Pemkot Balikpapan Masih Kejar Target Imunisasi MR

Editor: Mahadeva WS

161

BALIKPAPAN – Pemkot Balikpapan, terus berupaya merealisasikan target imunisasi Measles dan Rubella (MR). Untuk mencapai target 95 persen yang telah ditetapkan, pemkot terus menggelar sosialisasi ke sejumlah sekolah. Hingga kini, penolakan orangtua terhadap imunisasi MR masih terjadi. Tingkat cakupan imunisasi di Balikpapan, baru mencapai kisaran 80 persen.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Balikpapan Hakimin – Foto Ferry Cahyanti

Kepala Kantor Kemeterian Agama (Kemenag) Kota Balikpapan, Hakimin, mengungkapkan, yang harus dilakukan adalah sosialisasi. Hal itu dimaksudkan, agar orangtua memahami pentingnya imunisasi, yang dilakukan untuk mencegah penyakit campak dan rubella. “Ada beberapa pondok memang sulit, ini perlu pendekatan. Kalau di sekolah-sekolah Islam, hanya perlu penjelasan dengan sosialisasi, sehingga orangtua pun akan memahaminya,” tandasnya, Kamis (8/11/2018).

Hakimin menyebut, masih ada pemahaman yang perlu harus diluruskan. Khususnya menyangkut kehalalan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) disebutnya, sudah menyatakan boleh untuk menggunakan vaksin MR. “Jadi memang ada pemahaman-pemahaman yang perlu kita luruskan, tapi kan majelis ulama sudah mengatakan itu boleh, karena ini kaitannya dengan mudarat, dari pada kematian, maka itu hukumnya boleh,” papar Hakimin.

Kemenag sudah mendatangi salah satu madrasah, yaitu MTS Negeri 2. Hasilnya, dari sebelumnya hanya 30 siswa yang mau di imunisasi, kini sudah 168 siswa mau di imunisasi. Dan masih ada sekira 200-an siswa lagi yang harus diimunisasi. “Dari mereka itu takut di suntik aja, bisa dibayangkan MTS Negeri 2 dari 30 orang, saya datang ada 168 yang imunisasi dari jumlah siswa. Masih ada 200 siswa lagi Insya Allah akan kita selesaikan,” imbuhnya.

Dalam sosialisasi yang diselenggarakan di kantor Kemenag Balikpapan, Salah seorang  Guru PAUD di Balikpapan, Ati, menyebut, telah mendapatkan sosialisasi hingga dua kali. Dan informasi yang diperoleh sudah diterus kepada orangtua murid. “Sudah berkali-kali kita lakukan, ketika orang tua menolak kita tidak bisa memaksa. Sebagian besar tidak mau. Jadi tidak bisa kita memaksa mereka yang tidak mau,” ujarnya.

Ati menuturkan setiap tim dari dinas Kesehatan datang mensosialisasikan dan melaksanakan imunisasi MR, hanya dihadiri empat sampa lima orang tua siswa. “Berbagai upaya terus dilakukan, tapi bagaimana kalau yang datang hanya sedikit saat sosialisasi,” tandas Ati.

Kabid P2PL DKK Balikpapan, dr. Esther Vonny, mengatakan, anak usia sembilan bulan hingga 15 tahun, merupakan usia paling rentan tertular Campak dan Rubella. “Dengan kerentanan tersebut, pemerintah memprioritaskan usia sembilan bulan sampai 15 tahun menjadi sasaran imunisasi,” jelasnya dalam acara yang sama.

Vaksin wajib dilakukan siapa saja, baik orang dewasa maupun ibu hamil. Namun demikian, karena keterbatasan jumlah vaksin, maka pemberiannya diprioritaskan untuk anak-anak. “Anak usia ini fatalitinya tinggi sekali, makanya prioritas ada diusia itu,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...