TAGANA Garda Depan Penanganan Bencana

Editor: Koko Triarko

157
LAMPUNG – Potensi bencana alam yang ada di wilayah Indonesia, khususnya di Lampung, membuat Taruna Siaga Bencana (Tagana) ikut menjadi garda terdepan.
Hasran Hadi, Sekretaris Tagana Kabupaten Lampung Selatan, menyebut personel Tagana kerap dikerahkan dalam beberapa kejadian bencana dengan tugas pokok membuat dapur umum, yang merupakan salah satu fasilitas pokok saat penanganan bencana alam.
Hasran Hadi mengaku sudah diterjunkan dalam sejumlah kejadian bencana alam banjir bandang, gelombang pasang akibat badai Dahlia di pesisir Lamsel, gempa Lombok, gempa dan tsunami Sulawesi Tengah.
Pada penanganan kejadian bencana, peran tim search and rescue (SAR) serta sejumlah pihak, sangat diperlukan pada langkah penanganan pertama bencana alam. Salah satu garda terdepan yang sangat penting ditempatkan pada lokasi bencana adalah kehadiran dapur umum lapangan.
Hasran Hadi, Sekretaris Taruna Siaga Bencana Lampung Selatan yang sudah ditugaskan dalam penyediaan dapur umum lapangan di lokasi bencana alam Lampung, Lombok dan Sulawesi Tengah -Foto: Henk Widi
“Taruna siaga bencana selalu dilibatkan sebagai salah satu dukungan pada sistem terpadu penanganan bencana, sebab kebutuhan logistik bagi korban penyintas atau pengungsi bencana alam, relawan sangat diperlukan,” terang Hasran Hadi, ditemui Cendana News di sela simulasi bencana alam gempa bumi, tsunami di dermaga Bom, Selasa (6/11/2018).
Kehadiran Tagana dalam penyediaan dapur umum lapangan, kata Hasran Hadi, berdasarkan sejumlah kejadian bencana yang sudah pernah melibatkan timnya.
Ia menyebut, dapur umum lapangan atau disingkat Dumlap, dibutuhkan saat di lokasi bencana sudah dibuat shelter atau lokasi aman untuk pengungsian. Pengungsi korban bencana yang sudah kehilangan tempat tinggal, sangat membutuhkan dumlap untuk menyuplai makanan.
Hasran Hadi juga menyebut, Tagana Lamsel telah dilatih menjadi para relawan dengan tugas pokok dan fungsi menyediakan dapur umum, shelter, layanan dukungan psikososial.
Tiga tugas pokok tersebut sudah diterapkan dalam sejumlah kejadian bencana, di antaranya di wilayah Lampung Selatan, saat terjadi bencana banjir Sungai Sekampung, Kecamatan Sragi. Kehadiran dumlap akan diiringi dengan shelter, sekaligus petugas layanan dukungan psikososial, berupa psikiater atau petugas yang sudah dilatih.
“Pengungsi korban bencana alam kerap mengalami tekanan psikologis, sehingga tidak mau makan, akibat kehilangan keluarga, karenanya layanan dukungan sosial juga menjadi tugas Tagana,” beber Hasran Hadi.
Sebagai wilayah dengan urutan bencana nomor 84 dari sekitar 800 lebih daerah rawan bencana di Indonesia, simulasi kesiapsiagaan bencana harus rutin dilakukan. Penanganan bencana menjadi tugas bersama berbagai unsur pemerintah, masyarakat termasuk Tagana.
Menurutnya, hingga saat ini relawan untuk penanganan bencana alam di Lamsel yang tergabung dalam Tagana berjumlah sekitar 44 orang, dengan 12 orang di antaranya merupakan petugas dapur umum lapangan.
Ia menjelaskan, fasilitas dapur umum lapangan merupakan fasilitas mobil yang di dalamnya berisi alat memasak. Dukungan mobil tangki air bersih yang semuanya di bawah kendali Kementerian Sosial, juga berhubungan erat dengan stok bahan makanan siap saji.
Pada sejumlah kejadian bencana alam serta konflik sosial, Tagana Lamsel dalam satu hari bisa menyiapkan sekitar 1.000 hingga 3.000 paket makanan siap santap, di antaranya nasi, mie instan, telur, ikan sarden serta minuman.
“Praktik di lapangan, dukungan dapur umum diperlukan untuk logistik para relawan dan pengungsi, sehingga mereka tetap bisa makan dalam situasi bencana alam,” beber Hasran Hadi.
Sempat bertugas di wilayah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah pada lokasi pengungsi, personel Tagana semakin diberi tanggung jawab dalam penyediaan logistik. Pemahaman akan kondisi psikologis saat menyiapkan bahan makanan, menjadi panting, karena terkadang sejumlah pengungsi memiliki karakter yang berbeda.
Pelaksana Tugas Bupati Lamsel, Nanang Ermanto, menjabat tangan anggota TNI Kodim 0421 Lampung Selatan dalam simulasi bencana gempa dan tsunami di Kalianda -Foto: Henk Widi
Tingkat stress yang tinggi untuk menyiapkan porsi makan dalam kondisi dibungkus, bahkan dianggapnya menjadi tugas mulia sebagai anggota Tagana.
Nanang Ermanto, Plt Bupati Lampung Selatan, pada seluruh pihak terkait yang selalu siaga untuk penanganan bencana mengharapkan adanya kekompakan.
Berkaca pada sejumlah kejadian bencana alam di Lamsel yang sudah terjadi, ia menyebut simulasi yang dilakukan kerap bisa berbeda dengan kondisi nyata. Nanang Ermanto pun mengajak para personel TNI, POLRI, BPBD, Tagana, PMI, selalu siap ditugaskan dalam kondisi apa pun.
“Wilayah Lamsel dikelilingi lautan berpotensi gempa dan tsunami, ditambah Gunung Anak Krakatau yang terkenal dahsyat saat meletus, mitigasi bencana harus selalu dilakukan,” beber Nanang Ermanto.
Sejumlah latihan penanganan bencana alam, kata Nanang Ermanto, bukan hanya bertujuan untuk melatih unsur pemerintah terkait kebencanaan. Upaya simulasi merupakan bentuk antisipasi penanganan bencana, sekaligus memberi edukasi kepada masyarakat. Antisipasi dilakukan, agar masyarakat bisa mandiri melakukan penanganan atau menanggulangi bencana agar tidak menelan banyak korban.
Baca Juga
Lihat juga...