SDM, Kendala Pengembangan Usaha Kerajinan Sangkar Burung Argosari

Editor: Mahadeva WS

152
Pengrajin sangkar burung asal dusun Tapen, Argosari, Sedayu, Bantul sedang melakukan aktivitas pembuatan sangkar - Foto: Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA – Minimnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), menjadi kendala utama pengembangan usaha produksi kerajinan sangkar khusus burung anggungan, di desa Argosari, Sedayu, Bantul. 

90 persen sangkar dari desa Argosari, dijual dalam bentuk barang mentah atau setengah jadi. Hal itu membuat nilai jual sangkar menjadi rendah. Dampaknya, pendapatan perajin menjadi kurang maksimal. “Memang hampir semua kurungan yang dihasilkan perajin disini masih berupa barang mentah. Barang dikirim ke luar daerah seperti Jawa Timur, dalam kondisi belum di cat atau di finishing,” ujar salah seorang perajin sangkar burung di Argosari, Sedayu, Bantul, Rur Ali Frendi, Selasa (6/11/2018).

Penjualan sangkar burung setengah jadi ke luar daerah, dilakukan bukan karena permintaan konsumen. Melainkan karena ketidakmampuan para perajin memproduksi sangkar yang telah sepenuhnya jadi. Kurangnya prasarana, skill, serta lamanya proses finishing, menjadi penyebab utamanya.

“Padahal permintaan kurungan jadi (yang telah dicat dan difinising) banyak. Tapi karena barang tidak ada, maka kita kirim dalam bentuk mentah. Padahal sebenarnya, nilai jual kurungan yang sudah jadi minimal itu bisa mencapai hingga 2 kali lipat dibandingkan kurungan yang masih mentah,” imbuhnya.

Perajin lainnya, Andi, mengaku mampu memproduksi 10 sangkar mentah setiap minggunya. Ada tiga jenis sangkar yang dibuat, yakni Surabayanan, Jambu dan Deruk. Satu buah sangkar mentah, dijual dengan harga Rp115 ribu hingga Rp120 ribu per biji. “Memang hanya buat setengah jadi karena kalau seperti itu saja laku, kenapa mesti susah-susah? Kalau mau bikin sampai finishing itu kan masih butuh beli alat kompresor dan lain-lain. Itupun prosesnya lama, satu kurungan bisa butuh waktu pengerjaan mimim tiga hari. Jadi saya memilih bikin mentah saja, lebih mudah dan enak, walaupun hasilnya kecil,” tandasnya.

Desa Argosari, Sedayu, Bantul, selama ini dikenal sebagai sentra perajin sangkar burung anggungan. Di desa tersebut, terdapat ratusan perajin sangkar burung skala rumahan. Di dusun Tapen tercatat ada 56 perajin, dan jumlahnya semakin bertambah, karena hasil produksi kurungan masih belum mampu memenuhi kebutuhan pasar luar daerah.

Baca Juga
Lihat juga...