hut

Sanggar Tari Edelweiss, Lestarikan Kesenian Tradisional Nusantara

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Sebuah sanggar tari berumur, berdiri lebih dari satu dekade dan masih tetap eksis sampai sekarang, tampil memukau di Festival Budaya Anak Bangsa ke-X dalam rangkaian acara merayakan Hari Anak Sedunia di Taman Ismail Marzuki.

Sanggar Tari Edelweiss namanya. Mereka yang tampil anak-anak semua, yang tetap semangat dalam melestarikan tari kesenian tradisional Nusantara.

“Sanggar Tari Edelweiss berdiri sejak tahun 2004, tapi aktif di Taman Ismail Marzuki (TIM) dari tahun 2008, “ kata Hengky Arifin, Ketua Sanggar Tari Edelweiss, kepada Cendana News di Festival Budaya Anak Bangsa ke-X, Galeri Cipta III, Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (20/11/2018).

Hengky Arifin, Ketua Sanggar Tari Edelweiss – Foto: Akhmad Sekhu

Hengky membeberkan awal membentuk sanggar tari ini di garasi rumah di Cimanggis Depok dan kemudian pindah memanfaatkan fasilitas umum balai warga di Cilengsi. “Tadi kami menampilan tari tradisional Nusantara, Tanggal dan Kipas,” imbuhnya.

Sanggar Tari Edelweiss memang selalu menampilkan tari tradisional Nusantara. “Tergantung eventnya, kalau event budaya Melayu tarinya tari Melayu, tapi kalau tidak ada permintaan, kadang tari yang memang disenangi anak-anak atau tari yang sudah dipelajari anak-anak,“ terangnya.

Pelatih Sanggar Tari Edelweiss, lanjut Hengky, adalah Rosi Melati, istri Hengky. “Kami alumni Jurusan Seni Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI (Institut Seni Indonesia) Padangpanjang,“ ungkapnya.

Anggota Sanggar Tari Edelweiss sekarang sekitar 25 anak. Sebelumnya, kata Hengki jumlah anggotanya lebih banyak lagi. Penurunan jumlah anggota ini dikarenakan ada yang sudah tamat SD, ada yang orangtuanya pindah, ada yang karena sudah tidak ada yang mengantar lagi.

“Anggota termuda umur tiga tahun dan yang tertua kelas satu SMA,“ paparnya.

Menurut Hengky, tantangan dalam melatih tari anak-anak di Sanggar Tari Edelweiss adalah sabar dan harus bisa membuat mereka merasa nyaman. Sehingga latihan tari tidak menjadi beban tapi seperti permainan, jadi mereka tidak merasa terbebani.

Penampilan Sanggar Tari Edelweiss di Festival Budaya Anak Bangsa ke-X dalam rangkaian acara merayakan Hari Anak Sedunia di TIM – Foto: Akhmad Sekhu

“Kita menerapkan kedisiplinan, membangun karakter, sportifitas. Kalau ada yang terlambat datang didenda lima ribu, atau kalau ada yang bicara tidak etis juga didenda lima ribu. Uang yang terkumpul dari denda-denda itu kita pakai untuk anak yang sakit atau kalau ada anak yang ulang tahun,“ uraiannya.

Sanggar Tari Edelweiss tampil di berbagai event, seperti di antaranya, di acara Hari Anak Sedunia di TIM ini. “Kita beberapa hari lalu juga tampil di event Dance Karnival di Institur Kesenia Jakarta (IKJ), acara-acara di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan lain-lain,“ imbuhnya.

Hengky berharap sanggarnya bisa lebih berkembang lagi dengan anggota yang lebih banyak lagi. “Kita juga berharap ada lahan bagi mereka untuk mengaplikasikan yang sudah diperoleh di sanggar, dan semakin lebih banyak event untuk tampil,” pungkasnya.

Lihat juga...