Perizinan Berbelit Hambat Pertumbuhan Sektor Properti

Ilustrasi -Bangunan rumah - [Foto : Dok CDN]
JAKARTA – Sejumlah kalangan termasuk DPR RI, menilai masih adanya perizinan di daerah yang berbelit-belit, menjadi salah satu faktor penghambat tumbuhnya sektor properti yang saat ini tengah dilanda kelesuan.
Anggota Komisi IV DPR RI dari Partai Gerindra, Edi Prabowo, dalam keterangan tertulis, mengatakan perizinan birokrasi yang berbelit-belit akan menghambat iklim investasi, termasuk di industri properti.
“Seharusnya dalam mendorong roda perekonomian, seperti menarik investor dari dalam dan luar negeri, harus dipermudah perizinan, dan bukan sebaliknya, dipersulit,” katanya, Sabtu (25/11/2018).
Masih berbelitnya perizinan dari pemerintah daerah tersebut, membuat harga properti di dalam negeri sulit dijangkau masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), sehingga kondisi ini tidak sejalan dengan program pemerintah untuk memenuhi satu juta rumah bagi masyarakat kecil.
Namun demikian, dia berpendapat lesunya bisnis properti saat ini tidak semata soal faktor hambatan perizinan birokrasi, tetapi juga daya beli masyarakat yang menurun.
Sementara, F. Rach Suherman, konsultan bisnis properti menuturkan, era otonomi daerah juga memiliki ekses disharmonisasi regulasi, misalnya paket kebijakan ekonomi XIII Jokowi yang sebenarnya bagus, tetapi terhambat berbagai peraturan daerah (Perda) lama, yang belum banyak diubah oleh banyak pemerintah daerah.
“Contoh nyata adalah penurunan PPh lima persen jadi 2,5 persen, sama sekali tidak digubris daerah, sehingga BPHTB tetap lima persen dan hal ini karena PAD. Kepentingan pusat-daerah membuat dunia usaha terjepit di antara ‘dua raja’,” ujarnya.
Terkait praktik suap yang dilakukan pihak korporasi, menurut dia itu adalah soal mental. Namun demikian, suap dilakukan swasta atau developer, karena ingin membeli waktu di saat terhambat panjangnya dan berbelitnya proses perizinan.
Padahal, perencanaan bagi pengembang harus lekas jalan, karena ada cost of money. Praktik suap, lanjutnya, juga karena ada pengusaha yang tidak memenuhi syarat dan kemudian mengambil jalan pintas, dan ini pun disambut baik oleh pejabat yang kebetulan kepepet ingin lekas kaya.
Ke depan, menekan praktik suap di sektor properti dan sektor lainnya, maka model perizinan satu atap dan penyederhanaan meja-meja perizinan seharusnya sudah menjadi tekad pemerintah.
“Kebijakan ini pun, sebenarnya sudah dilakukan pemerintah dan hasilnya lumayan membaik. Seperti memakai Key Performance Indicator (KPI) yang diatur Menpan dan RB bersama Pemda. Di mana izin A sekian hari kelar, B sekian hari dan sanksi yang tidak mencapai, langsung ganti pejabat baru,” katanya.
Pengawasan publik, lanjutnya, sangat diperlukan dan hal ini bisa dilakukan lewat informasi digital.
Hal senada disampaikan CEO Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda, yang menyatakan meskipun pemangkasan perizinan sudah terjadi, tapi praktik di lapangan masih terjadi, sehingga suap pun tidak bisa dihindari, dan ironisnya saat ini pengawasan belum efektif.
“Untuk penyediaan rumah sederhana, seharusnya menjadi domain Pemda. Namun sayangnya, saat ini belum semua Pemda peduli dan hal ini tidak lepas terkait keterbatasan sumberdaya manusia dan juga keterbatasan sosialisasi,” katanya. (Ant)
Lihat juga...