Vonis Abun Dinilai Terlalu Rendah, KPK Ajukan Kasasi

117
Kabiro Humas KPK Febri Diansyah. -Dok: CDN
JAKARTA – KPK mengajukan kasasi atas vonis Direktur Utama PT Sawit Golden Prima, Hery Susanto Gun, alias Abun, dalam perkara penyuapan Rp6 miliar terhadap Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) nonaktif Rita Widyasari, untuk mendapat izin lokasi perkebunan.
“KPK telah mengajukan kasasi atas Putusan PT No. 17/Pid.Sus-TPK/2018/PT.DKI, dengan terdakwa Hery Susanto Gun,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, di Jakarta, Selasa (12/11/2018).
Pada 7 Mei 2018, majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta menjatuhkan vonis 3,5 tahun penjara, ditambah denda Rp200 juta, subsider 4 bulan kurungan terhadap Abun, karena terbukti menyuap Rita Widyasari.
“KPK menghargai putusan tingkat banding tersebut yang memperkuat putusan tingkat pertama, yang menyatakan perbuatan korupsi terdakwa terbukti dan menjatuhkan vonis 3 tahun 6 bulan,” tambah Febri.
Namun, menurut Febri, KPK memandang putusan tersebut masih cukup rendah dari tuntutan KPK, yaitu 4 tahun 6 bulan penjara, ditambah denda Rp250 juta subsider kurungan 6 bulan.
“Kami harap, di tingkat kasasi nanti majelis hakim di Mahkamah Agung dapat mempertimbangkan penjatuhan hukuman yang sesuai dengan perbuatan terdakwa, terutama karena ancaman maksimal terhadap pemberi suap hanya 5 tahun, dan itu jauh lebih rendah dari pihak penerima suap,” ungkap Febri.
KPK juga sudah menyerahkan memori kasasi sebagai bahan pertimbangan untuk majelis hakim di tingkat kasasi.
Dalam perkara ini, Hery Susanto Gun alias Abun selaku Direktur Utama PT Sawit Golden Prima, terbukti memberikan Rp6 miliar kepada Rita Widyasari, selaku Bupati Kutai Kartanegara periode 2010-2015, berhubungan dengan pemberian izin lokasi perkebunan kelapa sawit di Desa Kupang Baru, kecamatan Muara Kaman, kabupaten Kutai Kartanegera, kepada PT Sawit Golden Prima.
Rita mengenal Abun yang merupakan teman baik ayahnya, Syaukani. Abun sejak 2009 sebagai Dirut PT Sawit Golden Prima, yang telah mengajukan izin lokasi untuk keperluan inti dan plasma perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Kukar. Namun, ada tumpeng-tindih atas permohonan izin lokasi.
Untuk memperlancar pengurusan izin lokasi itu, Abun memerintahkan stafnya, Hanny Kristianto, untuk mendekati Rita. Hanny pun meminta, agar Rita segera menandatangani izin lokasi PT Sawit Golden Prima.
Rita lalu menghubungi Kepala Bagian Administrasi Pertanahan pada Setda kabupaten Kukar, Ismed Ade Baramuli, untuk menanyakan proses izin lokasi PT Sawit Golden Prima, kemudian dijawab, bahwa izin sedang diproses.
Selanjutnya, Rita memerintahkan Ismed untuk segera menyiapkan draf surat keputusan izin lokasi tersebut.
Berikutnya surat keputusan izin lokasi seluas 16.000 hektare itu disiapkan, berikut stempel Bupati Kukar.
Rita lalu menandatangi surat izin tersebut, padahal belum ada paraf dari pejabat terkait. Surat itu juga bertentangan dengan aturan yang menyatakan, bahwa maksimal luas lahan perkebunan satu perusahan adalah 15.000 hektare.
Sebagai kompensasi atas izin lokasi yang telah diterbitkan, Rita menerima uang dari Hery Susanto Gun alias Abun, sebesar Rp6 miliar, melalui rekening Bank Mandiri atas nama terdakwa pada 22 Juli 2010 sebesar Rp1 miliar, dan pada 5 Agustus 2010 sebesar Rp5 miliar.
Dalam perkara ini, Rita Widyasari sudah divonis 10 tahun penjara, ditambah denda Rp600 juta, subsider 6 bulan kurungan, karena terbukti menerima gratifikasi sebesar Rp110.720.440.000,00 dan suap Rp6 miliar dari para pemohon izin dan rekanan proyek.
“Kasus suap dan gratifikasi Rita Widyasari telah berkekuatan hukum tetap,” ungkap Febri. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...