Tarif MRT Bervariasi Tergantung Jarak

Editor: Mahadeva WS

174

JAKARTA – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengatakan, tarif Mass Rapid Transit (MRT) bervariasi, sesuai dengan jarak tempuh. Semakin jauh tujuan, biaya akan semakin mahal.

Skema tarif yang diterapkan, sama seperti tarif di kereta rel listrik Jabodetabek, namun berbeda dengan TransJakarta. “Harganya MRT akan bervariasi, karena ditentukan dengan jarak tempuh. Berbeda dengan TransJakarta yang kemana saja sama harganya,” kata Anies, Rabu (7/11/2018).

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mengaku, tidak mau terburu-buru menetapkan tarif MRT. Penetapan akan mempertimbangkan, hasil pemeriksaan dan perkiraan jarak antar stasiun. “Jangan buru-buru kita menetapkan berapa ribu rupiah gitu. Karena itu akan tergantung pada jarak. Stasiun itu ada yang jaraknya tidak bulat. Misal kita mengatakan X rupiah per kilometer, nanti ada stasiun-stasiun yang jaraknya satu kilometer, tiga kilometer, ada yang jaraknya hanya 800 meter. Jadi nunggu fix-nya dulu,” tandasnya.

Banyak aspek yang perlu dikaji, sebelum menetapkan tarif. Selain jarak, kajian lainnya termasuk daya beli, serta kemauan membayar masyarakat. Sementara, mengenai usulan pembangunan MRT fase II ke wilayah Kota dan Ancol, Jakarta Utara, sudah menjadi usulan.  “Memang itu usulan dari kami. Pembangunan fase II itu sampai ke Kota, tapi memang kita membicarakan agar bisa sampai ke Timur, bisa sampai ke Taman BMW dan Ancol,” tambahnya.

Rancangan tersebut masih dibahas oleh PT MRT, dengan pihak Jepang, dan belum mendapatkan kesepakatan bersama. Usulan tersebut belum tentu terealisasi. Perlu ada pembicaraan lebih lanjut dengan banyak pihak, namun telah terlanjur muncul di permukaan.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, bakal mempercepat pembangunan MRT fase dua. Menurutnya, proyek tersebut dimulai akhir tahun ini, dan akan diperpanjang hingga Ancol, Jakarta Utara. “Arahan Presiden sangat menantang, beliau ingin kami sudah segera mulai pembangunan fase dua ke Stasiun Kota. Bahkan setelah itu dimungkinkan bisa ke lebih timur hingga Ancol,” ujar Budi secara terpisah.

Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, pembangunan MRT jalur timur barat (lintas Balaraja-Cikarang), bisa dilakukan bersamaan dengan pembangunan fase dua dari Bundaran HI sampai Ancol. Adapun progres pekerjaan proyek MRT Jakarta lintas Lebak Bulus-Bundaran HI sudah mencapai 97 persen. MRT fase satu ditargetkan sudah beroperasi penuh pada Maret 2019.

Selanjutnya akan dilakukan groundbreaking pengerjaan fisik, dilakukan pada Desember 2018 mendatang. Apabila berjalan mulus, Dia mengestimastikan proyek bakal rampung pada lima tahun kemudian yakni 2023.

Direktur Utama MRT, William P Sabandar, mengatakan, proyek MRT akan diperluas hingga Kampung Bandan atau Ancol. Namun, pada tahap kedua, yang sudah pasti akan diterukan ke Stasiun Kota “Tahap dua dimulai Januari 2019. Panjangnya kira-kira 8,3 kilometer. Itu dari HI sampai Kampung Bandan. Tapi sekarang yang akan kita lakukan hanya sampai ke Kota dahulu. Sambil kita tunggu kepastian deponya dimana,” tutupnya.

Diketahui MRT tahap I hampir rampung dan siap beroperasi pada Maret tahun depan. Dimulai dari Lebak Bulus, MRT ini akan berakhir di Bundaran HI. MRT tahap II akan mulai dibangun pada awal tahun depan atau paling cepat Desember nanti dengan perkiraan biaya pembangunan mencapai Rp30 triliun. Rencananya MRT tahap II akan sampai Ancol.

Baca Juga
Lihat juga...