariasi. Harga yang ditawarkan mulai Rp50.000 hingga Rp500.000 menyesuaikan ukuran memberinya omzet ratusan ribu per malam.

Alhasan menyebut, daya beli masyarakat saat ini di wilayah pedesaan cukup baik pasalnya warga memasuki musim panen padi. Salah satu faktor omzet meningkat dalam penyelenggaraan pasar malam sebab dilakukan survei sebelum menggelar dagangan.

Ketika musim panen jagung serta padi tiba, daya beli masyarakat yang tinggi juga menjadi alasan pasar malam digelar. Ratusan pedagang yang berjualan mendapat omzet ratusan ribu hingga jutaan sesuai dengan jenis barang yang dijual.

Selain berbagai jenis kerajinan, sejumlah mainan tradisional anak di pasar malam juga dijual di antaranya mainan tradisional kapal otok otok.

Ari Irawan, pedagang asal Jati Agung menyebut, membawa sekitar 500 unit kapal otok otok. Mainan tradisional tersebut kerap disukai anak-anak saat kegiatan pasar malam dengan harga Rp15.000 ukuran kecil dan Rp25.000 ukuran besar. Mainan tradisional yang masih cukup diminati tersebut, kerap dijual olehnya secara keliling dengan menggunakan motor.

“Pasar malam selama ini menjadi sarana untuk menjual produk mainan tradisional dengan hasil yang menjanjikan,” beber Ari Irawan.

Selain sejumlah pedagang hiasan, mainan, sejumlah pedagang produk kuliner di antaranya mie ayam bakso, mie tektek, kerak telor serta penyedia jasa wahana permainan juga mendapat pemasukan cukup besar saat pasar malam.

Wahana permainan jenis trampolin, rumah balon, kora kora dan permainan lain diminati anak-anak yang diajak oleh orangtua. Menyediakan tiket dengan harga Rp5.000 hingga Rp10.000 hiburan menarik tersebut sekaligus sumber penghasilan bagi penyedia wahana.

Hasan, pedagang makanan tradisional mie tektek mengaku, selama penyelenggaraan pasar malam mendapatkan omzet sekitar Rp700 ribu per malam. Hasil tersebut diakuinya lebih tinggi dibandingkan hari biasa, setiap malam berjualan di tepi Jalinsum dengan omzet Rp500 ribu per malam.

Penjualan makanan tradisional meningkat karena pasar malam masih menjadi magnet bagi pertemuan penjual dan pembeli yang kerap diselenggarakan setahun sekali di lokasi yang sama.

Baca Juga
Lihat juga...