Raja Ampat, Wisata Peradaban Umat

OLEH THOWAF ZUHARON

330

PILIHAN Majlis Ulama Indonesia (MUI) untuk mengadakan Rapat Kerja Nasional 2018 di Raja Ampat, pada 22-24 November 2018 mendatang, tentu selaras dengan program destinasi wisata Pemerintah Republik Indonesia yang memasukkan Raja Ampat sebagai prioritas.

Tak heran, pada akhir 2017 lalu, Presiden Jokowi bersama keluarganya menyambangi keindahan gugusan Pulau Karang Raja Ampat yang telah menjadi kawasan konservasi dan menyabet berbagai penghargaan dunia ini.

Sembari memancing, dengan ditemani oleh Gubernur Raja Ampat Dominggus Mandacan, Presiden Jokowi telah bertekad membangun bandara yang lebih layak di Raja Ampat, termasuk memperpanjang landasan Bandara Marinda, Waisai, Raja Ampat, agar bisa menjadi tempat landasan pesawat Boeing.

Saat itu, tekad Pemerintah RI atas Bandara Raja Ampat untuk menunjang wisata Raja Ampat, yaitu dengan memperpanjang landasan pacu, dari 1.100 meter menjadi total 2.400 meter, dan akan selesai tahun 2018/2019 oleh Kementerian Perhubungan RI.

Tempat Terindah Versi CNN, Raja Ampat Juara Dunia

Ketakjuban dunia atas Raja Ampat, juga telah membuat kantor berita CNN Internasional memasukkan Raja Ampat dalam ’20 Travel Destinations The Experts Say Not to Miss’ yang dipajang di laman CNN pada 2017 lalu.

Dari 20 lokasi yang masuk daftar tempat terindah, tiga di antaranya berasal dari Indonesia. Lebih membanggakan lagi, sebab Pulau Wayag di Raja Ampat, Papua Barat, menempati urutan pertama.

Wayag memiliki ratusan karst dan batu kapur berhutan lebat, sehingga teluk terlindungi dengan pantai berpasir putih dan terumbu karang. Bahkan, Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya, sempat mengatakan, “Raja Ampat tetap merajai di dunia.”

Kawasan Raja Ampat terdiri dari empat pulau besar, yaitu Waigeo, Misool, Salawati, Batanta, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Memiliki biota laut yang beragam. Menurut laporan dari The Nature Conservancy, sebanyak 75% spesies laut dunia ditemukan di perairan Raja Ampat.

Para penyelam ditemani sekitar 1.511 jenis ikan dan juga penyu laut. Di tempat ini, banyak suvenir patung suku Asmat, alat musik, dan kain tradisional.

Begitu besarnya kepentingan dunia atas gugusan Pulau Karang Raja Ampat ini, bisa dilihat dari tuntutan Pemerintah Indonesia kepada operator jasa wisata Noble Caledonia yang mengakibatkan kerusakan terumbu karang dan ekosistem di perairan Raja Ampat, pada awal 2017.

Berdasarkan penghitungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kapal pesiar milik perusahaan yang bermarkas di Inggris tersebut, Caledonian Sky, telah menghancurkan sekitar 13.270 meter persegi zona terumbu karang.

Saat itu, Pemerintah RI menuntut kerusakan ekosistem dalam insiden tersebut, dengan mengajukan tuntutan hingga Rp 6 triliun kepada Noble Caledonia. Jika perusahaan tersebut tak mau membayar, akan dibawa ke Mahkamah Internasional.

Kepala Suku Maya di Raja Ampat, Kristian Thebu, menuturkan, masyarakat adat Suku Maya telah terkena dampak atas kerusakan ekosistem akibat karamnya Caledonian Sky.

Menurut dia, masyarakat adat sangat menjaga ekosistem di wilayah tersebut, termasuk dengan menetapkan aturan waktu dan lokasi untuk menangkap ikan. Lokasi itu merupakan tempat Sasi (aturan adat), sehingga harus ada perbaikan.

Raja Ampat Papua, Peran Presiden Soekarno dan Mayor Jenderal Soeharto

Bagaimanapun, dewasa ini, keelokan Raja Ampat, sebagai bagian dari kekayaan alam Pulau Papua yang berbagai rupa, telah berhasil menyita perhatian dunia.

Barangkali, jika saat itu Presiden Soekarno tidak bertekad merebut Papua dari tangan Belanda, kemudian menunjuk Mayor Jenderal Soeharto sebagai Panglima Komando Mandala yang membawahi pasukan darat, laut, dan udara, kita belum tentu bisa menikmati keajaiban alam di Raja Ampat Papua ini.

Saat itu, Diplomasi dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag tahun 1949, tidak memberi penyelesaian soal Irian Barat.

