Tujuh Kecamatan di Pekalongan Rawan Longsor

123
Longsor, ilustrasi -Dok: CDN
PEKALONGAN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pekalongan, Jawa Tengah, memetakan ada tujuh kecamatan yang dinilai rawan longsor, dan 10 titik rawan banjir.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pekalongan, Bambang Sujatmiko, mengatakan, intensitas curah hujan pada November 2018 di wilayah atas dan bawah kini sudah mulai meningkat, meski belum merata.
“Berdasarkan hasil kajian Badan Geologi Bandung, kita perlu mewaspadai kejadian tanah gerak maupun longsor, khususnya di wilayah atas atau pegunungan,” katanya, Kamis (8/11/2018).
Ia menyebutkan, tujuh kecamatan itu adalah Kandangserang (potensi tinggi), Kecamatan Paninggaran (tinggi), Petungkriyono (tinggi), Lebakbarang (tinggi), Kajen (sedang), Doro (sedang), dan Kesesi (sedang).
Kemudian 10 titik rawan banjir meliputi Kecamatan Tirto, Wiradesa, Wonokerto, Siwalan, Sragi, Kesesi, Buaran, Kedungwuni, Wonopringgo, Bojong, Tirto, Wonokerto, Siwalan, serta Wiradesa.
“Untuk wilayah Kecamatan Kedungwuni, ancaman terbesar adalah banjir bandang pada aliran Sungai Sengkarang. Demikian juga di Kecamatan Wonopringgo, yang terdapat pertemuan dua sungai, sehingga berpotensi terjadi banjir,” jelasnya.
Menurut dia, musim kemarau yang relatif panjang yang terjadi pada beberapa bulan sebelumnya, dapat menimbulkan rekahan-rekahan tanah yang rawan menyebabkan longsor, bila diguyur hujan.
“Jika rekahan-rekahan tanah itu tidak ditutup, maka hal itu berpotensi longsor. Hal inilah yang perlu diwaspadai oleh masyarakat,” katanya.
Ia mengemukakan, untuk mengangtisipasi berbagai kemungkinan bencana memasuki musim hujan ini, BPBD telah membentuk desa tangguh bencana dengan melibatkan para relawan.
Empat desa tersebut, yaitu Kutorembet Kecamatan Lebakbarang yang berkaitan dengan potensi longsor, Desa Kesesi Kecamatan Kesesi, Desa Galangpengampon, Kecamatan Onopringgo, dan Desa Tengengwetan, Kecamatan Siwalan, terkait potensi banjir.
“Desa-desa yang sudah dibentuk ini akan didorong dapat menangani secara mandiri, bila terjadi bencana. Beberapa hal yang kita berikan antara lain berupa pelatihan relawan, kajian risiko bencana, dan sosialisasi tanggap bencana,” katanya. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...