hut

Warga Lereng Gunung Lawu Siaga Satu Hadapi Harimau

Editor: Koko Triarko

SOLO – Belum diketahui secara pasti penyebab teror harimau Gunung Lawu yang menyerang ternak warga di Desa Wonorejo, Kecamatan Jatiyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Sudah tiga hari berturut-turut, harimau yang belum diketahui jenisnya itu memangsa 24 kambing milik warga. Anehnya, harimau itu tidak memakan kambing-kambing yang telah dibunuhnya, tetapi hanya meninggalkannya di kandang warga.
Pada hari keempat, yakni Jumat (23/11) malam hingga Sabtu (24/11) dini hari, warga Wonorejo masih siaga satu akan adanya serangan harimau susulan. Hal ini lantaran suara auman harimau masih terdengar jelas oleh warga yang tinggal di kaki Gunung Lawu sisi selatan tersebut.
Tak hanya puluhan warga yang berjaga, namun sejumlah aparat keamanan, baik dari TNI maupun POLRI juga telah diterjunkan di permukiman warga.
Kapolsek Jatoyoso, Iptu Subarkah, mengatakan, kondisi Desa Wonorejo belum sepenuhnya aman dari serangan harimau. Sebab, sejak tiga hari lalu, harimau terus mengintai dan memangsa hewan ternak di tiga kandang berbeda milik warga.
Kapolsek Jatoyoso, Iptu Subarkah -Foto: Harun Alrosid
Bahkan, pada hari ketiga, pihaknya telah menerjunkan tiga personel kepolisian untuk berjaga, namun tetap saja harimau kembali menerkam enam kambing milik warga.
“Hari ketiga kemarin kita sudah turunkan personel untuk jaga dengan warga. Harimaunya sepertinya pintar, karena dijaga di bagian atas, dia memangsa di kandang yang ada di bawah,” ujarnya saat dihubungi Cendana News, melalui pesawat telepon, Sabtu (24/11/2018) siang.
Lebih lanjut, Iptu Subarkah menjelaskan, pada hari ke empat pihaknya bersama warga tidak ingin kembali kecolongan dengan serangan harimau tersebut.
Pihaknya pun menerjunkan personel lebih banyak lagi dan di-back up personel dari Koramil Jatiyoso. Patroli gabungan dilakukan untuk pengamanan hewan ternak warga dari serangan harimau tersebut.
Sejak malam sekitar pukul 21.00-03.30 WIB, tim gabungan yang dibantu warga tidak menemukan adanya korban kambing susulan.
“Hanya saja, saat malam itu kita terus mendengar suara auman harimau. Lokasinya sekitar cekungan bukit yang sebelumnya kita prediksi sebagai sarangnya. Kebetulan kalau malam di sini, karena kampung dan lereng bukit suasanya sunyi dan suaranya bisa terdengar jelas,” urai Kapolsek.
Upaya menghalau teror harimau ini juga menggunakan peralatan tardisonal. Selain kentongan, warga juga membuat suara letupan dari bambu atau long bumbung. Hasilnya cukup efektif, harimau mampu dihalau untuk tidak mendekati area permukiman, dan hanya mengeluarkan suara auman dari kejahuan.
“Untuk personel yang kita turunkan lima anggota dan dua personil dari Koramil Jatiyoso,” jelasnya.
Kendati malam keempat ancaman harimau mampu dihalau, pihaknya hari ini akan melakukan koordinasi dengan sejumlah lembaga terkait, untuk merumuskan langkah terbaik selanjutnya.
Pihaknya juga melibatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam  (BKSDA), pihak desa terkait dan instansi pendukung untuk membuat langkah strategis.
Salah satunya adalah sosialisasi jaga lingkungan dan alam, agar hewan yang ada di dalamnya tidak terusik. Termasuk upaya untuk meminimalisir adanya pembalakkan hutan atau pembukaan lahan baru serta perburuan, agar hewan buas tidak lagi turun dipermukiman.
“Untuk saat ini, yang difokuskan bagaimana memberikan pemahaman kepada masyarakat agar sama-sama menjaga hutan, menjaga alam. Jika ada pembukaan hutan untuk tidak dilakukan. Termasuk juga semua jenis perburuan, kalau misal  babi hutan banyak yang diburu, maka harimau tidak punya sumber makanan lagi. Yang ada justru menyerang kambing warga,” pungkasnya.
Lihat juga...