Sistem Waris Sebabkan Produktivitas Pertanian Menurun

Editor: Koko Triarko

190
Luluk Cahyo Wiyono, Pengamat Pertanian sekaligus Staf pengajar Jurusan Manajemen Agribisnis Politeknik Negeri Jember (Polije)  -Foto: Kusbandono
JEMBER – Salah satu kelemahan dalam sistem pengelolaan pertanian di Indonesia, masih menggunakan sistem waris dalam regenerasi bercocok tanam. Hal tersebut menyebabkan semakin berkurang lahan pertanian yang produktif, akibat pembagian lahan yang dilakukan oleh petani yang memiliki lahan cukup luas kepada anak cucunya sebagai ahli waris.
“Seorang petani jika punya lahan pertanian seluas tiga hektare, kemudian dalam keluarga terdapat enam orang anak, dan ketika masa tua tiba, pasti dalam sistem waris lahan tersebut harus dibagikan ke enam anaknya. Sehingga masing-masing mendapat setengah hektare untuk setiap anak. Kondisi tersebut membuat lahan produktif pertanian semakin berkurang tingkat produktivitasnya,” jelas Luluk Cahyo Wiyono, Pengamat Pertanian sekaligus Staf pengajar Jurusan Manajemen Agribisnis Politeknik Negeri Jember (Polije) kepada Cendana News, Senin (12/11/2018).
Luluk menambahkan, dalam kondisi ketika lahan pertanian yang telah terbagi tersebut, tidak mungkin hasil produktivitasnya seperti sedia kala sebelum dipecah-pecah. Karena pola pengelolaan dan perlakuan juga tidak sama, setelah dipecah menjadi lebih sempit secara perorangan dibandingkan sebelumnya. Belum lagi yang menjadi pemukiman.
“Ini sangat berbeda, terutama terkait manajemen agribisnis, bila lahan tiga hektare dikelola satu orang dibandingkan dengan dikelola oleh enam orang dipecah-pecahkan. Apalagi, nilai ekonominya juga akan jauh berbeda,” tambahnya.
Dalam kondisi lahan pertanian yang semakin sempit, terutama bagi masyarakat pinggiran perkotaan atau kawasan perumahan, harus segera dicarikan solusinya, agar kebutuhan pangan tetap terjaga.
“Salah satu solusi alternatifnya dengan konsep bertani di lahan sempit. Memang, saat ini banyak orang lagi gandrung bercocok tanam dengan metode hidroponik secara individu. Sehingga yang terjadi adalah hasil yang dinikmati juga terbatas pada yang bersangkutan. Pola semacam itu harus segera diubah sehingga kemanfaatannya dapat dirasakan secara komunal,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Luluk menjelaskan, bila dalam lingkungan perumahan terdapat seseorang yang mempunyai kemampuan bercocok tanam dengan menggunakan lahan sempit, lalu mereka merangkul tetangga kanan kiri untuk diajak berkecimpung dalam usaha tersebut, bukan tidak mungkin langkah tersebut akan dapat meningkatkan ekonomi secara bersama-sama.
“Taruhlah bercocok tanam dengan tanaman hias dalam pot, setiap rumah terdapat lima pot tanaman hias, bila disatukan dalam satu dibentuk sebuah komunitas usaha persewaan tanaman hias dengan dikelola bersama jaringan persewaan perlengkapan iven organiser, maka bukan tidak mungkin potensi itu akan menghasilkan pendapatan yang luar biasa dalam masyarakat pinggiran perkotaan, atau perumahan yang lahan pertaniannya hampir tidak ada. Apalagi dengan metode hidroponik yang dapat menanam berbagai tanaman kebutuhan pokok, terutama sayur-sayuran,” ujarnya.
Luluk juga mengakui, butuh tantangan tersendiri dan waktu untuk mewujudkan hal tersebut. Di samping pola pikir juga butuh leader yang mampu menjadi penggerak dalam membentuk komunitas bercocok tanam di lahan sempit secara bersama-sama.
“Adalah akademisi yang harus mampu mengawal konsep bercocok tanam di lahan sempit secara massal, dengan melibatkan banyak pihak, salah satunya anak muda, terutama mahasiswa. Karena bagaimana pun juga, pangan menjadi sesuatu hal yang harus dijaga ketersediaan dan keberlangsungannya,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...