Permainan Anak Tradisional, Tetap Lestari di Lamsel

Editor: Satmoko Budi Santoso

205

LAMPUNG – Hari Minggu sebagai salah satu hari libur anak sekolah kerap dipergunakan untuk bermain. Beberapa permainan tradisional yang masih lestari di Lampung Selatan (Lamsel) yang kerap dimainkan di antaranya bekel atau dikenal dengan “gatheng” oleh masyarakat beretnis Jawa di wilayah Sumatera.

Permainan lain di antaranya “dakon” atau “congklak”. Kedua permainan tersebut masih kerap dimainkan oleh anak-anak di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan dengan dukungan alat yang tersedia berupa kerang yang diperoleh dari pantai.

Lina, salah satu ibu rumah tangga yang memiliki satu anak perempuan usia sebelas tahun menyebut, permainan tradisional di wilayah tersebut nyaris jarang dimainkan. Namun berkat adanya sejumlah objek wisata pantai dengan melimpahnya kerang atau disebut kece untuk bermain, membuat orangtua kembali mengajarkan permainan dengan alat kerang tersebut.

Lina mengaku, dua permainan yang kerap mempergunakan kerang tersebut berupa
gatheng serta congklak.

Warga yang berasal dari Yogyakarta tersebut mengaku, maraknya permainan (games) modern di antaranya berbasis aplikasi android mulai merambah pedesaan. Meski demikian, ia menyebut, permainan dengan gawai tersebut kerap membuat anak ketagihan.

Peranan orangtua untuk membatasi anak-anak dari ketergantungan dengan gawai disebut Lina didukung dengan lestarinya permainan tradisional. Kreativitas dengan peralatan yang ada membuat permainan tradisional masih bertahan di wilayah tersebut.

“Setiap pergi ke pantai kami berburu alat untuk permainan tradisional di antaranya kerang yang sudah mati dan terdampar di pasir. Bisa digunakan untuk alat bermain yang murah meriah serta disediakan dalam jumlah banyak,” terang Lina, salah satu ibu rumah tangga yang mendampingi anaknya bermain saat ditemui Cendana News, Minggu (11/11/2018).

Sejumlah pantai di Lampung Selatan sebagai objek wisata diakui Lina kerap menjadi lokasi untuk mencari alat permainan tradisional. Lina mengingat sang ayah dahulu kerap mencari kayu terdampar di pantai yang empuk untuk dibuat menjadi papan congklak.

Biji congklak dan bekel dari kerang bahkan bisa dicari sembari bermain pasir. Kerang pantai tersebut bisa dipergunakan untuk bermain bekel dan congklak sehingga tidak harus membeli, meski kini permainan tersebut dijual dalam bentuk imitasi menggunakan plastik.

Permainan pertama yang kerap masih dimainkan di antaranya bekel atau gatheng. Menurut Lina, itu merupakan permainan yang murah, mudah, sederhana serta tidak membutuhkan waktu lama.

Alat permainan tersebut diakuinya bisa diperoleh dari sejumlah pantai yang ada di Lampung Selatan sehingga bisa menghemat pengeluaran. Permainan bekel atau gatheng disebutnya terdiri dari bola karet seukuran bola pingpong dan biji bekel biasanya dari kuningan yang bisa diganti dengan kerang.

Cara permainan dengan memantulkan bola bekel dan mengambil kerang satu per satu, mengatur posisi kerang menghadap ke atas dan ke bawah. Peraturan permainan bekel disebutnya sudah diketahui oleh anak-anak yang kerap dimainkan dalam satu kelompok, mulai dua orang hingga empat orang. Alat permainan yang diperoleh dari pantai dalam jumlah banyak membuat anak-anak bisa berkelompok dengan alat yang dimiliki masing-masing.

Selain permainan bekel atau gatheng, congklak atau dakon juga masih kerap dimainkan selama kerang tetap tersedia. Permainan menggunakan papan dakon memakai 14 lubang, dua lubang berukuran besar dan dua belas lubang berukuran kecil berhadapan.

Saat tidak ada papan permainan tersebut anak-anak umumnya secara kreatif menggunakan kertas yang digambar seperti papan atau membuat lubang di tanah.

“Kini papan dakon sudah bisa dibeli terbuat dari plastik yang ringan, namun biji dakon masih menggunakan kerang,” ujar Lina.

Permainan dakon atau congklak dijalankan untuk mendapatkan jumlah biji dakon terbanyak saat diisi pada lubang kecil. Biji dakon terbanyak yang dikumpulkan pada lubang besar  akan menentukan pemenang pada permainan tersebut.

Meski permainan tersebut kerap dimainkan oleh anak perempuan, sejumlah anak laki-laki kadang memainkan dakon saat beristirahat bermain bola. Permainan sederhana namun menyenangkan tersebut, kerap dimainkan di teras rumah saat libur atau saat santai, sehingga orangtua tetap bisa mengawasi anaknya.

Lina dan sejumlah ibu rumah tangga menyebut, meski permainan bekel dan dakon tergolong tradisional, anak-anak masih menyukainya. Kedua permainan tersebut mengajarkan anak-anak untuk berhitung, membentuk karakter sosial dan menanamkan budaya saling berbagi.

Saat jumlah alat sedikit anak-anak dilatih untuk memberi kesempatan bagi teman untuk bermain secara bergantian. Selain itu bagi orangtua tetap bisa mengawasi anak-anaknya bermain dan tetap berinteraksi bersama kawan-kawan.

Sebagian anak bermain congklak atau dakon memanfaatkan kerang – Foto Henk Widi

Dina, salah satu anak yang duduk di kelas 6 SD menyebut, permainan tradisional bekel dan dakon masih kerap dimainkan. Setiap pulang sekolah dan akhir pekan, memanfaatkan teras rumah, ia berkumpul bersama belasan anak seusianya.

Saat anak-anak lain belum mengerti aturan permainan tersebut ia akan mengajari agar bisa bermain bersama. Ketersediaan sarana bola bekel, biji bekel serta papan dakon membuat anak-anak bisa memilih permainan tersebut.

Permainan tradisional yang diajarkan oleh orangtua tersebut, diakui Dina, membuat ia bisa mengurangi permainan menggunakan gawai. Meski saat ini anak-anak lain sibuk dengan permainan menggunakan gawai, Dina dan kawan kawannya mengaku, masih tetap setia pada permainan tradisional bekel dan dakon.

Saat anak-anak sudah bosan permainan tradisional lain yang menjadi selingan di antaranya berupa lompat tali serta engkling dengan peralatan yang juga sederhana.

Baca Juga
Lihat juga...