Sampah Ancam Kelestarian Laut Indonesia

Editor: Koko Triarko

211
Koordinator Gerakan Aku Mencintai Laut Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Maritim), Edi Susilo, memberikan keterangan tentang kondisi sampah plastik di Indonesia kepada para peserta ‘Aku Mencintai Laut’ di Jakarta, Senin (12/11/2018) -Foto: Ranny Supusepa
JAKARTA – Di seluruh dunia, sampah sudah menjadi masalah besar. Begitu pula di Indonesia, yang saat ini menyandang ‘gelar’ negara kedua di dunia sebagai pemasok sampah terbesar ke laut.
Kondisi lautan Indonesia yang terkenal dengan keindahan alam laut karena terumbu karangnya, dan varietas biota lautnya, saat ini terancam oleh tingginya tingkat sampah plastik yang setiap hari memasuki lautan.
Faktanya, 240.000 kantong plastik digunakan setiap detiknya, 8 juta ton sampah plastik dibuang ke laut setiap tahunnya dan 5,25 triliun ton sampah plastik ada di perairan laut Indonesia.
“Jika ini berlangsung terus-menerus, tanpa kita lakukan sesuatu, maka diperkirakan pada 2050 akan lebih banyak plastik yang ada di laut dibandingkan ikan,” kata Koordinator Gerakan Aku Mencintai Laut Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Maritim), Edi Susilo, saat acara ‘Aku Mencintai Laut’ di Taman Wisata Alam Angke Jakarta, Senin (12/11/2018).
Edi menguraikan, bahwa sampah memiliki masa urai yang berbeda-beda. Sehingga sampah-sampah ini akan terus berada di alam melewati masa hidup manusia.
“Kardus itu masa urainya dua minggu. Koran, enam minggu. stryofoam baru pada tahun ke-80 bisa terurai secara alami di alam. Sampah kaleng, bahkan membutuhkan waktu 200 tahun. Dan yang terlama adalah plastik, yang membutuhkan 400 tahun,” paparnya.
Untuk menyelesaikan masalah sampah ini, Asisten Deputi Bidang Budaya, Seni dan Olahraga Bahari Kemenko Maritim, Kosmas Harefa, menyatakan, bahwa semua kementerian/lembaga pemerintah, swasta dan elemen masyarakat harus terlibat untuk mengatasi masalah sampah ini.
“Sosialisasi dan edukasi harus terus dilakukan, dan tentunya sinergi antarkementerian dan lembaga dan antarsemua elemen masyarakat harus dilakukan, untuk menjaga keberlanjutan laut Indonesia. Penggunaan teknologi juga menjadi pilihan dalam upaya menjaga sampah ini,” kata Kosmas.
Terkait beberapa pemerintah daerah yang mengeluarkan kebijakan untuk melarang penggunaan plastik sebagai kantong belanja, Kosmas menyambut baik.
“Hanya perlu diingat, bahwa jangan hanya melarang saja. Tapi pemda setelah membuat kebijakan harus juga memberi solusi untuk menggantikannya. Sehingga masyarakat tidak akan kesusahan mencari alternatifnya. Tapi, saya mendukung semua kebijakan yang mendorong pengurangan sampah,” kata Kosmas.
Kosmas menyatakan, Indonesia saat ini sudah bekerja sama dengan beberapa negara, seperti Denmark, Norwegia, Swedia, terkait masalah sampah. Dan, sinergitas antarkementerian juga sudah terjalin dalam upaya penanggulangan sampah, terutama di laut.
“Pemerintah saat ini sudah memiliki kesadaran tinggi terkait sampah ini. Pastinya, kita ingin menurunkan peringkat penghasil sampah kita di dunia. Memang tidak mudah, tapi kita akan terus-menerus bekerja keras untuk mencapai target ini,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...