Pemkab Banyuwangi Gandeng Warung Pintar Angkat Potensi UMKM

133

BANYUWANGI – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, bekerja sama dengan perusahaan rintisan bidang teknologi ritel “Warung Pintar” mengangkat potensi daya saing Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), termasuk warung-warung kecil, serta menumbuhkan iklim wirausaha kepada masyarakat lainnya.

“Kami sudah bertemu dengan Founder dan CEO Warung Pintar Agung Bezharie dan Harya Putra. Mereka juga sudah ke Banyuwangi. Insyaallah sebentar lagi sudah matang skema kolaborasinya,” ujar Bupati Abdullah Azwar Anas saat dihubungi di Banyuwangi, Minggu.

Anas bercerita, dirinya baru saja menghadiri kegiatan “Pesta Rakyat Pintar” yang digelar oleh pengelola “Warung Pintar”.

Warung Pintar adalah perusahaan rintisan (start up) yang menggarap teknologi sektor ritel. Warung-warung kecil didigitalkan dan dipermak sedemikian rupa untuk membuatnya berdaya saing saat harus berhadapan dengan ritel-ritel modern.

Anas menambahkan, setidaknya terdapat dua skema yang bakal dijalankan. Pertama, menempatkan Warung Pintar di ruang-ruang publik dan objek-objek wisata di kabupaten paling timur di Pulau Jawa itu.

“Yang punya ini saya harapkan bukan orang per orang nantinya, tapi komunitas. Misalnya di ruang publik daerah A, maka yang mengelola adalah komunitas warga di sana, bisa koperasi atau kelompok pengajian ibu-ibu dan anak-anak muda. Sekaligus menggiatkan kewirausahaan, karena warga bisa berproduksi dan menjualnya di Warung Pintar,” ujar Anas.

Skema kedua, katanya, mendorong warung-warung yang sudah ada untuk didigitalkan melalui Warung Pintar, sehingga bisa lebih kompetitif saat harus berhadapan dengan ritel modern.

“Kebetulan, di Banyuwangi, kami membatasi ketat pergerakan ritel modern. Kalau di daerah lain jumlah ritel modern bisa ratusan unit, di Banyuwangi baru puluhan karena memang kami batasi. Tapi warung-warung milik Mbok Yem, Mbok Nah, ini kan tetap harus maju, maka perlu ditingkatkan sistemnya. Warung Pintar bisa menjadi salah satu solusi,” katanya.

Menurut Bupati Anas, upaya itu merupakan wujud inklusi ekonomi lewat teknologi di Banyuwangi. “Jadi teknologi tidak memakan yang kecil,” katanya.

Di Warung Pintar, selain skema pendigitalan untuk manajemennya, yang ditawarkan antara lain desain yang lebih modern, di antaranya dilengkapi infrastruktur perangkat lunak, seperti charger station. Berdasarkan riset, pendigitalan ala Warung Pintar mampu meningkatkan pendapatan bulanan warung-warung kecil sebesar 89 persen.

“Jadi yang dibentuk oleh perusahaan teknologi di era Revolusi Industri 4.0 itu ekosistemnya. Mimpi kami Banyuwangi bisa bangun ekosistem ritel kecil yang terdigitalisasi, yang punya engagement kuat ke komunitas di sekitarnya sekaligus bisa menyejahterakan masyarakat. Ya namanya mimpi kan enggak masalah, kita mulai dari kolaborasi ini,” katanya.

Selain menjadi upaya meningkatkan kinerja warung-warung kecil dan mengajak warga berbisnis, Warung Pintar juga menjadi jendela promosi wisata daerah. Hal itu karena di Banyuwangi nantinya di setiap Warung Pintar ada perangkat promosi wisata. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...