Penambang Emas Kulonprogo Hasilkan Rp50ribu per-Hari

Editor: Mahadeva WS

156

YOGYAKARTA – Di bawah gubuk kecil yang berada di tengah perbukitan terpencil dan sepi, Gangsar (25) dan istrinya, Rina (24), sibuk memecah bongkahan batu. Menggunakan palu, batu sebesar kepalan tangan dipecah menjadi serpihan.

Keduanya nampak begitu hati-hati memperlakukan setiap bongkahan batu-batu. Bagi keduanya, batu-batu itu bukanlah sekedar batu biasa. Batu-batu itu merupakan satu-satunya sumber penghidupan mereka. Satu gram emas dari 150 kilogram batu yang mereka olah selama satu hari, akan sangat-sangat berarti untuk menyambung hidup keluarga kecil mereka. Jika mendapatkan satu gram emas mentah dengan kadar 57 persen, Gangsar dan Rina akan mengantongi uang Rp335 ribu.

Artinya, mereka bisa menggaji tiga orang pekerja tambang, yang setiap hari harus masuk dan mengangkut batu dari lubang galian sedalam puluhan meter, dibawah bukit-bukit batu. “Kalau sehari bisa dapat satu gram emas saja, itu sudah bagus sekali. Karena kenyataannya, paling-paling hanya dapat 300 mili saja sehari. Kalau dihitung-hitung, satu orang hanya dapat Rp50 ribu bersih,” ujar Gangsar, salah satu penambang emas di Dusun Plampang 2, Kalirejo, Kokap, Kulonprogo.

Kelompok Gangsar, merupakan salah satu dari empat kelompok penambang emas yang masih tersisa di Desa Kalirejo, Kokap, Kulonprogo. Warga asli Kalirejo itu mengaku, tidak memiliki pilihan lain, selain menjadi penambang emas. Sebuah profesi yang telah dijalankan turun-temurun oleh keluarga tersebut.

Puluhan penambang emas lain, kini memilih meninggalkan profesi penuh resiko tersebut. Mencari pekerjaan lain yang lebih pasti dari sisi penghasilan. “Saya tidak punya pilihan lain. Karena mau kerja apa lagi? Akhirnya ya hanya jadi penambang emas. Walaupun resikonya besar dan hasilnya tidak pasti,” tandas Gansar saat ditemui Cendananews.

Gangsar dan istrinya Rina tengah memecah batu untuk diproses menjadi emas mentah – Foto: Jatmika H Kusmargana

Bersama dua orang rekannya, Gangsar setiap hari harus menambang emas, dengan cara masuk ke dalam lubang galian sedalam puluhan meter. Bermodal alat tambang sederhana, seperti senter dan palu, Dia harus menyusuri lorong-lorong gelap dan sempit, tepat dibawah bukit batu. Resiko longsor, kehabisan oksigen hingga terkena gas beracun adalah santapan setiap hari. Untuk mendeteksi gas asam berbahya di dalam lubang galian, penambang emas tradisional, hanya mengandalkan alat sangat sederhana berupa korek api.

Jika saat berada di dalam lubang tambang, korek api tidak bisa menyala, itu artinya ada gas beracun. Dan Dia pun harus segera keluar, dengan cara naik ke atas secepatnya. “Kalau musim hujan lebih susah lagi. Karena lubang-lubang galian akan terendam air. Sehingga tidak bisa ditambang. Kalau dipaksa bisa beresiko longsor dan tertimbun,” katanya.

Dalam sehari, Gangsar dan dua rekannya mampu menambang sekira enam karung batu, berukuran masing-masing 25-30 kilogram. Bongkahan batu yang diperkirakan mengandung emas itu, kemudian dibawa ke tempat pengolahan. Di tempat tersebutlah, Gangsar dibantu istrinya mengolah batu-batu galian dengan alat yang disebut mesin glondong.

“Begitu ditambang, batu kemudian dipecah hinga jadi serpihan kecil. Batu serpihan kemudian digiling hingga halus dengan cara dimasukkan mesin glondong. Pada saat yang sama larutan merkuri dimasukkan agar kandungan emas bisa terikat dan terpisah dari lumpur,” jelasnya.

Memanfaatkan mesin kapasitas 20 glondong, Gangsar mampu mengolah sekira 150 kilogram batu, setiap harinya. Dari jumlah itu, bila beruntung, Dia bisa mendapatkan 300 mililiter emas mentah, dengan kadar kandungan 57 persen. Satu gram emas mentah 57 persen, biasa dijual seharga Rp335 per gram. “Hasil sampingan berupa limbah lumpur sisa pengolahan. Limbah lumpur ini sebenarnya juga laku terjual. Rp20 ribu per kilo. Karena limbah ini masih bisa diolah untuk menghasilkan emas dan hasil sampingan berupa merkuri,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...