UOB Painting of The Year 2018 Pamerkan 50 Karya Terbaik Finalis

Editor: Koko Triarko

148
Dirjend Kebudayaan, Dr. Hilmar Farid -Foto: Akhmad Sekhu
JAKARTA – Pameran seni rupa ‘UOB Painting of The Year’ kembali digelar di Galeri Nasional Indonesia, pada 9-19 November 2018. Sebuah pameran yang menampilkan delapan karya pemenang dan 42 karya terbaik finalis UOB Painting of The Year 2018.
Mengusung tema ‘Natura Hominis’, pameran ‘UOB Painting of the Year 2018’ yang diselenggarakan untuk kedelapan kalinya ini, dengan kurator Agung Hujatnikajennong dan Bambang Asrini Wijanarko.
“Pameran UOB Painting of the Year 2018 memamerkan 50 karya,“ kata Dirjend Kebudayaan, Dr. Hilmar Farid, saat membuka pameran tersebut di Galeri Nasional Indonesia, Gambir, Kamis (8/11/2018) malam.
Dirjend membeberkan, bahwa Maya Rizano, Senior Vice President Strategic Communication and Costumer Advocacy Head, UOB, yang menyatakan, jika UOB Painting of the Year sudah diselenggarakan untuk kedelapan kalinya, dan Indonesia menang lima kali.
“Mendengar kabar itu, saya tidak heran. Karena kualitas seniman kita luar biasa, pengalaman dan pemikirannya juga luar biasa,“ bebernya.
Dirjend menyatakan terima kasih, karena Galeri Nasional Indonesia dipercaya untuk menyelenggarakan pameran ini.
“Saya mengucapkan sukses kepada seniman-seniman kita yang telah mengharumkan nama Indonesia di dunia senia rupa internasional,“ ungkapnya.
Ada pun, Dr. Wiyu Wahono, mewakili Dewan Juri UOB Painting of the Year (Indonesia) 2018, menyampaikan, bahwa lebih dari seribu karya yang ikut serta dalam kompetisi UOB Painting of the Year 2018 ini.
“Ini pencapaian yang sungguh sangat luar biasa,“ katanya.
Dari semua karya yang berkompetisi, sebagian besar atau sekitar 90 persen adalah karya yang dikategorikan sebagai karya yang menyenangkan mata.
“Penilaian karya seni, baik atau buruk itu selalu berubah di era yang berbeda, di era seni rupa kontemporer sekarang ini pesan dari suatu karya yang paling penting, sedangkan yang visual itu sekunder, oleh sebab itu karya-karya yang menyenangkan mata secara otomatis gugur dan tidak kita dapatkan dalam pameran ini,“ paparnya.
Seni rupa kontemporer, kata Dr. Wiyu, memberikan kebebasan kepada seniman secara total. “Tidak ada definisi seni hari ini, dan tidak ada batasan seni hari ini, dan penyelenggara UOB Painting of the Year 2018 juga memberikan kebebasan kepada seniman untuk membuat karya dua dimensi, dan tidak harus lukisan,“ tegasnya.
Sebagai Dewan Juri, Dr. Wiyu melihat karya yang menggunakan medium yang tidak tradisional memberikan perhatian khusus.
“Dari seribu karya lebih, ternyata tidak menggunakan kebebasan, hanya sedikit seni rupa yang membawa pesan kekinian dan membawa pesan yang mencerminkan semangat zaman, karya-karya inilah yang masuk 50 karya finalis, termasuk delapan di antaranya sebagai pemenang UOB Painting of The Year 2018 ini,“ tandasnya.
Baca Juga
Lihat juga...