hut

Pelukis Kawit Tristanto Menikmati Manisnya Poster Film

Editor: Mahadeva WS

JAKARTA – Kawit Tristanto, termasuk pelukis yang sangat beruntung. Sebagai seniman, Dia ikut menikmati masa manisnya order poster film. Masa keemasan tersebut saat ini tak lagi bisa ditemui, karena poster film sekarang dibuat dengan mesin printing.

Kawit, menjadi salah satu pelukis yang menggelar pameran bersama, Nekarona: Solo 5+, di Balai Budaya, Jakarta, 21-29 November 2018. Sebuah pameran, yang menampilkan karya-karya pelukis Solo, yang jumlahnya lebih dari lima sehingga diberi judul Solo 5+. “Saya mulai aktif melukis sejak tahun 70-an, “ kata pelukis Kawit Tristanto kepada Cendana News.

Lelaki kelahiran Pedan, Klaten tahun 1948 itu, mengasah kemampuan melukisnya di Sekolah Semi Rupa Indonesia (SSRI) pada 1965 hingga 1970. Dalam pameran lukisan, Nekarona: Solo 5+, Kawit menyertakan satu karya lukisnya, yang berjudul Jagoanku. “Saya membuat lukisan lomba balap karung, yang biasa diadakan saat Agustusan untuk merayakan HUT Kemerdekaan RI,” tandasnya.

Selain melukis, pada masa jayanya, Kawit juga membuat lukisan poster film. “Saya mengerjakan satu poster film selama dua hari, tapi hasilnya bisa untuk hidup sebulan,” tandasnya dengan bangga. Berkat order poster film, Kawit mengaku dapat penghasilan yang sangat besar. “Saya bisa hidup lebih dari cukup, bahkan bisa berfoya-foya,” kenangnya tanpa menyebut secara pasti, besarnya penghasilannya.

Kawit menyayangkan, poster film saat ini dibuat dengan mesin printing. Menurutnya, hal tersebut membuat poster film menjadi kurang artistik. Hal itu berbeda dengan saat poster film dibuat dengan cara di lukis.

Sapuan kuas seniman saat membuat poster memberikan pengaruh yang tegas dan ekspresif, yang diklaimnya mampu untuk menarik perhatian dan minat menonton film. Dalam membuat poster film, seniman seperti meniupkan roh dan memberi daya magis, sehingga poster film tampak seperti hidup.

“Dari sekian banyaknya membuat poster film, saya paling berkesan ketika membuat poster film King Kong, karena poster yang dibuat sangat besar, dengan di bagian bawah diberi lubang, sehingga penonton dapat lewat di bawah poster, merasakan sensasi besarnya kingkong, makhluk raksasa itu, “ paparnya.

Kawit, mengaku rindu masa membuat poster film lagi, namun rasa itu saat ini dipupus dengan membuat karya lukis. “Sekarang saya mengekspresikan diri dengan melukis, yang dapat dilihat dalam pameran ini,” tandasnya.

Sebagai seniman, Kawit sangat ingin untuk menggelar pameran lukisan tunggal di Yogyakarta. Sebuah Kota Budaya, yang telah melahirkan banyak seniman besar.

Lihat juga...