Pendamping Desa Harus Gunakan Filosofi Pengungkit

Editor: Mahadeva WS

309

MAUMERE – Pendamping desa, harus melakukan pendampingan dengan menggunakan filosofi pengungkit. Hal itu dibutuhkan agar, kucuran dana desa yang didampingi penggunaanya, bisa memberikan perubahan dan manfaat sebesar-besarnya bagi desa.

Wakil gubernur NTT Josef Nae Soi. Foto : Ebed de Rosary

“Pendamping desa bertugas sebagai pengungkit pengelolaan dana desa. Ada tiga titik utama sistem pengungkit yakni, beban, tumpuan dan kemampuan untuk mengangkat beban,” pesan Wakil Gubernur NTT, Josef  Nae Soi, saat berbicara dalam pelatihan peningkatan kapasitas pendamping lokal desa region IV, yang meliputi kabupaten Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur dan Lembata, Senin (5/11/2018).

Nae Soi meminta, para pendamping harus mengetahui beban kerja yang dihadapi. Hal itu agar membantu mengetahui kemampuan yang dimiliki untuk menjalankan pekerjaan yang dibebankan. Ditegaskannya, Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, telah meminta agar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), datang ke NTT, untuk melakukan pengawasan pengelolaan dana di pemerintahan termasuk di desa.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, NTT, Mekeng P. Florianus, berharap, pendamping desa bisa menjalankan tugas dan kewajibannya sebaik mungkin agar ada perubahan di desa. “Pemerintah provinsi meminta, pendamping lokal desa bekerja melakukan pendataan berapa jumlah stunting di desa dampingannya. Harus di data nama dan alamatnya agar bisa didapatkan data yang pasti,” ungkapnya.

Data stunting dan fakir miskin yang ada di desa, akan dikombinasikan dengan data yang ada di Biro Pusat Statistik (BPS) NTT, untuk menjadi acuan pembangunan. Mekeng berharap, pendamping desa, terus meningkatkan kapasitas, dengan memanfaatkan berbagai pelatihan dan mencari berbagai acuan serta referensi, untuk menjalankan pekerjaan sebaik mungkin.

Baca Juga
Lihat juga...