10 tahun tidak ada penyelesaian soal Irian Barat, maka, pada 19 Desember 1961, Soekarno berteriak lantang menyerukan Tri Komando Rakyat (trikora) yang akan menggagalkan pembentukan Negara boneka Papua, kibarkan sang merah putih di Irian Barat, serta bersiap untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa.

Saat itu, pertempuran merebut Irian Barat yang sangat penting adalah pertempuran Laut Aru dimana Komodor Yos Sudarso gugur. Sementara, di bawah Komando Mayor Jenderal Soeharto, pasukan TNI terus diterjunkan lewat udara.

Operasi penerjunan terbesar adalah operasi Naga yang dipimpin Kapten Benny Moerdani dengan melibatkan pasukan RPKAD dan Banteng Raiders. Perang di belantara Papua berlangsung sekitar dua tahun.

Akibat perang tersebut, PBB akhirnya memerintahkan kedua belah pihak menghentikan tembak menembak. PBB memaksa Belanda dan Indonesia berunding di New York tanggal 15 Agustus 1962. Sehingga diputuskan, pasukan PBB akan berada di Papua selama masa peralihan, sebelum penentuan pendapat rakyat (Perpera) yang akan digelar tahun 1969.

Puji syukur, rakyat Papua lebih memilih Indonesia, sehingga kita bisa menikmati keindahan Raja Ampat sebagai keajaiban alam dalam negeri Indonesia.

Perjuangan Presiden Soekarno dan Panglima Komando Mandala Mayor Jenderal Soeharto atas Papua, bersama seluruh prajurit Indonesia saat itu, tentu akan selalu menjadi nyala nasionalisme kita dalam membangun Papua, khususnya Raja Ampat dengan keindahan pariwisatanya.

Raja Ampat sebagai Wisata Peradaban dan Religi

Berangkat dari berbagai kenyataan tersebut, penempatan lokasi Rakernas MUI di Raja Ampat juga menjadi bagian komitmen MUI untuk ikut mendukung pengembangan wisata Raja Ampat, khususnya dalam pengembangan wisata peradaban maupun wisata religi di Raja Ampat.

Dalam hal ini, Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI, Dr. Noor Ahmad menyatakan, bahwa Raja Ampat merupakan wahana yang sangat tepat dalam mengembangkan wisata peradaban.

“Pengembangan konsep wisata yang beradab dan religius di Raja Ampat, selaras dengan karakter budaya masyarakat Indonesia yang inklusif,” jelasnya, pada awal November 2018 lalu, di MUI.

Menurut Dr. Noor Ahmad, MUI berkomitmen mendorong Raja Ampat sebagai Wisata Peradaban dan Wisata Religi, karena Raja Ampat merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam di Papua Barat, seusia dengan penyebaran agama Islam di Demak pada tahun 1500-an.

Ditinjau dari sisi sejarah, Kepulauan Raja Ampat di abad ke-15 merupakan bagian dari kekuasaan Kesultanan Tidore, sebuah kerajaan besar yang berpusat di Kepulauan Maluku.

Komitmen MUI tersebut, sebenarnya telah lebih dulu digagas oleh Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (LPLH & SDA MUI), bekerjasama dengan Komunitas Pencinta Wisata Muslim (KPWM), dan diluncurkan dalam perhelatan Astindo Fair 2018 di Jakarta pada Sabtu, 3 Maret 2018 lalu. Kemudian, pelaksanaan kegiatan perdananya, yaitu pada 29 Maret 2018.

Membangun Desa Wisata Muslim di Raja Ampat

Dalam membangun Wisata Peradaban dan Wisata Religi di Raja Ampat, Ketua LPLH & SDA MUI Dr. H. Hayu S. Prabowo mengatakan, kehadiran wisatawan religius yang sangat peduli pada lingkungan akan membawa dampak positif bagi masyarakat setempat, serta dapat meningkatkan daya tarik tersendiri baik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Apalagi, sekitar 50% penduduk yang tinggal di Raja Ampat memeluk agama Islam. Program Wisata Religi ini, kemudian dikembangkan untuk membentuk Desa Wisata Muslim, sebagaimana yang dikembangkan di negara Malaysia, antara lain di Terengganu dan Kelantan.

Pola wisata religi, lebih menitikberatkan percepatan wisata berbasis masyarakat melalui peran aktif komunitas dengan mendukung keterlibatan penuh masyarakat setempat dalam perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan usaha wisata, dan segala keuntungan yang diperoleh.

Masyarakat memiliki pengetahuan tentang alam serta budaya yang menjadi potensi dan nilai jual sebagai daya tarik wisata, sehingga pelibatan masyarakat menjadi mutlak. Caranya, dengan mengakui hak masyarakat lokal dalam mengelola kegiatan wisata di kawasan yang mereka miliki secara adat ataupun sebagai pengelola.

