Teknologi Pacu Spesialisasi Bedah Saraf Makin Diminati

Editor: Satmoko Budi Santoso

200

JAKARTA – Meningkatnya animo para mahasiswa kedokteran untuk mempelajari lebih mendalam spesialisasi bedah saraf, menurut Pakar Bedah Saraf Prof. Dr. dr. Satyanegara, SpBS terlihat dari semakin banyaknya informasi tentang bedah saraf diakses.

Baik melalui buku literatur maupun e-book. Selain itu, di Indonesia sendiri, sudah ada 80 fakultas kedokteran dan lebih dari 360 spesialis bedah saraf.

“Ilmu bedah saraf ini merupakan suatu teknik yang mempelajari pembedahan terkait pada gangguan saraf, jadi bukan pada perawatannya. Dengan mempelajari teknik bedah saraf, maka akan didapatkan suatu tindakan operasi yang tidak akan mempengaruhi fungsi-fungsi organ lain serta mempermudah dan memperlancar proses operasi. Dengan begitu, keamanan bagi pasien juga akan meningkat,” kata Prof. Satyanegara saat Peluncuran Buku Ilmu Bedah Saraf Edisi Ke-6 miliknya di Jakarta, Sabtu (10/11/2018).

Dengan berkembangnya teknik bedah saraf, maka jumlah pasien yang ditangani juga meningkat. Ini bukan karena jumlah penyakitnya bertambah tapi karena peralatan yang ada sekarang memungkinkan para dokter bedah saraf untuk bisa mendiagnosa dan mendeteksi gangguan secara lebih akurat dan cepat.

“Dulu, pada tahun 1970-an, proses pemeriksaan kondisi otak ini cukup sengsara bagi para pasien. Membutuhkan suntikan di beberapa tempat, proses memasukkan hawa ke bagian otak. Belum lagi proses diagnosa yang terkadang tidak akurat karena kurangnya data. Kalau sekarang tinggal berbaring saja, sudah ketahuan. Kayak MRI atau CT Scan, pasien hanya baring, anatomi tubuh sudah terlihat jelas,” ujar profesor lulusan Jepang ini.

Perkembangan ilmu bedah saraf juga menyebabkan tingginya tingkat kesembuhan dari pasien yang mengalami gangguan saraf dan sudah mendapatkan tindakan bedah saraf.

“Seorang dokter yang ingin mengambil spesialis bedah saraf, bisa mengambil di Universitas Indonesia Jakarta, Universitas Airlangga, Universitas Padjajaran Bandung, Universitas Diponegoro, Universitas Hasanuddin Makassar, Universitas Udayana Bali, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Sumatera Utara. Masa belajarnya sekitar 5 tahun setengah. Dalam waktu setahun, ada sekitar 10 ahli bedah saraf baru,” paparnya.

Dengan tingginya animo untuk mempelajari ilmu bedah saraf ini, beberapa pihak mengajukan kepada Prof. Satyanegara untuk menerbitkan edisi ke-enam dari bukunya. Tentunya dengan menambahkan beberapa informasi terbaru terkait ilmu bedah saraf.

Prof. Satyanegara menyatakan bahwa buku Ilmu Bedah Saraf ini ditujukan bagi para mahasiswa yang tertarik dengan ilmu bedah saraf dan untuk para mahasiswa yang sudah mengambil spesialisasi bedah saraf.

“Ini adalah alasan saya untuk kembali mengeluarkan edisi keenam dari buku Ilmu Bedah Saraf, yang saya bikin pertama kali itu di tahun 1976. Saat itu, saya membutuhkan waktu 4 tahun untuk menyusun buku ini. Dalam buku ini akan ada informasi rinci tentang kasus-kasus tertentu yang tidak ditemui di internet, penyakit-penyakit baru dan teknik bedah saraf terbaru. Jika dibandingkan dengan edisi kelima, edisi keenam ini memiliki penambahan ilmu teknik bedah saraf baru sebanyak 30 persen,” kata Prof. Satyanegara lebih lanjut.

Dalam penyusunan edisi keenam ini, Prof. Satyanegara menyatakan, dibantu oleh 20 tenaga ahli bedah saraf, yang masing-masing memiliki kualifikasi berbeda.

“Ke-20 orang yang membantu saya ini, masing-masing memiliki spesifikasi dan keunggulan yang berbeda. Jadi mereka membantu mengisi buku ini dan saya hanya tinggal merevisi sesuai dengan gaya saya. Sehingga proses penyusunannya jauh lebih cepat dibandingkan edisi-edisi sebelumnya, yang saya kerjakan sendiri,” paparnya.

Diakui oleh Prof. Satyanegara, buku ini memang sulit untuk dipahami oleh masyarakat awam. Karena memang dari segi bahasa, sepenuhnya menggunakan istilah-istilah dalam dunia bedah saraf.

“Kalau memang ada masyarakat awam yang tertarik membaca buku ini, boleh saja. Tapi sebaiknya berkonsultasi dengan ahli bedah saraf. Sehingga akan mampu memahami dengan baik,” ucapnya.

Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan informasi tentang ilmu bedah saraf, Prof. Satyanegara sendiri pernah menerbitkan buku yang berjudul Cerita Lucu dari Profesor Bedah Saraf. Buku ini membahas tentang ilmu bedah saraf secara ringan sehingga mudah dipahami.

Baca Juga
Lihat juga...