Semua Level Kepemimpinan Punya Andil Kendalikan Rokok

Editor: Mahadeva WS

203
Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Indonesia, Anung Sugihantono.-Foto: Sultan Anshori.

BADUNG – Kepemimpinan di semua level di Indonesia, memiliki peran penting sebagai agen pembaharu membantu melakukan gerakan pengendalian rokok.

“Sekarang kita bicara tata caranya, leadership atau kepemimpinan, bagaimana seorang di manapun, di posisi apapun, agar bisa menjadi agen pembaru dalam pengendalian rokok ini,” ucap Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan Indonesia, Anung Sugihantono, usai pembukaan The 2018 Asia Pacific Tobacco Control Leadership Program, Senin, (5/11/2018).

Menurutnya, forum yang digelar di Bali tersebut, sejatinya merupakan rangkaian dari pertemuan sebelumnya. Yaitu me membahas upaya pengendalian rokok, namun pada aspek makro dalam hal ini kebijakan pemerintah.

Forum Asia Pacific Tobacco Control Leadership menjadi penting, dan menjadi momentum menempatkan peran kepemimpinan di masing-masing tingkatkan, sesuai kemampuan dan kapasitasnya, agar bisa memberikan efek kepada orang atau institusi, atau mempengaruhi kebijakan, yang bisa menghilangkan atau paling tidak mengurangi konsumsi rokok di kawasan Asia Pasifik.

“Ajang ini juga bisa menjadi pembelajaran penting bagi masing-masing negara, untuk berbagi dengan negara lain. Beberapa negara yang hadir seperti kamboja, Timorleste, Amerika Serikat, dan Singapura, nantinya bisa membangun aliansi tingkat Asia maupun Global,” imbuh Anung.

Anung menyebut, Presiden Joko Widodo belum lama ini di Tangerang, juga berbicara tentang kota sehat, healthy cities, yang dimulai dari sanitasi dan air bersih dan faktor lainnya. Diyakini, ke depan, kebijakannya akan mengarah pada program seperti smoke free area. Upaya mengurangi konsumsi rokok, tidak hanya dengan menaikkan cukai. Cukai hanya salah satu cara saja. Banyak modus atau cara yang bisa dipakai untuk mengurangi konsumsi rokok.

Filipina adalah negara yang bisa menjadi contoh bagaimana menerapkan kenaikan cukai rokok. Dinegara tersebut, kenaikan cukai mencapai 700 persen. “Soal cukai ini, Kementerian Keuangan yang mengatur, tentu dengan berbagai pertimbangan,” imbuhnya.

Contoh pengurangan konsumsi rokok adalah seperti yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kulonprogo, DIY. Pemerintahan daerah setempat, melarang display rokok di semua toko, termasuk tidak boleh menjual rokok kepada anak di bawah 18 tahun, sekalipun diminta membelikan oleh orang tuanya, jika melanggar bisa dikenai sanksi.

Asisten I Pemprov Bali, IB Subiksu, menambahkan, Bali telah memiliki kebijakan secara umum untuk melindungi hak kesehatan warganya. Caranya dengan menempatkan perokok pada daerah tertentu, dan mengurangi paparan asap rokok. “Forum ini penting untuk saling memberi masukan, misalnya bagaimana Perda No.10/2011, tentang KTR yang di-breakdwon lagi, jadi ada pengawasan perda secara langsung,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...