Penerapan Permenhub Dinilai Rugikan Operator Pelayaran di Bakauheni

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

133

LAMPUNG — Perwakilan dari PT. Windu Karsa, sebuah operator penyeberangan di Bakauheni, Yus Sondakh menyebutkan, satu dari tiga kapal yang dimiliki, yakni KMP Windu Karsa Dwitya terpaksa harus keluar dari lintasan Merak-Bakauheni. Sementara, satu kapal lainnya, bisa diimprove sehingga memenuhi syarat mencapai 5.000 GT.

Yus Sondakh, salah satu perwakilan perusahaan pelayaran pemilik kapal di bawah 5.000 GT. Foto: Henk Widi

“KMP Windu Karsa Dwitya terpaksa harus dihentikan untuk melayani pelayaran di Selat Sunda yang sudah dilakoninya selama belasan tahun,” terangnya.

Sebagai operator pelayaran, sebutnya, tentunya sangat menyayangkan pemberlakukan regulasi Permenhub Nomor 88 tentang Pengaturan Ukuran Kapal Angkutan Penyeberangan di Lintas Merak-Bakauheni. Hal tersebut dinilai merugikan perusahaan pelayaran lama.

Ia bahkan menyebut penerapan aturan tersebut sangat memberatkan di saat operasional kapal masih sepi. Imbasnya biaya untuk operasional dengan pemasukan masih sangat minim berimbas kerugian.

Pemberlakuan tersebut masih belum tepat, karena saat ini sudah ada tiga lintasan dilayani kapal dari Sumatera menuju Jawa. Tiga lintasan tersebut dari Pelabuhan Bakauheni-Merak, pelabuhan Muara Piluk-Bojonegara, Banten dan pelabuhan Panjang-Tanjungpriok-Surabaya.

Ia menyebut selain itu batas akhir peningkatan spesifikasi kapal dilakukan saat nilai tukar rupiah rendah. Ia memastikan sejumlah sparepart kapal akan sangat mahal sehingga dengan kurs dollar AS mencapai Rp14.000 sudah sangat memberatkan perusahaan pelayaran.

Sejumlah operator pelayaran yang memiliki kapal di bawah spesifikasi 5.000 GT bahkan sudah mencari lintasan lain. Namun lintasan lain belum memiliki spesifikasi dermaga sesuai peruntukan bagi kapal roro.

Yus Sondakh menyebut sejumlah perusahaan pelayaran diakuinya harus memakan buah simalakama. Pasalnya saat kapal di bawah spesifikasi harus keluar dari lintasan Merak-Bakauheni sehingga tidak memiliki sumber pemasukan, di sisi lain lintasan lain belum bisa dimasuki.

Sejumlah perusahaan pelayaran yang hendak menjual kapal bahkan terkendala lintasan yang cocok untuk digunakan bagi kapal di bawah 5.000 GT yang merupakan jenis kapal roro tersebut.

Sementara itu, Dewan Pimpinan Cabang Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (DPC Gapasdap) Bakauheni siap mengikuti regulasi pemerintah terkait spesifikasi kapal. Bahkan sudah ada di antara anggota yang membeli kapal baru sesuai standar yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 88 Tahun 2014 tentang Pengaturan Ukuran Kapal Angkutan Penyeberangan di Lintas Merak-Bakauheni.

“Perusahaan pelayaran sudah melakukan langkah peningkatan spesifikasi kapal, di antaranya membeli kapal baru agar bisa memenuhi aturan yang sudah ditetapkan, namun beberapa di antaranya dipastikan harus pindah lintasan,” beber Warsa, ketua DPC Gapasdap Bakauheni saat dikonfirmasi Cendana News di kantornya, Jumat (9/11/2018).

Empat tahun waktu penyesuaian semenjak 2014 hingga 2018, sejumlah kapal bahkan sudah menaikkan GT kapal dan sebagian membeli kapal baru. Sesuai data sebanyak 22 kapal memiliki spesifikasi di bawah 5.000 GT diantaranya dari kapal Windu Karsa Dwitya 2.553 GT milik PT.Windu Karsa, KMP Dharma Kencana 2.623 GT.

“Kapal berukuran kecil di bawah 5.000 GT tersebut rencananya akan dipindah di lintasan lain selain lintasan Merak-Bakauheni,” tambahnya.

Warsa menyebutkan, saat ini, 18 perusahaan tersebut memiliki sebanyak 58 kapal dan 22 diantaranya masih di bawah 5.000 GT. Sementara itu data dari Kemenhub diakui Warsa sejak 2014 kapal roll on roll off (Roro) yang beroperasi di rute Merak-Bakauheni sebagian melakukan improve peningkatan GT kapal sebanyak 21 unit dengan penambahan kapal baru sebanyak 25 unit.

Warsa menyebut anggota Gapasdap Bakauheni juga sudah mengetahui aturan tidak diizinkannya penambahan kapal baru dalam waktu dekat. Sejumlah perusahaan yang menempatkan kapal baru di lintasan Selat Sunda di antaranya PT.Wira Jaya Logitama Lines dengan KMP Wira Kencana 5.648 GT, KMP Wira Artha 7.331 GT, PT.Damai Lintas Bahari dengan KMP Royce 7.288 GT, KMP Dorothy 6.913 GT, KMP Reinna 6.747 GT, PT Aman Lintas Samudera dengan KMP ALS Elisa 6.913 GT dan KMP ALS Elvina 6.913 GT.

“Operator pelayaran yang baru umumnya membeli kapal baru dengan spesifikasi sesuai Permenhub Nomor 88 sementara perusahaan lama melakukan improve dengan rancang bangun kapal agar memenuhi syarat atau sebagai pengganti,” beber Warsa.

Baca Juga
Lihat juga...