Perajin Sangkar Burung Argosari, Belum Terbantu Kelompok

Editor: Mahadeva WS

157

YOGYAKARTA – Keberdaan kelompok di kalangan perajin sangkar burung di Desa Argosari, Sedayu, Bantul, masih belum mampu memberikan manfaat maksimal. Kelompok diharapkan dapat membantu mulai dari pengadaan bahan baku hingga ke pemasaran produk.

Ratusan perajin maupun pengepul sangkar burung khusus anggungan di desa tersebut, masih mendatangkan bahan baku secara mandiri. Termasuk juga dalam upaya memasarkan produknya ke konsumen. Selama ini pemasaran sudah mencapai Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, dan beberapa kota lainnya.

“Masing-masing perajin mendatangkan bahan baku seperti rotan, ruji kayu, hingga agel secara mandiri. Tidak lewat kelompok. Jadi siapa yang punya chanel bisa mendatangkan bahan baku. Kalau tidak, ya hanya membeli di perajin lain atau pengepul. Padahal 90 persen bahan baku kurungan ini semua didatangkan dari luar daerah,” ujar salah satu perajin, Rur Ali Frendi, Selasa (6/11/2018).

Rur menyebut, bahan baku rotan harus didatangkan dari Kalimantan. Ruji kayu dari Karanganyar, sedangkan agel didatangkan dari Madura. Minimnya modal, menjadi kendala tersendiri bagi perajin untuk mendatangkan bahan baku dalam jumlah banyak.

Sementara, di musim tertentu, keberadaan bahan baku menipis, sehingga harganya terkadang melonjak. “Memang mestinya kelompok bisa mendatangkan bahan baku dalam jumlah besar. Nanti setiap perajin tinggal mengambil bahan baku disitu. Sehingga ketersediaan bahan baku stabil. Harganya juga bisa ditekan. Namun memang itu belum berjalan disini,” tandas Rur.

Dalam hal pemasaran, keberadaan kelompok juga belum dapat menjembatani perajin dengan konsumen. Setiap perajin, memasarkan produk karyanya lewat pengepul. Akibatnya, penentuan standar kualitas, maupun harga sangat tergantung pengepul.  “Biasanya pengepul akan menyediakan bahan baku. Nanti perajin bisa ambil dari situ. Namun, saat kurungan sudah jadi, barang akan dijual lagi ke pengepul,” ungkapnya.

Dalam seminggu, seorang pengepul bisa menjual 60 buah kurungan mentah ke luar daerah, seperti ke Jawa Timur. Jumlah tersebut, diketahui belum mampu memenuhi permintaan pasar per pengepul, yang bisa mencapai 200 kurungan per minggunya.

Perajin lainnya, Andi, sudah 1,5 tahun menggeluti usaha pembuatan kurungan anggungan. Selama ini, Dia membeli bahan baku dari pengepul. Ruji kayu dibeli Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per until. Agel dibeli Rp60 ribu Rp70 ribu per kilogram, sedangkan rotan dibeli Rp18 ribu per kilogram. “Harus beli dari pengepul karena menang di tingkat lokal tidak ada. Sehingga harus mendatangkan dari luar daerah. Yang susah itu kalau bahan baku sedang sulit, otomatis barang jadi langka dan harganya pun naik,” tandasnya.

Andi berharap, keberdaan kelompok yang menaungi seluruh perajin sangkar di desa Argosari, dapat membantu menyediakan bahan baku. Tentu dengan harga lebih terjangkau, dibandingkan di tingkat pengepul. “Kalau bisa ya kelompok sediakan. Nanti kita bisa ambil bahan baku disitu. Setelah jadi, kita juga bisa pasarkan kurungan lewat kelompok. Jadi perajin lebih enak,” harapnya.

Baca Juga
Lihat juga...