Sejak Sekolah Lima Hari, TPA dan TBM Sepi

Editor: Mahadeva WS

162

YOGYAKARTA – Penerapan sistem lima hari masuk sekolah di seluruh jenjang pendidikan, di kota Yogyakarta, berdampak pada sejumlah kegiatan pendidikan informal. 

Kegiatan pendidikan di luar sekolah formal, seperti Taman Pendidikan Alquran (TPA), yang digelar di masjid-masjid setiap sore hari, semakin sepi peserta. Begitu juga dengan kegiatan literasi di sejumlah perpustakaan kampung, yang ada di wilayah kota Yogyakarta.

Pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Harapan kampung Tukangan, Buasasran, Danurejan, Yogyakarta, Warini Widodo – Foto: Jatmika H Kusmargana

Pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Harapan, Kampung Tukangan, Buasasran, Danurejan, Yogyakarta, Warini Widodo, tidak menampik fenomena tersebut. Dia mengatakan, sejak penerapan sistem lima hari sekolah, anak-anak di kampungnya semakin jarang berkunjung ke TBM.

Anak-anak sudah terkuras energinya, untuk melakukan kegiatan di sekolah. Dengan sistem lima hari masuk sekolah, mereka harus mengikuti pelajaran sejak pagi hingga sore hari, mulai dari Senin hingga Jumat. Baik itu kegiatan belajar mengajar biasa maupun ekstrakurikuler.

“Sejak penerapan lima hari sekolah, memang sekarang TBM sepi. Paling hanya ramai saat akhir pekan saja. Sabtu dan Minggu. Karena kalau hari biasa anak-anak biasanya sudah lelah. Sehingga malas untuk pergi ke TBM. Padahal dulu sepulang sekolah biasanya TBM ramai anak-anak,” sebutnya, Kamis (8/11/2018).

Salah seorang pengajar TPA Al-Insan Masjid Al-Ikhlas, Mergangsan, Yogyakarta, Rahma – Foto: Jatmika H Kusmargana

Pengajar TPA Al-Insan, Masjid Al-Ikhlas, Mergangsan, Yogyakarta, Rahma, menyebut, jumlah santri di TPA yang dikelolanya cenderung berkurang. Anak usia SD, yang biasanya setiap sore berangkat TPA, kini memilih beristirahat di rumah. “Dulu, paling tidak setiap sore, ada belasan anak yang belajar mengaji atau membaca Iqro dan Alquran di Masjid. Tapi sekarang sepi. Paling hanya satu dua anak saja. Karena, capai seharian di sekolah, banyak anak-anak yang memilih istirahat dan tidur di rumah. Sehingga tidak berangkat TPA,” tandasnya.

Kebijakan lima hari masuk sekolah, menjadi dilema tersendiri bagi para pegiat pendidikan informal seperti Rini dan Rahma. Di satu sisi, mereka tidak bisa menentang kebijakan yang telah ditetapkan pemerintah. Namun di sisi lain, dengan kebijakan itu anak-anak juga tidak bisa mengikuti pendidikan informal yang tidak kalah penting. “Ya, mau bagaimana lagi. Kan sudah kebijakan pemerintah. Paling hanya memaksimalkan waktu yang ada saja. Yakni saat akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu,” pungkas Rini.

Baca Juga
Lihat juga...