Tradisi Bersih Diri, Sejumlah Pantai Lamsel Dipadati Warga

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

109

LAMPUNG — Menjelang senja, sejumlah pantai di wilayah Lampung Selatan dipenuhi sejumlah warga. Bukan hari libur, namun sebuah tradisi unik masyarakat setiap Rabu terakhir pada bulan Safar sesuai kalender Islam yang disebut juga Rabu Mucuk, Wekasan.

Budi Santoso, Ketua Karang Taruna Desa Totoharjo Kecamatan Bakauheni Lampung Selatan. Foto: Henk Widi

Pengelola pantai Belebuk Karang Indah yang juga ketua Karang Taruna Desa Totoharjo, Budi Santoso menyebutkan, tradisi Rabu Mucuk merupakan salah satu kebiasaan yang dilakukan pada akhir bulan Safar. Sesuai tradisi diisi oleh masyarakat yang berasal dari wilayah Banten, Lampung dengan melakukan kegiatan bersih diri. 

“Pantai menjadi pilihan karena memiliki makna penyucian diri menggunakan tempat yang luas dan warga bisa mempersiapkan menyambut bulan Rabiul Awal atau bulan Maulud kelahiran nabi Muhammad SAW,” terang Budi Santoso, Rabu (7/11/2018).

Di hari biasa, kunjungan hanya mencapai puluhan orang, namun, semenjak siang menjelang sore pada Rabu (7/11), ratusan pengunjung terus berdatangan. Mereka didominasi dari wilayah Bakauheni, Kalianda, Ketapang dan Rajabasa.

Tradisi bersih diri pada Rabu terakhir bulan Safar menjadi tradisi yang dijalankan oleh sebagian masyarakat. Kondisi tersebut  berbeda dengan tradisi Mucuk atau Punggahan sebelum bulan Ramadan meski memiliki makna untuk penyucian diri.

Salah satu warga asal Kalianda, Dhani menyebut sengaja datang ke pantai Belebuk meski bukan hari libur. Mengajak serta seluruh keluarganya untuk melakukan kegiatan bersih diri.

“Nilai positif dari tradisi ini, upaya untuk melakukan tolak bala atau segala macam gangguan dan bahaya,” terangnya.

Pada tradisi bersih diri niat untuk membersihkan jasmani sekaligus rohani dilakukan untuk menyambut bulan Rabiul Awal yang merupakan bulan kelahiran nabi Muhammad SAW. Kegiatan bersih diri menurut Dhani di pantai hanya merupakan sarana karena niat paling utama sebagai pemeluk Islam ia bersama keluarga akan melakukan bersih hati.

Sesuai tradisi, karena kesibukan setelah seharian bekerja, keluarga sudah menyiapkan pembuatan ketupat sehari sebelumnya. Ketupat dilengkapi dengan opor daging ayam, daging sapi akan dimakan secara riungan atau makan bersama di Mushola atau Masjid.

Kegiatan tersebut dilakukan di Masjid pada Rabu Malam setelah sebelumnya melakukan shalat sunah Tafa’ul Bala’ yang bermakna mengindarkan dari segala penyakit, bencana, keburukan.

“Tradisi ini mungkin dijalankan oleh kelompok masyarakat tertentu namun bertujuan untuk mendekatkan diri pada sesama, pencipta,” beber Dhani.

Baca Juga
Lihat juga...