Pola wisata ini, tentu dapat menciptakan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat, dan mengurangi kemiskinan dari pendapatan atas jasa-jasa wisata dari turis: fee pemandu, ongkos transportasi, menjual kerajinan, homestay untuk sarana akomodasi di lokasi wisata, dan lain-lain.

Pola ini juga akan membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkembangkan jati diri dan rasa bangga pada penduduk setempat untuk menjaga budaya serta lingkungannya.

Namun, bukan berarti masyarakat akan menjalankan usaha wisata sendiri. Tataran percepatan perlu dilakukan sebagai bagian dari perencanaan pembangunan terpadu yang dilakukan di suatu daerah.

Idealnya, dalam mewujudkan wisata peradaban dan religi, pelibatan para pihak terkait mulai dari level komunitas, masyarakat, pemerintah, dunia usaha, tokoh agama, dan organisasi non pemerintah, diharapkan bisa membangun suatu jaringan dan menjalankan suatu kemitran yang baik sesuai peran dan keahlian masing-masing.

Rencananya, desa wisata muslim yang dapat dikembangkan di Raja Ampat dengan keindahan alamnya, yakni terdapat di Pulau Saonek, Pulau Pianemo, dan Pulau Arborek.

Selain desa wisata muslim, beberapa destinasi wisata religi yang dapat dikunjungi di Raja Ampat dan sekitarnya, yaitu situs-situs bukti penyebaran Islam di tanah Papua dengan berdirinya masjid-masjid bersejarah.

Antara lain Masjid Hidayatullah Saonek yang dibangun pada tahun 1505. Kedua, Masjid Agung Waisai, terletak tak jauh dari Pantai WTC (Waisai Torang Cinta), memiliki lahan seluas 30.000 m2 dengan luas bangunan 1.800 m2.

Sejak berdiri pada tahun 2006, masjid ini selalu ramai oleh jamaah, terutama saat Salat Jumat. Ketiga, yaitu Islamic Centre Muadz bin Jabal, berlokasi di Waisai, yang merupakan pusat pendidikan dan dakwah Islam pertama yang berada di pulau paling timur Indonesia.

Selain masjid-masjid tersebut, menurut data Kementerian Agama, terdapat 18 masjid dan 52 musala yang tersebar di Kabupaten Raja Ampat.

Adanya berbagai tempat religius tersebut, dalam perkembangannya saat ini, membuat beberapa travel wisata telah mengembangkan program wisata halal maupun maupun wisata religi ke Raja Ampat.

Para pelaku travel wisata ini menawarkan berbagai destinasi wisata religi maupun fasilitas makanan halal pada berbagai tempat yang dikunjungi. Artinya, para pengusaha travel telah melihat konsep wisata halal sebagai ceruk dengan konsumen yang sangat besar.

Menteri Pariwisata Arief Yahya sempat bersikukuh untuk membawa Indonesia ke level yang lebih tinggi dalam hal wisata halal. Ia menargetkan, Indonesia bisa menduduki peringkat pertama pada Global Muslim Travel Index pada tahun 2018. Caranya, pelaku industri mesti menjelaskan tentang makanan halal.

Sikap Arief Yahya ini, mengacu pada studi Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2016 yang menyatakan, total jumlah wisatawan Muslim dunia mencapai 117 juta pada 2015.

Jumlah itu diperkirakan terus bertambah hingga mencapai 168 juta wisatawan pada 2020 dengan pengeluaran di atas 200 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2,6 triliun. Potensi wisata halal sendiri diperkirakan akan terus tumbuh.

Pada tahun 2020, jumlah wisatawan muslim akan tumbuh menjadi 156 juta turis dengan pengeluaran mencapai 220 miliar dollar AS.

Dengan berbagai potensi data menggembirakan tersebut, melalui kegiatan Wisata Peradaban dan Religi Raja Ampat ini, harapannya, para turis dapat menyeimbangkan sisi rohani dan kebutuhan jasmaniah yang berupa penyegaran atau relaksasi.

Pola wisata ini juga menekankan pada percepatan wisata berbasis masyarakat yang saat ini telah berkembang dan menjadi pilihan bagi wisatawan mancanegara. Tentunya, dukungan penuh pada pelaksanaan program Wisata Peradaban dan Religi, akan lebih menekankan pada konservasi, edukasi, pemberdayaan masyarakat, utamanya berupaya menjaga cahaya Islam di timur Indonesia tetap bersinar. ***

Thowaf Zuharon adalah Panitia sekaligus Partisipan dalam Rakernas MUI 2018 di Raja Ampat

Baca Juga
Lihat juga...