hut

Pesan Pak Harto, Pendidikan Butuh Guru Berjiwa Pendidik

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Tanggal 25 November, di Indonesia diperingati sebagai Hari Guru, yang bertepatan dengan hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Sebuah peringatan untuk menunjukkan penghargaan terhadap guru, sang pahlawan tanpa tanda jasa.
Peringatan Hari Guru diperingati pada tanggal yang berbeda-beda bergantung pada negaranya. Di Indonesia, pada 25 November, sedangkan negara-negara lainnya berbeda, seperti di Amerika Serikat pada Minggu pertama bulan Mei (Minggu Apresiasi Guru), Argentina pada 11 September, yang bertepatan dengan hari peringatan wafatnya Domingo Faustino Sarmiento, seorang pendidik dan politisi Argentina.
Peringatan Hari Guru yang bertepatan dengan sosok guru juga ada di India, yang memperingati Hari Guru setiap tanggal 5 September, bertepatan hari ulang tahun Presiden India, Dr. Sarvapalli Radhakrishnan, yang juga seorang guru. Di sekolah-sekolah diadakan perayaan, dan murid yang paling senior memainkan peran sebagai guru.
Pada beberapa negara, hari guru merupakan hari libur sekolah, tapi di Indonesia bukan hari libur resmi, dan dirayakan dalam bentuk upacara peringatan di sekolah-sekolah dan pemberian tanda jasa bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah.
Semasa pemerintahan Orde Baru, Presiden Soeharto menunjukkan penghargaan tinggi kepada sosok guru, seperti memberikan pinjaman untuk uang muka kredit rumah kepada sang guru gambar, Tino Sidin dengan cara dicicil tanpa bunga.
Tino Sidin adalah seorang pelukis dan guru gambar yang terkenal dengan acaranya di stasiun TVRI era 1980-an, yaitu ‘Gemar Menggambar’.
Dalam acara tersebut, Pak Tino mengajar anak-anak generasi 1980-an, bahwa menggambar itu mudah, yang pada akhir setiap acara Tino Sidin menunjukkan gambar-gambar yang dikirim oleh para pemirsanya, dan kemudian memberi komentar yang sangat terkenal, “Bagus!”
Dalam memperingati Hari Guru Nasional 25 November 1994 di Istana Negara, Jakarta, sebagaimana dilansir dari laman soeharto.co, Presiden Soeharto menegaskan, bahwa pemerintah mengakui PGRI sebagai satu­ satunya organisasi guru di Indonesia, tempat para guru berhimpun, bersatu, mengemukakan pendapat dan memperjuangkan aspirasinya.
Ketika memberikan sambutan, Presiden Soeharto menyatakan, bahwa pemerintah selalu memperhatikan martabat dan kepentingan guru.
“Pemerintah juga sangat menghargai jabatan guru dan organisasinya,“ tegas Presiden Soeharto.
Menurut Presiden Soeharto, pendidikan yang baik tidak hanya memerlukan guru yang cerdas dan mampu mengajar, tetapi juga memerlukan guru yang berjiwa pendidik.
“Peningkatan kemampuan guru selalu berkejaran dengan harapan masyarakat yang makin hari makin meningkat. Bila di masa lalu, guru menjadi satu-satunya sumber pengetahuan anak didik, maka sekarang sumber pengetahuan makin beragam jenisnya,“ papar Presiden Soeharto, yang mengharuskan para guru untuk terus meningkatkan mutu dan kemampuannya, agar tidak kehilangan peran dan martabatnya.
Sesungguhnya, lanjut Presiden Soeharto, para guru diharapkan tidak hanya mampu menyampaikan pelajaran, tetapi juga menjadi pembina kepribadian dan teladan bagi muridnya.
“Pemerintah juga menyadari, penilaian terhadap kedudukan guru berkaitan dengan tingkat kesejahteraannya,“ tutur Presiden Soeharto
Karena itu, kata Presiden Soeharto, pemerintah terus berusaha meningkatkan kesejahteraan guru. “Tujuannya agar guru dapat sepenuhnya mengabdi bagi pendidikan anak-anak bangsa,” imbau Presiden Soeharto.
Presiden Soeharto menyampaikan, peningkatan kesejahteraan guru tidak saja diberikan dalam bentuk materi, melainkan juga kemudahan dalam pengembangan karir dan perlindungan hukum.
“Sekarang guru telah menjadi jabatan fungsional,” kata Presiden Soeharto.
Guru yang berprestasi tinggi dalam menjalankan tugasnya, dapat memperoleh kenaikan pangkat lebih cepat. “Guru juga dapat mencapai kepangkatan tertinggi pegawai negeri sipil,“ demikian Presiden Soeharto.
Presiden Soeharto sangat menghormati figur guru. Di posisinya sebagai orang paling berkuasa selama 32 tahun, Presiden Soeharto tak pernah lupa sosok penting seorang guru, sebagaimana yang diceritakan Erwin Juhara, seorang guru dari Bandung dalam buku Soeharto The Untold Stories, yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama.
“Beliau mengingatkan kita untuk kembali pada akar budaya bangsa yang sangat menghormati guru dalam kehidupannya,” ungkap Erwin, mengisahkan pidato Presiden Soeharto pada saat mempetingati Hari Guru.
Menurut Presiden Soeharto, guru adalah ujung tombak kemajuan bangsa. “Tanpa pendidikan dan guru yang baik, tak akan ada pembangunan sumberdaya manusia dan kemajuan bangsa, “ tegas Presiden Soeharto.
Para guru, lanjut Presiden Soeharto, bukan hanya sekadar profesi mengajar di depan kelas, tetapi guru adalah obor masa depan yang akan mengajarkan nilai-nilai keteladanan dan kesadaran dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Tentang masalah-masalah yang dihadapi masyarakat, bangsa dan negaranya. Serta guru memberi bekal kepada murid apa yang akan mereka tempuh,” tutur Presiden Soeharto.
Guru, kata Presiden Soeharto, juga adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Jadi, selayaknya kepada guru diberikan penghormatan yang layak.
“Sepatutnya kita memang hormat pada guru, yang dalam Bahasa Jawa menunjuk pada seorang yang harus digugu dan ditiru, oleh semua murid, bahkan seluruh masyarakat,” katanya.
Guru harus digugu, artinya segala sesuatu yang disampaikan olehnya senantiasa dipercaya dan diyakini sebagai kebenaran oleh semua murid. Kemudian, guru harus ditiru, artinya seorang guru harus menjadi suri tauladan (panutan) bagi semua muridnya.
Presiden Soeharto berdialog dengan para guru dan siswa teladan serta penari dari Kalimantan Timur di Istana Negara -Foto: Ist.
Lihat juga...