Siswa SMA di Sumsel, Temukan Inovasi Briket Limbah Salak

146

PALEMBANG  – Inovasi briket dari limbah biji salak dan ampas tebu karya Tim SMA Negeri Sumatera Selatan, berhasil meraih juara pertama dan menjadi ide inovasi terbaik dalam kompetisi Bukit Asam Foundation (BAF) Innovation Sains Festival.

Tim SMA Negeri Sumatera Selatan tersebut, seperti dilaporkan Ahad, terdiri dari Dewi Mirah Rezki, Surya Bima Wicaksono, dan Azis Saputra.

Ajang BAF Innovation Sains Festival “Kreasi Untuk Indonesia” yang diselenggarakan oleh PT. Bukit Asam, Tb tersebut berlangsung pada 7-8 November 2018 lalu di Bukit Asam Tanjung Enim Sumsel dan ketiganya mendukung keberhasilan meraih juara 1. Briket hasil penelitian mereka selama dua minggu juga dianugerahi predikat Best Idea.

“Dalam ajang ini kami berhasil mengalahkan 14 finalis lainnya dari 7 Kabupaten dan Kota di Sumsel,” Papar Dewi dijumpai di SMA Negeri Sumsel di Palembang.

Ide awal pembuatan briket dari limbah biji salak dan ampas tebu ini dari sampah buah yang ada di kantin sekolah. Ketiganya melihat bahwa salak merupakan komoditas perkebunan terbesar setelah pisang dan nanas.

Sedangkan ampas tebu juga sangat melimpah sehingga sangat baik untuk dimanfaatkan guna mengurangi limbah biji salak dan ampas tebu yang selama ini hanya dibuang masyarakat.

Menurut Dewi, salak adalah salah satu buah yang sering masuk dalam menu makanan mereka dan hampir selalu ada.

Dari sana ia bersama dua rekan lainnya Azis dan Bima memikirkan kemungkinan pengolahan limbah biji salak menjadi sumber energi.

“Melihat itu maka muncul gagasan untuk membuat briket produk BRIPTU alias Briket Biji Salak Ampas Tebu menjadi briket,” Ujar Azis. Ketiga siswa kelas XII IPA 2 ini membuat energi alternatif terbarukan yang aplikatif bagi masyarakat dengan mengolah limbah biji salak dan ampas tebu menjadi bahan bakar briket.

Briket hasil penelitian mereka ini dapat digunakan untuk memasak sehingga dapat mengantisipasi kelangkaan gas elpiji dan minyak tanah.

“Lewat penelitian ini kami berupaya memberikan inovasi energi alternatif dengan memanfaatkan biji salak dan ampas tebu karena persediaannya yang banyak. Disamping itu ada kandungan selulosa yang sangat tinggi dalam biji salak dan ampas tebu,” ungkap Azis.

Azis juga menjelaskan ada beberapa tahapan dalam pengolahan limbah biji salak dan ampas tebu ini. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengeringkan biji salak dan ampas tebu dengan cara dijemur. Kemudian bahan tersebut dikarbonisasi hingga menjadi arang dengan menggunakan oven untuk ampas tebu.

Sementara biji salak dikarbonasi dengan dimasukkan ke dalam aluminium foil dan dibakar di api terbuka. Arang hasil pembakaran selama tiga jam limbah biji salak dan ampas tebu tadi dihaluskan dan disaring untuk mendapatkan hasil yang halus.

Untuk menjadikannya briket karbon ampas tebu tadi dicampur dan direkatkan dengan menggunakan sagu. Setelah lekat barulah dicetak. Aziz menjelaskan kendala yang mereka hadapi selama penelitian adalah keterbatasan alat.

“Karena pada produksi briket skala besar biasanya menggunakan mesin khusus seperti mesin press hidrolik, mesin pengaduk dan drum klin. Namun, karena briket yang kami buat masih dalam skala lab, maka kami hanya menggunakan peralatan sederhana, misalnya pipa paralon untuk mencetak dan drum bekas untuk proses karbonisasi. Sehingga untuk membuat briket yang lebih berkualitas menjadi lebih sulit,” ungkapnya.

Harapan ke depan, apabila briket ini sudah diaplikasikan di masyarakat dan sudah diproduksi dalam skala besar, dapat menggunakan peralatan khusus seperti mesin pengaduk dan mesin press hidrolik sehingga proses produksi briket biji salak dan ampas tebu ini menjadi lebih efektif.

Azis berharap penelitian tentang briket ini dapat ia lanjutkan di perguruan tinggi nanti.

“Kebetulan saya diterima di jurusan enewable energy engineering Universitas Prasetya Mulya, rencananya penelitian ini akan saya tingkatkan lagi nanti,” ujarnya.

Sementara, Bima berencana untuk melanjutkan pendidikan ke Teknik Pertanian Universitas Gajah Mada dan Dewi memilih untuk melanjutkan di Jurusan Geologi Institut Teknologi Bandung.

“Di jurusan yang menjadi incaran saya, penelitian ini akan saya sesuaikan jadi pemanfaatan limbah pertanian,” kata Bima.

Sementara itu, guru pembimbing dan pendamping tiga siswa ini, Fadli Ardiano, berharap ketiga siswa binaannya ini dapat mengambil universitas idaman mereka lewat jalur bibit unggul.

“Ada universitas yang menerima siswa yang sekolah punya penelitian. Jadi besar harapan kami dengan prestasi ini mereka bisa lolos ke universitas yang mereka tuju,” ujarnya.

Ia juga berharap budaya penelitian di SMAN Sumsel terus dapat berlanjut dan ditingkatkan agar siswa dapat terus berprestasi dan memotivasi adik kelas mereka untuk meneliti.

“Tentunya sekolah memberikan dukungan penuh dari segi peralatan seperti laboratorium maupun secara finansial, untuk itu budaya penelitian harus terus berlanjut,” paparnya. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...