Uniknya Ritual Festival Adat ‘Mandi Safar’ di Pantai

160
Pengunjung memadati pantai untuk tradisi padusan atau mandi di pantai mengakhiri bulan Safar, il;ustrasi - Foto: Dok. CDN

JAMBI — Ribuan orang dari sejumlah daerah di Kabupaten Tanjung Jabung Timur dan sejumlah daerah lainnya di Jambi mengikuti ritual Festival Adat “Mandi Safar” di Pantai Babussalam Air Hitam, Rabu (7/11/2018).

Kagiatan tahunan yang digelar pada pekan terakhir bulan Safar tersebut, diikuti dengan antusias oleh warga. Mereka datang ke tempat itu untuk ikut prosesi khas masyarakat setempat.

Warga dengan suka cita melakukan mandi bersama di Pantai Babussalam. Mereka saling mengguyur dan mencipratkan air dengan peserta lainnya.

Kegiatan yang secara khusus menjadi agenda pariwisata setiap tahun itu, dihadiri Bupati Romi Hariyanto dan Wakil Bupati Robby Nahliansyah, pejabat pemerintahan, serta tokoh masyarakat di daerah itu.

Selain itu, ada wisatawan mancanegara yang berbaur dengan masyarakat setempat. Turis itu juga mengikuti rangkaian perjalanan wisata yang difasilitasi oleh Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

“Mandi Safar” merupakan kegiatan budaya turun temurun yang rutin digelar masyarakat setempat di Pantai Babussalam. Kegiatan yang kemudian dikemas dalam festival itu, digelar rutin sejak 2013 dengan nama Festival Adat “Mandi Safar”.

Pemkab setempat menjadikan ajang itu sebagai daya tarik wisata khas daerah, dikolaborasikan dengan sejumlah kegiatan perlombaan dan pentas kesenian tradisional.

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Tanjung Jabung Timur Sutiana mengatakan Festival Adat “Mandi Safar” tahun ini digelar sejak 4 hingga 7 November dengan berbagai kegiatan pendukungnya.

Kegiatan itu sudah masuk agenda tahunan wisata nasional yang salah satunya, “Munajat Doa untuk Negeri”.

Rangkaian kegiatan dan lomba, adalah lomba shalawat, munajat doa untuk negeri, familizaration trip, lomba melukis dan kaligrafi, lomba lari malanjong, lomba foto destinasi, lomba tarik tambang pompong, pengambilan daun sawang dan penulisan doa, lomba “menyulak” kelapa, dan hiburan rakyat. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...